
Dodi meraih tangan Arini dan lelaki itu mulai tampak emosi. "Jauhi Hendra! Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu soal itu, Arini!" ketusnya.
Arini segera berbalik. "Memangnya Mas Hendra kenapa, Mas? Dia laki-laki yang baik dan tidak segan membantuku di saat aku membutuhkan bantuannya," jawab Arini tidak mau kalah.
"Ya, karena dia memiliki niat terselubung dari kebaikannya itu. Dia menginginkan kamu, Arini! Aku bisa membaca dari gelagat dan sikapnya terhadapmu. Jadi, turuti saja perintahku! Jwuhi Hendra," kesal Dodi karena Arini mulai berani membangkang perintahnya.
Arini tersenyum sinis kepada Dodi kemudian meraih menarik kembali tangannya dengan kasar. "Bagaimana jika aku tidak mau?!"
"Kamu!"
Dodi mengangkat tangannya ke udara dan tertahan di sana. Napas lelaki itu turun naik dan wajahnya terlihat memerah saat itu. Di puncak kemarahannya, beruntung Dodi masih bisa mengontrol emosi agar tidak main tangan kepada Arini.
Arini menunggu tangan lelaki itu menyentuh wajahnya. Wanita itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan pergi malam itu juga jika Dodi berani main tangan terhadap dirinya.
"Pukul, Mas! Ayo, pukul!" Arini menepuk-nepuk pipinya sendiri hingga memerah. "Baru segitu saja Mas sudah ingin memukulku, padahal Mas hendra hanya berniat membantuku. Lalu apa kabarnya denganmu yang selama ini berkhianat di belakangku, Mas? Pernahkah Mas memikirkan bagaimana perasaanku?" kesal Arini yang kemudian segera beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Dodi terdiam dan kembali menarik tangannya yang tadi sempat tertahan di udara. Bibirnya bergetar dan kini wajahnya pun berubah menjadi sendu. Ucapan Arini barusan membuat dirinya kembali mengingat kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan terhadap wanita itu. "Maafkan aku, Arini," gumamnya kemudian.
Arini kembali ke kamarnya kemudian mengunci pintu tersebut dari dalam agar tidak ada sesiapapun yang masuk ke dalam ruangan itu, termasuk Dodi.
Sementara itu.
Dodi melangkah gontai menuju kamar. Ia bingung harus tidur di kamar mana. Apakah kamarnya Arini atau kamarnya bersama Anissa saat ini. Dodi berdiri di antara kedua kamar dan hatinya benar-benar dilema.
Tiba-tiba saja pintu kamar Anissa terbuka dan tampaklah wanita itu dengan lingerie seksinya berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lebar menatap Dodi. "Mas, sebaiknya kita tidur, yuk! Lagi pula Azkia juga sudah tidur terlelap," ucap Anissa sembari meraih tangan lelaki itu.
"Mas," ucap Anissa sembari meletakkan tangannya ke atas paha lelaki itu kemudian mengelusnya dengan lembut.
Sebagai lelaki normal, hasrat Dodi tiba-tiba bangkit. Bulu halus yang tumbuh di sekujur tubuhnya kini berdiri dengan tegak. Tidak hanya sampai di situ, sekarang Anissa mencoba melepaskan kancing kemeja lelaki itu sambil sesekali menciumi leher serta wajahnya dengan lembut. Bahkan bibir tipis Dodi pun tidak lepas dari serangan Anissa.
Setelah semua kancing kemeja Dodi terlepas, Anissa mendorong pelan tubuh lelaki itu hingga terbaring di atas tempat tidur mereka. Dodi benar-benar larut dalam hasratnya dan ia benar-benar lupa bagaimana perasaan Arini saat ini.
__ADS_1
Pemanasan yang diciptakan oleh Anissa membuat Dodi seolah-olah melayang ke langit ke tujuh. Wanita itu dengan lincahnya memberikan sentuhan demi sentuhan lembut ke tubuh Dodi. Hingga akhirnya Dodi pun terbuai dan berniat mengambil alih permainan Anissa.
Ia membalikkan tubuh Anissa kemudian menindihnya. Tanpa bicara sepatah katapun, Dodi mulai menyerang tubuh wanita itu. Seluruh area-area pribadi Anissa tak luput dari permainan Sang Suami. Lenguhan dan dessahan keluar dari bibir Anissa yang kini dipoles dengan lipstik berwarna merah merona.
Namun, ketika Anissa dan Dodi sudah bersiap ingin memulai percumbuan panas mereka, tiba-tiba saja bayangan Arini melintas di pikiran lelaki itu. Dodi menghentikan aksinya, tubuhnya mendadak lunglai dan hasratnya yang sudah berada di puncak ubun-ubun, sirna entah kemana.
"Maafkan aku, Anissa! Aku tidak bisa," lirih Dodi sembari melepaskan tubuh Anissa dan sekarang lelaki itu duduk di tepian tempat tidur sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Anissa tidak terima, ia bangkit dari posisinya kemudian duduk di samping lelaki itu dengan wajah kesal. "Kenapa, Mas? Kenapa tidak bisa? Bukankah sekarang aku adalah istri sahmu? Aku juga punyak hak yang sama seperti Mbak Arini," kesal sambil menatap lekat wajah Dodi yang tampak murung.
"Diamlah! Jangan pernah samakan dirimu dengan Arini karena biar bagaimanapun kalian tidak akan pernah sama," sahut Dodi dengan kesal.
Dodi bergegas bangkit kemudian pergi dari kamar itu. Sementara Anissa tidak bisa menahan emosinya. Ia terus menghardik dan mengumpat kasar di dalam ruangan itu.
Dodi kembali melangkah gontai menuju kamar Arini. Namun, ia hanya terpaku di sana tanpa melakukan apapun. Lelaki itu bahkan tidak berani mengetuk pintu kamar tersebut.
__ADS_1
...***...