Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 68


__ADS_3

"Benar 'kan dugaanku! Aku yakin Hendra tahu di mana Arini berada dan sekarang dia sudah tidak bisa lagi mengelak! Karena aku berhasil memergoki mereka berduaan di tempat ini," kesal Dodi sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Dengan kesabaran yang masih tertampung di hatinya, Dodi membiarkan Arini dan Hendra yang sedang asik menikmati hidangan mereka di cafe tersebut bahkan hingga selesai. Setelah membayar makanan tersebut, Hendra dan Arini pun segera keluar dari tempat itu dengan perut kenyang.


"Terima kasih banyak ya, Mas. Sudah memberikan pengalaman pertama buatku memasuki tempat yang semewah ini," tutur Arini sembari mengikuti langkah Hendra.


"Sama-sama, aku senang jika kamu senang," jawab Hendra.


Namun, tanpa disadari oleh Hendra dan Arini, ternyata Dodi sudah berada tepat di hadapan mereka dengan wajah memerah menahan amarahnya.


"Hai, Arini! Apa kabar?" sapa Dodi sambil menyeringai menatap pasangan itu.


"Mas Dodi?" pekik Hendra dan Arini secara bersamaan.


"Bagus ya, Arini! Ternyata seperti inilah dirimu yang sebenarnya. Di balik sifatmu yang lemah lembut, tersimpan sebuah kebusukan. Kamu bahkan berani pergi dariku dan memilih berhubungan dengan lelaki lain padahal saat ini kamu masih berstatus sebagai istri sahku!" kesal Dodi dengan setengah berteriak.


Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu mulai memperhatikan perdebatan Dodi, Hendra dan Arini. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sengaja berhenti dan mendengarkan perbincangan ketiga orang tersebut.


"Apa yang terjadi pada hubungan kita, jangan pernah kamu kaitkan kepada Mas Hendra, Mas. Semua yang terjadi di antara kita, murni akibat perbuatanmu sendiri," tegas Arini.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di rumah! Dan buat kamu, Hendra! Tunggulah kedatangan para Polisi yang akan menjemputmu sebentar lagi," ucap Hendra sembari menarik tangan Arini dengan kasar agar segera mengikutinya.


"Lepaskan aku, Mas. Tanganku sakit!" Arini mencoba melepaskan cengkraman erat Dodi yang kini melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu dengar itu, Mas Dodi! Lepaskan Arini, dia tidak mau ikut denganmu," ucap Hendra yang mencoba menolong Arini dari cengkeraman lelaki itu.


Dodi yang akhirnya tersulut emosi, melepaskan cengkramannya dengan kasar. Ia menghempaskan tangan Arini kemudian berjalan ke arah Hendra dengan perlahan.


"Jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku karena aku bisa saja melukaimu, Hendra!" geram Dodi sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


"Maaf, aku sama sekali tidak ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian. Tapi, aku tidak akan segan-segan untuk ikut campur jika kamu berani menyakiti Arini," tegas Hendra sembari mempersiapkan dirinya jika Dodi tiba-tiba menyerang dirinya tanpa aba-aba.


"Kurang ajar!"


Hendra pun tidak mau kalah. Kali ini ia tidak akan pernah membiarkan Dodi memukulnya lagi. Setelah berhasil melepaskan tinju Dodi yang hampir saja mengenai pipi sebelah kirinya, Hendra pun membalas Dodi dengan meluncurkan sebuah kepalan tangan menuju wajah lelaki itu dan ....


Bugkh!


Kepalan tangan Hendra tepat mengenai wajah Dodi dan membuat lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang. Dodi semakin kesal, ia mengelus wajahnya yang sakit dengan kasar dengan tatapan tajam masih tertuju pada tetangganya itu.

__ADS_1


"Awas kamu, Hendra!" kesalnya.


Dodi memperhatikan sekelilingnya dan juga orang-orang sudah mulai berkerumun melihat perkelahiannya bersama Hendra. Karena malu, akhirnya Dodi memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Namun, sebelum pergi, ia sempat mengancam Arini dan Hendra.


"Masalah kita belum selesai, Hendra! Dan untuk kamu, Arini! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Bahkan sampai ke ujung dunia pun pasti akan kucari!"


"Sebaiknya lupakan aku, Mas! Urus saja keluarga barumu. Dan soal perceraian kita, kamu tidak usah pusing-pusing, aku yang akan urus semuanya," tegas Arini.


Dodi tersenyum sinis. "Tidak akan semudah itu, Arini. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu," jawab Dodi dengan mantap.


Dodi melenggang pergi sambil mengelus wajahnya yang sakit. Beberapa kali terdengar umpatan kasar yang keluar dari bibir lelaki itu. "Kurang ajar! Awas saja kalian! Aku berjanji, tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku!"


Sementara Arini dan Hendra masih terdiam sambil menatap Dodi yang kini sedang menaiki motor maticnya. Ya, lelaki itu sudah tidak memiliki mobil lagi. Mobil yang dulu ia kredit, sudah ia over kepada orang lain karena tidak sanggup membayar cicilannya lagi.


Setelah Dodi pergi, Hendra dan Arini pun bergegas pergi dari cafe tersebut.


"Bagaimana ini, Mas Hendra. Aku takut Mas Dodi melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu," ucap Arini dengan wajah cemas.


"Kamu tenang saja, Arini. Aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku sangat yakin Mas Dodi tidak akan senekat itu," jawab Hendra.

__ADS_1


Arini menghela napas berat. "Ya, semoga saja."


...***...


__ADS_2