
Setelah Anissa masuk ke dalam kamarnya, Dodi memanggil Bi Surti untuk mengatakan maksudnya. Bahwa ia akan memberhentikan wanita paruh baya itu karena sudah tidak sanggup menggajinya.
"Maafkan saya, Bi Surti. Sebenarnya saya pun tidak ingin melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi. Saat ini kondisi kami sudah tidak seperti dulu dan jujur saya sudah tidak bisa menggaji Bi Surti lagi," ucap Dodi dengan wajah sendu menatap Bi Surti yang kini duduk di hadapannya dengan wajah sedih.
Wanita paruh baya itu tampak sedih karena selama ini Bu Nining, Dodi dan Arini sudah seperti keluarganya sendiri. Ia sedih jika harus berpisah dengan keluarga itu.
"Tidak apa-apa, Den. Saya juga ingin minta maaf jika selama saya bekerja di sini membuat kalian kesal dan kecewa," tutur Bi Surti yang kemudian menghampiri Dodi serta Bu Nining yang masih terdiam dengan raut wajah sedih.
Bi Surti pun segera kembali ke kamar dan mulai mengemasi barang-barang miliknya. Sementara Dodi mulai menawarkan mobil satu-satunya di situs jual beli online untuk di-over kredit.
Setelah selesai berkemas, Bi Surti melangkah gontai menuju kamar Arini, di mana wanita itu masih mengurung dirinya di dalam ruangan tersebut. Ketika melewati kamar Anissa, Bu Surti mendengar wanita itu tengah menangis histeris sambil berteriak-teriak kesal.
"Ya, ampun! Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini?" gumam Bi Surti.
Kini Bi Surti tiba di depan pintu kamar Arini dan mulai memanggil-manggil nama wanita itu sambil mengetuk pintu tersebut dengan pelan.
__ADS_1
"Non Arini, ini saya Bi Surti," ucap Bi Surti pelan.
Arini yang sedang sibuk berkemas di dalam kamar, segera menghampiri pintu setelah mendengar suara Bi Surti di depan kamarnya. "Ya, Bi. Sebentar."
Setelah pintu kamarnya terbuka, tampak Bi Surti yang kini berdiri di hadapan Arini dengan wajah sedih. Arini yang menyadari ekspresi Bi Surti saat itu, segera menarik masuk Bi Surti ke dalam kamarnya.
"Bi Surti kenapa? Kenapa wajah Bibi terlihat sedih?" tanya Arini sembari menuntun wanita paruh baya itu dan mendudukkannya ke tepian tempat tidur.
"Bibi di pecat, Non. Den Dodi bilang bahwa ia sudah tidak bisa lagi menggaji Bibi," lirih Bi Surti. "Sebenarnya bukan itu yang membuat Bibi sangat sedih, tetapi Bibi sedih karena harus berpisah dari kalian, terutama kamu, Non Arini," lanjut Bi Surti dengan mata berkaca-kaca.
"Katanya Den Dodi turun jabatan dan sekarang gajinya sudah tidak sebesar dulu. Cobalah Non dengar, Non Anissa bahkan masih menangis di dalam kamarnya karena tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Den Dodi," tutur Bi Surti lagi.
"Ya, Tuhan." Arini menghembuskan napas berat. Walaupun ia masih menyimpan rasa kecewa yang paling dalam kepada lelaki itu. Namun, biar bagaimanapun ia tetap ikut sedih setelah mendengar apa yang terjadi pada Dodi dan keluarganya.
"Bibi hanya ingin berpamitan kepada Non Arini, mungkin saja ini pertemuan kita yang terakhir kalinya sebab setelah ini Bibi akan kembali ke kampung halaman," ucap Bi Surti yang kemudian memeluk tubuh Arini dengan erat sambil terisak.
__ADS_1
Begitu pula Arini, ia pun sangat sedih karena harus berpisah dengan Bi Surti yang selama ini menjadi teman pelipur laranya. "Sebenarnya Arini pun sudah berencana ingin pergi dari sini, Bi. Besok pagi-pagi sekali, Arini sudah harus berangkat dan pindah ke kontrakan. Arini tidak sanggup harus tinggal satu atap bersama istri muda Mas Dodi," lirih Arini sembari melerai pelukannya bersama Bi Surti.
Bi Surti menyeka air matanya kemudian tersenyum kepada Arini. "Walaupun terdengar sangat jahat, tetapi Bibi setuju dengan keputusan Non Arini. Tidak enak tinggal satu atap bersama istri muda, Non. Kamu hanya akan semakin tertekan, apa lagi dengan masalah yang mereka hadapi saat ini," sahut Bi Surti.
"Ya, Bi. Bibi benar."
Setelah puas berbincang bersama Arini, Bi Surti pun segera pamit sebab ia akan pergi hari itu juga. Sepeninggal Bi Surti, Arini pun kembali berkemas. Memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam tas dan akan ia bawa pergi bersamanya, esok pagi-pagi sekali.
Malam itu, Dodi kembali tidur di sofa yang ada di ruang televisi sebab baik Anissa maupun Arini sama-sama tidak bisa didekati. Arini yang terlanjur kecewa berat dengan pengkhianatan yang ia lakukan. Sementara Anissa kecewa setelah mendengar Dodi harus turun jabatan.
Sedangkan Bu Nining semakin frustrasi karena si kecil Azkia saat ini ada bersamanya. Bayi mungil itu begitu rewel dan membuat Bu Nining tidak bisa tidur dan harus menemani bayi mungil itu hampir sepanjang malam.
"Ya ampun, Dodi! Kamu hanya menambah beban Ibu, lihatlah bayimu ini! Dia bahkan tidak mau tenang sedangkan Ibunya enak-enakan tidur di dalam kamarnya," gerutu Bu Nining dengan raut wajah yang tampak kacau.
...***...
__ADS_1