Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 72


__ADS_3

Bu Nining bergegas menuju kamar yang dulunya ditempati oleh Dodi dan Arini dan sekarang ditempati oleh Dodi dan istri barunya dengan alasan ruangan itu lebih besar dan lebih nyaman untuk Azkia.


"Dod! Dodi! Buka pintunya, Ibu ingin masuk," ucap Bu Nining sembari mengetuk pintu kamar Dodi dengan cukup keras.


"Dodi yang baru saja selesai mandi, segera menghampiri pintu dan membukanya. "Ada apa, Bu? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan?" sahut Dodi.


Dodi kembali masuk ke dalam ruangan itu kemudian meraih baju serta celana kerjanya dari dalam lemari kayu bekas milik Arini dulu. Ia sudah terlalu pusing dengan semua permasalahannya dan sekarang ia ingin cepat-cepat berangkat ke kantornya.


"Hush, kamu ini!" protes Bu Nining. "Siapa yang ingin membuat keributan? Ibu cuma ingin kasih tahu, tuh istrimu pergi dengan pakaian yang sangat tidak pantas dikenakan oleh seseorang yang sudah bersuami seperti dia. Masa kamu sebagai suaminya, membiarkan saja?" kesal Bu Nining.


Dodi menghembuskan napas berat. Namun, ia tetap melanjutkan kegiatannya saat itu. "Sudahlah, Bu. Itu lah yang tidak aku suka dari Anissa sejak dulu. Dia itu susah diatur dan juga tidak bisa dibilangin."


Bu Nining menekuk wajahnya setelah mendengar jawaban dari anak lelakinya itu. "Wanita itu harus dididik lebih keras lagi, Dodi! Jangan sampai nantinya kamu menyesal," ucap Bu Nining lagi.


"Bu, Anissa itu sudah bukan anak-anak lagi. Akan sulit mengubah kelakuannya, beda halnya dengan Arini. Arini adalah wanita yang penurut. Kalau Anissa, ya ... seperti itulah."


Bu Nining terdiam dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Ia sedih ketika teringat akan Arini. Kepergian wanita itu membuatnya tersadar akan kesalahannya selama ini.


"Ibu sedih, Dod. Jika Ibu teringat bagaimana sikap Ibu selama ini sama Arini. Selama ini Ibu tidak pernah berbuat baik padanya. Bahkan Ibu sering sekali menghina dan mencaci maki dirinya. Dan sekarang karma sudah datang kepadaku dengan menggantikan sosok Arini dengan Anissa. Tak ada lagi menantu baik dan penurut, yang hanya ada menantu yang suka membantah dan juga keras kepala."

__ADS_1


"Sudahlah, Bu. Nasi sudah jadi bubur dan jika nanti ada kesempatan untuk meminta maaf kepadanya, Ibu meminta maaflah. Tidak ada salahnya meminta maaf, walaupun usia Ibu jauh lebih tua darinya," tutur Dodi, yang masih memasang kancing kemeja kerjanya.


Bu Nining mengangkat kepalanya kemudian menatap Dodi yang masih berdiri di depan cermin yang terpasang di lemari kayu tersebut.


"Dodi, apakah kamu tidak mempunyai keinginan untuk menjemput Arini kembali? Kamu masih suami sahnya, Dod. Kamu masih berhak atas dirinya."


Dodi yang sudah selesai merapikan pakaiannya, duduk di samping Bu Nining sambil tersenyum getir.


"Sebenarnya aku sudah mencobanya, Bu. Tapi sepertinya Arini sudah tidak ingin kembali padaku. Lagi pula aku masih punya rasa malu. Aku malu memaksakan kehendakku kepadanya mengingat bagaimana perbuatanku selama ini dibelakang Arini."


Bu Nining kembali membuang napas beratnya dan kini tatapan wanita paruh baya itu tertuju pada Azkia yang masih tertidur nyenyak. "Ya, sekarang kita hanya tinggal terima nasib, Dod. Karena nila setitik rusaklah susu sebelanga."


"Ya, Dod. Hati-hati di jalan, ya. Lagi pula Ibu juga tidak bikin sarapan. Tidak ada apapun yang bisa dimasak. Yang ada hanya nasi saja, itu pun sisa kemarin sore," sahut Bu Nining.


Dodi mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak percaya kondisi ekonominya semakin buruk setelah kepergian Arini. "Benar kata orang. Rejeki suami itu datang dari doa istri yang sholehah. Dan setelah istri sholehahku sakit hati kemudian memilih pergi, maka rejekiku pun semakin surut, seakan di cabut begitu saja," tutur Dodi dengan wajah sedih.


Sementara itu.


Hendra sedang asik memanaskan mobilnya dan tiba-tiba Anissa menghampiri pagar yang menjadi pembatas antara kediamannya dan lelaki itu.

__ADS_1


"Hai, Mas Hendra. Apa kabar?" Anissa menyunggingkan senyuman semanis mungkin kepada Hendra yang kini menoleh ke arahnya.


Hendra menautkan kedua alisnya melihat penampilan Anissa saat itu. "Baik," jawab Hendra dengan singkat dan lelaki itu tampak enggan bicara bersama Anissa.


"Mas, boleh aku numpang ke depan?" tanya Anissa lagi sambil menonjolkan kedua bulatan kenyalnya agar terlihat jelas oleh Hendra.


Hendra segera memalingkan wajah dan kembali fokus pada mobilnya. "Hanya di depan saja, kan? Soalnya aku sudah terlambat dan aku pun tidak enak sama Mas Dodi jika kamu numpang denganku. Aku tidak ingin Mas Dodi salah paham lagi," tuturnya.


"Ya, hanya sampai di depan saja," sahut Anissa dengan wajah semringah.


Hendra segera masuk ke dalam mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Anissa. "Masuklah," titahnya.


Dengan senang hati Anissa pun masuk kemudian duduk di samping Hendra yang sedang duduk di depan kemudi.


"Terima kasih, Mas. Tadi aku janjian sama temanku, tapi sampai sekarang ia tidak juga menjemputku," ucap Anissa lagi, tatapan wanita itu tidak lepas dari wajah Hendra yang fokus ke depan.


"Oh," sahut Hendra dengan malas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2