
"A-Arini hamil? Tapi bagaimana bisa, bukan kah selama ini dia ...."
Bu Nining terlihat kebingungan setelah mendengar kabar menggembirakan tentang Arini tersebut. Wanita paruh baya itu masih tidak percaya bahwa Arini hamil. Selama ini ia sangat yakin bahwa Arini mandul dan tidak akan pernah bisa memberikan keturunan kepada siapapun yang menjadi suaminya.
"Bisa saja, Bu. Jika Tuhan sudah berkehendak, apa pun bisa saja terjadi. Seperti kehamilan Arini sekarang, mungkin sudah saatnya Tuhan memberikan sebuah kepercayaan dan menitipkan mahluk mungil itu ke dalam rahimnya," tutur Bu Ria sembari mengelus lembut pundak Bu Nining yang masih syok dengan berita itu.
"Lagi pula Arini pun pernah bercerita kepada saya bahwa selama ini kondisi kandungannya memang baik-baik saja. Dan mungkin saat ia masih bersama Dodi, dia memang belum diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk di titipkan mahluk mungil itu," lanjut Bu Ria.
Bu Nining menghela napas berat. Ia tidak tahu harus senang atau kah harus bersedih setelah mendengar berita kehamilan Arini yang benar-benar tidak terduga itu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Bu Nining pun merasa sangat menyesal karena dulu sering sekali menghina dan menghardik Arini, mengatakan bahwa Arini mandul dan tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.
Bu Nining duduk di sofa dengan tatapan menerawang. "Jika ternyata benar Arini bisa hamil, apa itu artinya Dodi lah yang selama ini bermasalah dengan kesuburannya?"
Bu Ria kembali mengelus lembut pundak Bu Nining sambil menggeleng pelan. "Jangan berkata seperti itu, Bu. Kita berpikir positif saja, siapa tahu saat mereka masih bersama, Tuhan memang belum memberikan kesempatan itu kepada mereka."
Tatapan Bu Nining masih menerawang. Ia mencoba mengingat-ingat silsilah seluruh keluarganya serta keluarga dari pihak mendiang suaminya. Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja Bu Nining memekik dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bu. Ibu kenapa?" tanya Bu Ria dengan alis yang saling bertaut. Ia heran kenapa wanita paruh baya itu tiba-tiba saja memekik dan sekarang wajahnya pun terlihat sedih.
"Apa mungkin Dodi mandul? Seingatku, kakak dari ayah mertuaku mandul dan tidak bisa memiliki keturunan. Apa kah mungkin Dodi mengikuti jejaknya?" ucap Bu Nining dengan wajah cemas.
Bu Ria diam saja. Ia tidak berani berkomentar, takut Bu Nining tersinggung atau malah menambah kecemasan wanita paruh baya itu.
***
Seminggu kemudian.
__ADS_1
Pesta syukuran itu pun di gelar di kediaman mewah Tuan Malik. Semua tamu sudah berdatangan, baik itu tamu undangan dari pihak Tuan Malik, maupun dari pihak Arini.
Tidak ketinggalan Tia dan Putri yang juga berhadir ke pesta meriah tersebut. Bahkan acara itu tidak kalah meriah dari pesta pernikahan mereka dahulu.
"Selamat ya, Ayah. Aku turut senang mendengarnya!" ucap Tia dengan mata berkaca-kaca.
Tuan Malik tersenyum. "Terima kasih, Tia, karena sudah bersedia meluangkan waktu untuk hadir ke pesta sederhana ini," sahutnya.
Kini tatapan Tia beralih kepada Arini yang tampil cantik dengan gaun buatan designer ternama, Vani Irawan. Lelaki bertulang lunak yang kini sedang asik menikmati berbagai hidangan di mejanya.
"Selamat ya, Arini. Sehat-sehat terus ya, sampai hari H-nya," ucap Tia sambil mengelus perut Arini dengan lembut.
"Aamiin. Terima kasih, Tia."
"Ngomong-ngomong, sudah berapa minggu?" tanya Tia sembari melihat ke arah perut Arini.
"Tante, Tante! Kata Mommy, perut Tante ada dedenya, ya?" celetuk Putri yang kini berdiri di samping Arini.
"Iya, Putri sayang. Ada dedenya dalam perut Tante," sahut Arini sambil mengelus lembut puncak kepala Putri.
"Nanti kalau dedenya sudah lahir, boleh 'kan Putri ajak bermain?"
"Ya, tentu saja, Sayang!" sahut Arini.
Tuan Malik tersenyum mendengar celetukan Putri. Ternyata bukan hanya dirinya yang tidak sabar menanti kehadiran bayi mungil yang sedang tumbuh di rahim Arini, tetapi Putri pun sama.
__ADS_1
"Putri bisa datang kapan saja ke rumah Opa buat nemenin dede bayinya. Kalau perlu, Opa yang jemput Putri," ucap Tuan Malik yang kini berjongkok di hadapan gadis mungil tersebut.
Putri tersenyum lebar. "Janji ya, Opa!"
"Ya. Opa janji."
"Ayo, Putri. Bukan kah katanya kamu sudah lapar? Sebaiknya kita makan dulu, yuk!" Tia mengajak Putri untuk mencicipi berbagai hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
"Ya, Mom. Putri sudah lapar," sahut Putri sembari meraih telunjuk Tia kemudian menggiringnya ke meja saji.
Sepeninggal Tia dan Putri, kini giliran pasangan Suci dan Hendra yang berdiri di hadapan mereka. Setelah berbasa-basi dan mengucapkan selamat, mereka pun ingin segera beranjak. Namun, sebelum Suci melangkah pergi, Arini sempat berbisik pada sahabatnya itu.
"Ci, coba tengok ke arah sana!" Arini menunjuk ke salah satu meja saji.
Suci segera melihat ke arah yang ditunjuk oleh Arini. Ada seseorang yang tidak asing di matanya. Suci tersenyum lebar setelah tahu siapa yang berdiri di belakang meja tersebut.
"Bukan kah itu Mamang?"
"Ya. Itu Mamang nasi goreng langganan kita. Kamu bisa mencicipi nasi goreng buatan beliau di sini, gratis!" celetuk Arini sambil tertawa pelan.
"Wah, kebetulan sekali! Aku sudah kangen sama nasi gorengnya si Mamang. Aku samperin, ah!"
"Ya, samperin dah!"
Suci mengajak Hendra menghampiri meja saji, di mana nasi goreng buatan Mamang ikut menjadi menu utama di acara syukuran tersebut. Tanpa banyak bicara, Suci mengambil dua buah porsi nasi goreng spesial buatan Mamang kemudian menikmatinya bersama Hendra.
__ADS_1
...***...