
Setibanya di dapur, Bi Surti segera meraih si kecil Azkia dari pelukan Arini. "Biar Azkia bersama Bibi, Non. Nona sarapan aja dulu," ucap Bi Surti.
"Ah, iya. Titip sebentar ya, Bi." Arini segera duduk di kursi yang letaknya di samping Dodi. Sementara Anissa duduk berdampingan dengan Bu Nining yang juga sudah duduk di sana.
Bu Nining tampak masih kesal. Wanita paruh baya itu bahkan tidak ingin membuka suaranya sedikitpun. Walaupun Dodi sudah berkali-kali memancing Bu Nining untuk bicara, tetapi ia tetap diam dan fokus pada makanan yang ada di piringnya.
Begitu pula Anissa, wanita itu hanya diam sambil sesekali melirik Dodi yang selalu bersikap manis kepada Arini. Tidak berselang lama, sarapan mereka pun selesai. Dodi adalah orang yang pertama kali menyelesaikan sarapannya. Ia bergegas pergi setelah berpamitan kepada Arini dan juga Bu Nining.
"Hati-hati di jalan ya, Mas. Dan jangan pulang terlambat seperti kemarin, ya!" ucap Arini kepada Dodi yang bersiap di depan kemudinya.
"Ya, Mas, janji!" Dodi melambaikan tangannya kepada Arini kemudian segera melajukan mobilnya ke jalan raya.
Setelah mobil yang dikemudikan oleh Dodi menghilang di kejauhan, Arini pun kembali masuk ke dalam rumah. Tepat di saat itu ia berpapasan dengan Anissa yang siap berangkat menuju kos-kosan sahabatnya.
"Aku pergi dulu ya, Mbak. Aku berjanji tidak akan lama, setelah mengambil barang-barangku, aku akan segera kembali ke sini," ucap Anissa.
"Baiklah. Ngomong-ngomong kamu naik apa ke sana?" tanya Arini.
"Aku sudah pesan ojek online, Mbak. Dan sebentar lagi ojeknya pasti datang," jawab Anissa sambil tersenyum hangat.
"Oh, ya, sudah kalau begitu." Arini kembali melangkahkan kakinya. Ia mencari keberadaan sosok Bi Surti, di mana si kecil Azkia masih bersama pelayannya itu. Sementara Anissa berjalan menuju halaman dan berdiri di depan pagar, menunggu tukang ojek online yang sudah ia pesan.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Anissa melihat Bu Nining yang sedang berjalan ke arahnya. Wanita paruh baya itu terlihat cantik dengan gamis yang ia beli beberapa waktu lalu seharga 500 ribu satu lembar.
"Bu," sapa Anissa sambil mengangguk pelan.
Bu Nining tidak menjawab sapaan Anissa. Namun, sorotan tajam wanita paruh baya itu tertuju pada Anissa. Anissa kembali menyunggingkan sebuah senyuman hangat kemudian mencoba berbasa-basi dengannya.
"Bu Nining, gamis yang Ibu kenakan sangat cantik. Pasti harganya mahal," lanjut Anissa.
Bu Nining yang tadinya ingin berlalu tanpa mempedulikan wanita itu, tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Anissa.
"Tidak juga. Kalau menurutku harganya standar lah, ada harga ada kualitas," jawab Bu Nining.
Bu Nining tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Anissa. "Ah, kamu bisa aja. Aku mau ke rumah teman arisanku, ada acara selamatan di sana. Ya, sudah. Aku berangkat dulu, nanti terlambat lagi," sahut Bu Nining yang kembali melangkahkan kakinya menuju kediaman sahabatnya itu.
"Ya, Bu Nining. Hati-hati di jalan ya, Bu." Anissa melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada Bu Nining yang sudah mulai menjauh.
"Ternyata wanita itu asik juga, beda sama Arini," gumam Bu Nining sambil tersenyum memperhatikan penampilan dirinya sendiri.
Beberapa menit setelah kepergian Bu Nining, akhirnya tulang ojek online yang dipesan oleh Anissa pun tiba. Anissa bergegas naik kemudian melaju bersama lelaki itu.
Seminggu kemudian.
__ADS_1
Semakin hari, Anissa semakin dekat dengan Bu Nining. Anissa begitu pandai mencuri hati wanita paruh tersebut dengan cara memuji-muji penampilannya. Dan satu hal lagi yang membuat Arini tercengang. Ternyata Anissa tidak sepolos yang ia bayangkan sebelumnya.
Seperti hari ini, Anissa mengenakan baju kaos ketat dengan celana legging di atas lutut yang juga tidak kalah ketatnya. Tonjolan serta lekuk tubuh Anissa terlihat dengan sangat jelas. Apa lagi wanita itu tidak segan-segan menampakkan keindahan tubuhnya di hadapan Dodi.
"Anissa, bolehkah kita bicara sebentar?" panggil Arini kepada Anissa yang sedang menggendong Azkia di depan rumahnya.
"Ya, Mbak. Tunggu sebentar," jawab Anissa. Wanita itu segera masuk ke dalam rumah kemudian duduk di sofa ruang depan, di mana Arini sudah menunggunya di sana.
"Ya, Mbak. Ada apa?" tanya Anissa sambil tersenyum hangat menatap Arini.
"Begini Anissa, mohon jangan tersinggung. Aku cuma ingin mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatiku selama ini. Ehm, Nis ... bisakah kamu mengubah cara berpenampilanmu sedikit saja? Bukan apa-apa, hanya saja menurutku pakaian yang kamu kenakan terlalu ketat dan memperlihatkan bentuk tubuhmu," tutur Arini dengan lembut agar wanita itu tidak tersinggung dengan ucapannya.
Anissa menautkan kedua alisnya heran. "Memangnya kenapa dengan pakaianku, Mbak? Aku rasa pakaianku baik-baik saja, ya setidaknya aku tidak memperlihatkan area terlarangku, 'kan?" jawabnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Arini menghembuskan napas berat. "Memang benar, tapi lekuk tubuhmu terlihat dengan sangat jelas. Di sini aku memperingatkan dirimu sebagai seorang Kakak, Nis. Karena aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri," tutur Arini.
Anissa terdiam sejenak kemudian ia pun kembali tersenyum. "Iya, baiklah. Nanti aku akan mengubah cara berpakaianku dengan yang lebih sopan dan juga tertutup," jawabnya.
...***...
Maaf, Author ganti Judul sama Cover ya 🙏🙏🙏 soalnya sejak awal, Author galau sama judulnya 🤭🤭🤭
__ADS_1