
Arini berjalan menuju dapur. Ia ingin mengambil air minum di sana. Ketika melewati ruang televisi, ia melihat Bu Nining dan Anissa tengah asik berbincang di ruangan itu sambil sesekali tertawa kecil.
Tanpa disengaja, Anissa melihat ke arah Arini yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya. Anissa segera memalingkan wajahnya seolah ia tidak pernah melihat Arini dan kembali melanjutkan perbincangannya bersama Bu Nining.
Arini pun meneruskan langkahnya hingga akhirnya ia pun tiba di ruangan itu. Arini menghampiri Bi Surti yang sedang asik mempersiapkan bahan-bahan yang akan ia masak untuk makan malam nanti.
"Bi," sapa Arini kepada Bi Surti sembari meraih sebuah gelas dan mengisinya dengan air mineral yang ada di despenser.
"Non Arini," balas Bi Surti. Wanita paruh baya itu menatap lekat wajah kusut Arini sambil menautkan kedua alisnya.
"Non, kenapa wajah Non Arini kusut begitu?" tanya Bi Surti kemudian.
Arini membawa gelas air minum tersebut ke meja makan dan kemudian ia pun duduk di sana sembari meneguk minumannya. Setelah puas meminum minumannya, Arini meletakkan gelas tersebut ke atas meja makan.
"Bi Surti, duduklah. Aku ingin bercerita sama Bibi," ucap Arini sembari menepuk sebuah kursi kosong yang ada di sampingnya.
"Baiklah, Non." Bi Surti melepaskan pekerjaannya kemudian duduk di sana, sama seperti perintah Arini.
"Bi, tadi aku sempat memergoki Anissa menari-nari di dalam kamarku sambil memeluk serta menciumi kemeja Mas Dodi. Menurutku itu sangat aneh, Bi. Namun, kata Ibu mertuaku, aku lah yang terlalu lebay menanggapinya. Sebab menurut Anissa sendiri, ia melakukan itu hanya karena iseng dan tidak ada maksud apapun. Apa menurut Bibi aku memang lebay?" tanya Arini.
Bi Surti membelalakkan matanya ketika mendengar penuturan Arini. "Astaga, Non! Benarkah itu?" pekiknya. "Kalau menurut Bibi, Non Arini tidak salah. Mungkin jika Bibi berada di posisi Non Arini, Bibi pun akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Non Arini saat ini."
__ADS_1
"Jadi ... aku tidak terlalu berlebih-lebihan 'kan, Bi?" tanya Arini lagi.
"Tentu saja tidak, Non Arini. Hmm, sekarang ketakutan Bibi menjadi kenyataan. Sejak pertama kali Anissa tiba di rumah ini, Bibi sudah memiliki firasat yang tidak baik. Tetapi Bibi tidak berani mengatakannya kepada Non Arini. Bibi takut dibilang sok tahu," tutur Bi Surti.
Arini menghembuskan napas berat. Ya, dia ingat, Bi Surti pernah mewanti-wanti dirinya soal Anissa. Namun, ia tidak menggubrisnya waktu itu.
"Apa aku salah jika aku merasa cemburu, Bi? Jujur, aku cemburu. Aku takut Anissa mempunyai perasaan lain terhadap Mas Dodi," lirih Arini.
Arini menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar sesaat, tetapi beberapa detik berikutnya, ia kembali membuka tangannya. Terlihat Arini tengah menyeka buliran bening yang sempat merembes di kedua sudut matanya.
"Yang sabar ya, Non. Semoga itu tidak akan pernah terjadi," ucap Bi Surti sembari mengelus punggung Arini.
"Ya, Non."
***
Beberapa jam kemudian.
Terdengar suara mobil Dodi memasuki pekarangan rumah mereka. Arini bergegas menghampiri jendela dan mencoba mengintip di sana. Ternyata benar, Dodi baru saja tiba. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Dodi bergegas masuk ke dalam rumah. Ketika melewati ruang televisi, langkah lelaki itu terhenti karena Bu Nining memanggilnya.
"Dodi! Kemarilah, Nak!" panggil Bu Nining yang ternyata masih duduk di sana bersama Anissa.
__ADS_1
Dodi berbalik, tatapannya langsung tertuju pada Anissa yang kini tersenyum manis kepadanya. "Ada apa, Bu?"
"Kemarilah, ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu. Ini penting," ucap Bu Nining lagi.
Dodi pun tidak punya pilihan. Ia berjalan menghampiri Bu Nining kemudian duduk di samping wanita yang sudah melahirkannya itu. "Aku harap ini bukan tentang Arini, Bu. Aku sedang malas membahas masalah apapun itu jika berhubungan dengan istriku," jawab Dodi sambil memasang wajah malas.
Bu Nining meraih tangan Dodi dengan erat agar anak lelakinya itu tidak bisa pergi. "Sayangnya ini memang tentang Arini. Tapi, dengarkanlah sebentar saja, Ibu mohon!"
Dodi menghembuskan napas kasar. Ternyata benar, apa yang ingin dibicarakan oleh Ibunya adalah tentang Arini. Dodi benar-benar malas kalau sudah menyangkut soal Arini. Karena ia yakin apa yang akan ia dengar dari Bu Nining hanyalah tentang kejelekan istrinya.
"Baiklah. Apa?" jawab Dodi dengan malas.
"Begini, Dod. Apapun yang akan Arini bicarakan padamu setelah ini, Ibu harap kamu tidak akan mempercayainya. Istrimu itu sedang kacau, ia tidak bisa membedakan mana yang bercanda dan mana yang serius. Mungkin itu efek kelelahan, karena ia baru saja selesai membantu Bu Ria berkemas rumah," tutur Bu Nining dengan wajah serius menatap Dodi.
"Maksud Ibu apa?" tanya Dodi heran. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bu Nining saat itu.
"Masuklah ke kamarmu dan kamu akan tahu apa maksud Ibu. Pokoknya hanya satu yang Ibu minta, jangan percaya kata-katanya. Istrimu itu sedang kacau karena efek kelelahan," lanjut Bu Nining.
Dodi bangkit dari posisi duduknya kemudian melenggang sambil menggelengkan kepala. "Ah, Ibu. Ada-ada saja," gumamnya sambil melangkah menuju kamarnya.
...***...
__ADS_1