
"Tuan Malik." Arini memberanikan diri untuk menyapa lelaki itu.
Perlahan Tuan Malik mengangkat kepalanya. Ia menatap Arini dan Suci yang sedang berdiri di hadapannya. Mata lelaki itu tampak bengkak dan wajahnya pun memerah akibat kebanyakan menangis hari ini.
"Kalian," sahut Tuan Malik. Lelaki itu menyeka air mata yang masih menggenangi pelupuk matanya kemudian mencoba tersenyum kepada kedua wanita itu. "Duduklah," lanjut Tuan Malik sambil menggeser tubuhnya lebih ke samping lagi agar Arini dan Suci bisa duduk di sampingnya.
"Terima kasih banyak, Tuan." Arini dan Suci pun segera duduk di sana. Untuk beberapa saat suasana di tempat itu menjadi hening. Ketiga orang tersebut larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Arini kembali memberanikan diri untuk bertanya kepada Tuan Malik soal Nyonya Arniz.
"Ehm, Tuan. Bagaimana kondisi Nyonya sekarang?" tanya Arini dengan sangat hati-hati. Ia tahu bahwa lelaki itu tengah hancur dan tidak ingin membuat hatinya semakin hancur.
Tuan Malik membuang napas berat. "Entahlah. Dokter baru saja membawa Arniz ke ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Kita doakan saja semoga operasinya berjalan lancar dan ia bisa kembali lagi bersama kita," sahut Tuan Malik yang kini kembali terisak.
"Aaminn," jawab Arini dan Suci secara bersamaan .
"Arniz, kembali lah!" gumam Tuan Malik, pelan tetapi masih terdengar jelas di telinga Arini. Karena posisi Arini saat itu berada di samping Tuan Malik, ya walaupun masih ada jarak antara dirinya dan lelaki itu.
Tuan Malik mencoba menghentikan isak tangisnya. Ia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi dengan perlahan. Mencoba mengatur napas dan juga emosinya.
Arini dan Suci terus memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Mereka bingung bagaimana caranya menyerahkan tas yang berisi kemeja serta celana mahal tersebut kepada Tuan Malik.
__ADS_1
Karena Suci lagi-lagi segan bicara kepada Tuan Malik, Arini pun terpaksa harus kembali melakukanya.
"Tuan Malik, maaf jika saya lancang. Namun, saat ini kemeja Tuan sangat kotor. Jika Tuan ingin mengganti pakaian, Tuan bisa menggantinya sekarang. Ini saya bawakan kemeja serta celana untuk Anda," ucap Arini dengan sangat hati-hati.
Tatapan Tuan Malik kini tertuju pada paper bag yang sedang di tenteng oleh Arini. Lelaki itu segera bangkit kemudian meraih paper bag tersebut. "Baiklah, terima kasih. Aku memang membutuhkannya," ucapnya sembari melenggang pergi menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari ruangan itu.
Arini dan Suci saling tatap. Ternyata tidak susah membujuk lelaki itu untuk mengganti pakaiannya. Padahal sebelumnya mereka sempat berpikir yang macam-macam.
Di dalam kamar mandi.
Tuan Malik mengganti pakaiannya yang kotor dengan dengan pakaian yang baru saja di berikan oleh Arini. Setelah selesai berpakaian lelaki itu menghampiri westafel kemudian mencuci wajahnya berkali-kali untuk menghentikan buliran bening yang masih saja meluncur tanpa keinginannya. Namun, cara itu tetap tidak bisa membuatnya berhenti.
Setelah cukup lama Tuan Malik berada di dalam kamar mandi, ia pun akhirnya keluar dari ruangan itu. Sementara Arini dan Suci kembali berpikiran yang macam-macam. Mereka takut lelaki itu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan di dalam kamar mandi.
"Kenapa Tuan Malik belum juga keluar?" Arini melirik jam tangannya kemudian melihat lagi ke arah kamar mandi. "Sudah cukup lama Tuan Malik berada di sana. Apa perlu kita ketuk saja pintunya?" Arini mulai cemas.
"Ya, kamu benar. Kok, aku jadi berpikiran yang tidak-tidak sama Tuan Malik, ya?" sahut Suci yang juga tidak hentinya menatap pintu kamar mandi.
Tepat di saat itu pintu kamar mandi pun terbuka. Tampak Tuan Malik keluar dari ruangan itu sambil menenteng paper bag pemberian Arini yang kini berisi kemeja serta celana kotornya.
__ADS_1
Melihat lelaki itu berjalan ke arah mereka, Arini dan Suci pun akhirnya bisa bernapas lega. "Syukurlah," gumam mereka secara bersamaan.
Tuan Malik kembali duduk di posisinya semula kemudian meletakkan paper bag yang tadi ia tenteng ke samping tubuhnya.
Arini mengulurkan tangannya kepada Tuan Malik. "Tuan, saya bisa bantu membawa pakaian kotor Anda ke tempat laundry."
Tuan Malik menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak usah, aku bisa mencucinya sendiri," jawab lelaki itu.
Setelah percakapan ringan tersebut hingga beberapa jam kemudian, tidak ada obrolan yang berarti terjadi pada mereka. Hanya sesekali Arini dan Suci terdengar berbincang pelan. Sementara Tuan Malik, lelaki itu masih tenggelam dalam kesedihannya dan tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Hingga akhirnya seorang Dokter datang dan menghampiri mereka. Tuan Malik sontak berdiri dan menyambut kedatangan Dokter tersebut dengan sangat antusias.
"Bagaimana, Dok? Bagaimana operasinya?" tanya Tuan Malik dengan sangat menggebu-gebu.
Dokter tersenyum tipis kemudian menepuk pelan pundak Tuan Malik. "Operasinya berjalan lancar. Kedua peluru yang bersarang di dada Nyonya Malik sudah berhasil dikeluarkan."
Tuan Malik sangat bahagia. Senyuman lebar tersungging di wajahnya dan buliran bening itu kembali meluncur pertanda bahwa ia begitu terharu. "Ya, Tuhan! Terima kasih banyak."
...***...
__ADS_1