
"Ehm, Tuan Malik." Arini membuka percakapan ketika mobil yang dikemudikan oleh Pak Kosim sedang melaju memecah jalan.
"Ya?"
Masih sama seperti sebelumnya, tatapan lelaki itu masih lurus ke depan dan sama sekali tidak menoleh ke arah Arini. Namun, Arini tidak mempermasalahkan hal itu karena ia sudah mulai terbiasa dengan sikap dinginnya.
"Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Arini dengan ragu-ragu.
"Ehm, katakan saja," jawabnya.
"Kalau bisa, kita makannya di rumah makan atau warung makan saja, Tuan. Soalnya perut saya tidak terbiasa dengan hidangan yang disajikan di restoran mewah," jawab Arini sambil terkekeh pelan.
Akhirnya lelaki itu memalingkan wajahnya dan sekarang ia menatap Arini yang masih mencoba menahan tawanya. Ia menautkan kedua alisnya heran setelah mendengar permintaan Arini.
"Kenapa bisa seperti itu? Tapi, jika itu benar. Aku setuju saja. Kita bisa makan di rumah makan biasa, jika kamu mau."
Arini mengangguk cepat dan ia sangat antusias mendengar jawaban dari lelaki itu. "Ya, kita makan di rumah makan sederhana saja, Tuan."
Tuan Malik kembali tersenyum tipis. Ia pernah berpikir bahwa Arini sama saja seperti wanita lainnya. Namun, kali ini Tuan Malik mengubah pendapatnya. Ia tahu kenapa mendiang istrinya menjodohkan dirinya kepada Arini karena Arini memang berbeda.
"Apa alasanmu menolak makan di restoran mewah? Padahal bagi sebagian orang, tempat itu adalah tempat makan yang paling keren karena tidak sembarang orang bisa menikmati hidangan di tempat itu."
__ADS_1
"Ya, itu memang benar, Tuan. Hanya saja ...." Arini menghentikan ucapannya kemudian tertawa pelan. "Pokoknya perutku tidak bersahabat dengan makanan di sana. Itu saja," lanjut Arini.
Arini teringat ketika Hendra mengajaknya makan di sebuah restoran mewah. Walaupun perutnya masih lapar dan berteriak-teriak meminta tambah. Namun, Arini tidak berani berucap karena takut dompet Hendra ikut berteriak karena harus membayar kocek lebih dalam lagi.
Sama halnya dengan Tuan Malik. Ya, walaupun Tuan Malik orang berada. Namun, Arini tetap tidak ingin mempeloroti uang lelaki itu lebih dalam lagi. Mengingat Tuan Malik sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membayar cincin pernikahan mereka, belum lagi biaya gaun pengantin ekstra mahal itu.
"Baiklah kalau begitu. Kamu saja yang putuskan di mana kita makan," ucap Tuan Malik kemudian.
"Baik, Tuan."
Akhirnya Arini pun memutuskan untuk makan siang di sebuah rumah makan yang cukup terkenal. Ia bahkan sudah beberapa kali makan di sana bersama Hendra, kadang bersama Suci juga ketika weekend tiba.
"Bagaimana menurut Anda, Tuan Malik?" tanya Arini sambil memperhatikan ekspresi wajah Tuan Malik yang kini sedang menatap rumah makan tersebut dengan seksama.
"Ya. Tidak masalah," jawab Tuan Malik sembari membuka pintu mobilnya.
Arini masuk ke dalam rumah makan tersebut kemudian duduk bersama Tuan Malik di sebuah meja kosong. Ternyata mereka makan siang tidak hanya berdua. Tuan Malik mengajak serta Pak Kosim untuk makan bersama mereka.
Arini pun tidak masalah. Sebab ia pikir acara makan siang ini bukanlah makan siang romantis yang harus ia nikmati hanya bersama Tuan Malik. Ketika seorang pelayan di rumah makan tersebut menghampiri meja mereka, Arini pun tidak sungkan memesan makanan dan minuman favoritnya. Sementara Pak Kosim tampak pasrah. Ia menerima apapun yang dipesankan oleh Tuan Malik untuknya.
Satu jam kemudian.
__ADS_1
Arini tersenyum lega karena akhirnya perut laparnya sudah terisi penuh dengan makanan kesukaannya. Begitu pula Tuan Malik dan Pak Kosim, kedua lelaki itu pun merasa sangat puas dengan hidangan yang disediakan oleh rumah makan tersebut.
Sementara Tuan Malik membayar semua tagihannya, Arini dan Pak Kosim memilih menunggu di mobil.
"Anda sangat beruntung, Nona Arini, karena mendapatkan sosok lelaki seperti Tuan Malik. Dia adalah lelaki yang baik dan sangat bertanggung jawab," ucap Pak Kosim.
Arini tidak menjawab. Ia terus menatap Tuan Malik yang kini berjalan ke arahnya dari balik kaca mobil berwarna gelap tersebut. Tanpa sadar, sebuah senyuman hangat tersungging di wajah cantik Arini saat memperhatikan calon suaminya itu.
Sementara Pak Kosim tersenyum simpul melihat Arini yang sedang mencuri pandang terhadap majikannya tersebut dari balik kaca spionnya.
Kini Tuan Malik tiba di depan mobilnya. Ia membuka pintu mobil tersebut kemudian duduk tepat di samping Arini.
"Ini untukmu, Arini. Dan ini untukmu, Pak Kosim," ucap Tuan Malik sembari menyerahkan masing-masing satu buah bungkusan berisi makanan kepada Arini dan Pak Kosim.
"Terima kasih, Tuan." Dengan senang hati Arini menyambut bungkusan tersebut. Setidaknya ia tidak perlu susah-susah memasak untuk makan malamnya nanti.
Begitu pula Pak Kosim, ia begitu senang karena punya oleh-oleh untuk anak dan istrinya di rumah.
"Sama-sama."
...***...
__ADS_1