
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pernikahan Arini dan Tuan Malik akan dilaksanakan pada hari ini di sebuah gedung yang sengaja di sewa Tuan Malik untuk merayakan hari pernikahan sederhananya.
Tuan Malik terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna silver-gold, senada dengan kebaya pengantin yang akan dikenakan oleh Arini pada hari ini.
Sembari menunggu Arini yang masih di rias di dalam ruangan khusus, Tuan Malik memilih menyambut para tamu undangannya. Tamu undangan yang merupakan kerabat, rekan kerja serta sahabat Tuan Malik.
Bukan hanya dari pihak Tuan Malik, para tamu undangan dari pihak Arini pun mulai berdatangan. Ada Suci dan beberapa teman-teman kerjanya ketika di butik. Ada Bu Ria yang datang bersama Hendra serta si kecil Azkia.
Bahkan Bu Nining pun tidak mau ketinggalan. Wanita paruh baya itu penasaran kepada sosok Tuan Malik yang akan menggantikan posisi Dodi, anak lelakinya yang saat ini masih mendekam di penjara.
Bu Nining memperhatikan sekeliling gedung tersebut dan ia pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Beruntung sekali Arini. Pernikahan ke-duanya bahkan jauh lebih mewah dan meriah dibandingkan dengan pernikahannya bersama Dodi dulu."
Bu Ria yang duduk di samping Bu Nining terkekeh pelan mendengar celetukan wanita paruh baya itu.
"Ya, tentu saja beda lah, Bu. Tuan Malik 'kan orang kaya. Beda sama kita-kita ini. Jika seperti ini saja sudah dibilang acara yang sangat sederhana oleh Tuan Malik, coba bayangkan bagaimana jika Tuan Malik mengadakan acara pernikahan dengan sangat meriah versi dia. Hmm," sahut Bu Ria.
__ADS_1
"Ya. Beruntung sekali Arini mendapatkan lelaki itu," celetuknya lagi.
"Mungkin mereka memang berjodoh, hanya saja Tuhan menjodohkan mereka dengan cara yang tidak biasa," sela Hendra.
"Ya. Kamu benar, Hendra," sahut Bu Ria.
Sementara itu di sudut lain ruangan. Tampak Tia dan Toni memperhatikan Tuan Malik yang sedang menyambut kedatangan para tamunya, dari kejauhan. Wajah pasangan itu tampak masam dan mereka sama sekali tidak menyukai acara resepsi ini.
Berbeda dengan Tia dan Toni, Putri, gadis cilik berusia 4 tahun itu tampak begitu bahagia menyambut pernikahan Tuan Malik. Ia senang karena akhirnya ia akan memiliki Oma lagi, walaupun usia Oma-nya kali ini sangat-sangat muda. Hanya seusia Ibunya.
Tidak berselang lama, Arini pun tiba di ruangan itu bersama Sang MUA yang menggiringnya. Kini semua mata tertuju pada Arini. Seluruh tamu undangan seolah tersihir oleh kecantikan Arini. Kini Arini menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan, tidak terkecuali Tuan Malik sendiri.
"Mom, lihat! Istri Opa cantik sekali, ya! Mommy bahkan kalah cantik dari Istri Opa," celetuk Putri kepada Tia dan Toni yang juga sedang asik memperhatikan Arini.
Toni terkekeh, sementara Tia melotot saat menatap Putri. Ia tidak terima ketika Putri mengatakan bahwa Arini jauh lebih cantik dari dirinya.
"Ya, tentu saja cantikkan Arini dari pada Mommy. Kan Mommy tidak berdandan seperti itu," ucap Tia, mencoba membela diri.
__ADS_1
"Ya, tetap cantikkan Istri Opa, Mom. Kenapa Putri berkata seperti itu? Karena Putri sudah sering lihat foto pernikahan Mommy sama Daddy," sahut Putri, tidak mau kalah.
"Halah, terserah kamu sajalah! Mommy malas ribut."
Setelah Arini tiba di tempat itu, Tuan Malik pun segera menghampiri Arini agar pernikahan mereka bisa secepatnya dimulai. Arini menatap Tuan Malik yang datang mendekat ke arahnya. Tiba-tiba saja telapak tangannya terasa dingin. Sangat dingin, terasa seperti es. Hatinya berdebar dengan kencang, seperti seorang anak ABG yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Ya, Tuhan! Apakah aku salah jika aku jatuh cinta pada calon suamiku sendiri?" gumam Arini pelan.
Kini lelaki itu berada tepat di hadapannya. Arini masih menatap Tuan Malik sama seperti tadi. Tuan Malik mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis.
"Kamu sudah siap?"
Arini mengangguk dengan cepat. "Ya, Tuan."
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan Tuan, sebab beberapa menit lagi kita akan sah menjadi suami istri." Tuan Malik yang kini sudah berdiri di sampingnya, melirik Arini dari sudut matanya.
"Ba-baik, Mas!"
__ADS_1
"Oh ya, Tuhan, aku memanggilnya dengan sebutan Mas!" jerit Arini dalam hati.
...***...