Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 138


__ADS_3

Arini membuka pintu mobil, lalu bergegas menghampiri Tia dan Putri yang masih belum menyadari keberadaannya. Sementara Tuan Malik benar-benar tidak ingin menemui Tia. Dia memilih menunggu dan memantau di dalam mobil.


"Putri," panggil Arini.


Tia dan Putri sontak menoleh. Putri mengembangkan senyumnya setelah tahu siapa yang barusan memanggil namanya.


"Wah, Tante Arini!" pekik Putri sembari melepaskan pegangan tangannya kepada Tia kemudian berlari kecil menuju Arini.


"Loh! Kok, Tante, sih?" Arini menyambut kedatangan Putri yang menghampirinya sembari berjongkok.


"Habisnya Tante masih terlalu muda jika Putri panggil Oma," ucap Putri sambil terkekeh.


"Ish, Putri! Oh ya, sebenarnya Putri mau ke mana?" tanya Arini pelan sambil tersenyum menatap Putri.


Sementara Tia hanya diam dan tak bergerak sedikitpun dari posisinya semula. Ia menatap Arini dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. Namun, ia tidak berani mengungkapkannya. Selain malu, Tia juga takut Arini tidak dapat memaafkannya.


"Mommy bilang kami akan berkunjung ke rumah opa dan menginap di sana untuk sementara waktu. Sampai om-om mengerikan itu pulang," sahut Putri dengan polosnya.


"Om-om mengerikan? Siapa mereka?" Arini begitu penasaran mendengar penjelasan bocah mungil itu.


"Putri juga tidak tahu mereka siapa. Tiba-tiba Om-om mengerikan itu datang dan mengambil rumah Putri. Kata Mommy kalo om-om itu sudah pulang, baru kami kembali ke sana," tuturnya.


"Putri!" tegas Tia agar Putri berhenti menceritakan masalah itu kepada Arini.


Arini melihat ke arah Tia sambil menautkan alisnya. "Apa benar yang dikatakan oleh Putri, Tia? Dan siapa mereka yang dimaksud oleh Putri?"


"Ehm, itu ...."

__ADS_1


"Opa!" Tiba-tiba Putri berteriak kegirangan ketika kedua netranya menangkap sosok Tuan Malik yang baru saja keluar dari mobil.


Seketika Tia menghentikan ucapannya. Ia memperhatikan Putri yang berlari cepat menuju Tuan Malik. Tuan Malik berjongkok dan menunggu kedatangan gadis mungil itu lalu memeluknya dengan erat.


"Opa! Putri kangen Opa."


"Ya, Opa juga kangen sama Putri. Ngomong-ngomong Putri mau ke mana malam-malam begini?" tanya Tuan Malik sembari merapikan setiap helai rambut yang menempel di kedua pipi gadis mungil itu.


"Ke rumah Opa," jawab Putri dengan cepat. "Opa ...."


"Hmmm." Tuan Malik masih menatap lekat kedua bola mata Putri.


"Tolong usir om-om jahat yang ambil rumah Putri, Opa. Mereka jahat! Mereka suka dorong-dorong tubuh Putri. Putri sampai jatuh-jatuh dibuatnya, Opa," celetuknya dengan wajah cemberut.


Seketika wajah tenang itu berubah. Tuan Malik mengerutkan dahinya kemudian menatap ke arah Tia dengan tatapan serius.


Tuan Malik meraih tangan Putri dan menuntunnya menghampiri Arini dan Tia yang sejak tadi terdiam sambil memperhatikan mereka berdua.


"Siapa om-om jahat yang dimaksud oleh Putri?" tanya Tuan Malik kepada Tia dengan begitu serius.


Tia tertunduk sambil meremass-remass kedua tangan secara bergantian. Wajahnya tampak cemas dan ia bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Tuan Malik.


"Ehm, itu ... mereka itu adalah anak buahnya juragan Kasim. Seorang rentenir yang paling terkenal di sekitaran tempat tinggal kami, Ayah."


"Juragan Kasim? Lalu apa mereka yang mereka lakukan di rumahmu?" Tuan Malik masih penasaran.


Tia melirik Arini sejenak kemudian kembali fokus pada Tuan Malik. Cairan bening itu tiba-tiba mengucur deras di kedua pipinya. Ia mengiba sekaligus meminta maaf kepada Tuan Malik.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ayah. Selama ini aku tidak pernah mempercayai kata-katamu soal kelakuan Mas Toni dan sekarang ...." Tia tidak sanggup menceritakannya lagi, ia tertunduk dengan pundak yang bergetar, turun-naik.


Tuan Malik menghembuskan napas panjang. "Sebaiknya kalian masuk ke mobil, kita bicarakan masalah ini di rumah." Tuan Malik kembali menuntun Putri dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sementara Arini dan Tia mengikuti dari belakang.


Arini terus memperhatikan Tia yang masih berjalan dengan kepala tertunduk. Ia sempat melihat luka lebam di area hidung dan sudut bibir Tia yang tampak membiru. Arini ingin sekali menanyakan hal itu, tetapi ia takut Tia tersinggung.


Tia duduk di samping Pak Kosim. Sementara Putri duduk di antara Tuan Malik dan Arini.


"Opa, perut Putri sakit! Putri lapar, sejak tadi siang Putri belum makan," keluhnya kepada Tuan Malik sambil mengelus perut kecilnya.


Tuan Malik dan Arini sempat saling lempar pandang untuk beberapa detik.


"Kebetulan sekali kami juga lagi cari makan. Jadi, sekalian saja kita makan bareng. Bagaimana, Putri setuju, gak?" tanya Arini sembari mengelus lembut pundak Putri.


"Ya, Putri setuju!" jawabnya dengan sangat antusias. Sementara Tia tidak bicara sepatah katapun. Dia malu, benar-benar marasa malu.


Tuan Malik meminta Pak Kosim berhenti di sebuah restoran dan mereka pun makan di sana bersama-sama. Putri dengan sangat antusias memilih menu makan malamnya. Sementara Tia membiarkan Tuan Malik yang memilihkan untuknya.


"Bagaimana denganmu?" tanya Tuan Malik sambil tersenyum kecut menatap Arini.


Arini bingung harus memilih apa. Sementara nasi goreng yang ia damba-dambakan, kembali menjadi angan-angan.


"Sama seperti Mas Malik saja."


Tuan Malik mengelus lembut pipi Arini masih dengan senyuman khasnya. "Nanti kita cari lagi mamangnya lain waktu. Ok?"


Arini pun mengangguk pelan sembari membalas senyuman Tuan Malik.

__ADS_1


...***...


__ADS_2