Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 42


__ADS_3

"Mari, Mbak." Pak Kosim membukakan pintu mobil untuk Arini yang datang mendekat ke arahnya. Kemudian mempersilakan wanita itu masuk dan duduk di dalam mobil tersebut.


"Terima kasih, Pak." Arini pun duduk di mobil mewah tersebut kemudian bersandar di sandaran jok sambil menutup matanya rapat.


Setelah Arini masuk, Pak Kosim pun segera menyusul dan melajukan mobil tersebut menuju kediaman wanita itu.


Di perjalanan.


"Pak Kosim, kalau boleh saya tahu Tuan Malik itu kerjanya apa? Sepertinya dia bukan orang sembarangan, ya," tanya Arini sembari membuka matanya.


"Tuan Malik adalah seorang pengusaha jam tangan mewah yang berasal dari negara tetangga. Itulah sebabnya kenapa Tuan Malik harus bolak-balik dari sini ke negara asalnya. Sementara Nyonya Arniz adalah pemilik butik 'Zhanita Collection' yang terkenal itu lo, Mbak. Mbak pasti pernah dengar," tutur Pak Kosim yang tetap fokus pada kemudinya.


Arini pernah mendengar merek itu. Namun, untuk membelinya sungguh sangat mustahil. Jangankan untuk membeli gamis bermerek seperti itu, membayangkan pun rasanya Arini tidak mampu. Sedangkan gamis dengan harga 100/200 ribu saja, Arini harus berpikir berulang-ulang kali untuk membelinya.


"Wah, ternyata mereka bukan orang sembarangan, ya. Tapi, walaupun begitu mereka sangat baik dan juga tidak sombong ya, Pak," sahut Arini.


"Ya, Mbak. Mereka orang baik. Mereka bahkan tidak sungkan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Tapi sayang, Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat untuk pasangan itu. Sudah dua puluh tahun mereka menikah, bahkan sampai sekarang mereka belum juga diberikan momongan," ucap Pak Kosim lagi.


Arini menautkan kedua alisnya setelah mendengar penuturan Pak Kosim tentang majikannya tersebut. Ia tidak menyangka bahwa pasangan itu juga bernasib sama seperti dirinya dan Dodi.


"Tetapi Tuan Malik tidak main belakang 'kan dari Nyonya Arniz. Tidak seperti ...." Arini menghentikan ucapannya kemudian menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.

__ADS_1


Pak Kosim terkekeh pelan. "Tentu saja tidak, Mbak Arini. Tuan Malik sangat menyayangi Nyonya Arniz lebih dari apapun. Ia bahkan tidak pernah mempermasalahkan soal anak kepada Nyonya Arniz," tutur Pak Kosim.


"Ya, seperti itulah seharusnya, Pak." Arini membuang pandangannya ke arah samping.


"Ah, seandainya Mas Dodi seperti Tuan Malik. Seandainya Mas Dodi tidak bermain di belakangku," batin Arini dengan wajah kusut menatap jalan.


Tidak terasa, akhirnya Arini pun tiba di depan komplek perumahan. Ia meminta Pak Kosim berhenti di sana. Setelah Pak Kosim menghentikan mobil tersebut, Arini pun segera keluar dan berterima kasih kepada lelaki paruh baya tersebut.


"Terima kasih, Pak. Sampaikan terima kasihku untuk Nyonya Arniz dan Tuan Malik," ucap Arini.


"Sama-sama, Mbak. Akan saya sampaikan. Ehm, Mbak Arini yakin bisa jalan sendiri?"


"Ya, Pak. Lagi pula rumah saya tidak jauh lagi, kok," sahut Arini kemudian.


Setelah mobil yang dikemudikan oleh Pak Kosim menghilang dari pandangannya, Arini pun melangkah dengan terseok-seok menuju kediamannya bersama Dodi. Dengan kaki yang masih sakit serta tubuh yang masih dibalut perban dan plester luka, Arini melangkah tanpa mempedulikan orang-orang yang kini memperhatikan dirinya sambil berbisik-bisik.


Cerita memalukan tentang kejadian kemarin sore sudah menyebar ke telinga para penghuni komplek perumahan tersebut. Bahkan orang-orang itu sudah tahu bagaimana hubungan Dodi dan Anissa di belakang Arini.


Akhirnya Arini tiba di depan pagar rumahnya. Ia sempat terdiam sejenak di sana sambil memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Kejadian kemarin sore kembali terlintas di pikirannya. Ternyata Hendra menyadari kedatangan Arini. Ia segera berlari keluar rumah dan mendatangi Arini yang masih terdiam di depan pagar rumahnya.


"Arini," panggil Hendra dengan wajah kusut menatap wanita itu. Sekarang Hendra sudah tahu segalanya. Akhirnya Bu Nining bersedia menceritakan semuanya kepada Bu Ria yang tadi malam membantunya menjaga Azkia.

__ADS_1


Arini berbalik kemudian menatap lelaki itu sambil tersenyum kecut. "Mas Hendra," jawab Arini yang terlihat begitu tegar.


Hendra memperhatikan kondisi Arini saat itu dan ia begitu terkejut ketika melihat tubuh Arini yang dihiasi oleh perban serta plester luka. "Kamu kenapa, Arini? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Hendra panik.


"Aku baik-baik saja, Mas. Hanya luka kecil setelah kemarin sore aku terserempet mobil dan beruntungnya pemilik mobil tersebut bersedia bertanggung jawab," sahut Arini.


"Astaga, Arini! Jadi itu benar? Beruntung kamu tidak apa-apa," ucap Hendra lagi dengan wajah yang masih panik.


"Ya, beruntungnya Malaikat maut tidak menjemputku," lirih Arini.


"Arini ...." Hendra sedih mendengar jawaban Arini barusan. Ia tahu bagaimana perasaan wanita itu saat ini.


Bu Nining yang masih berada di dalam rumah, akhirnya menyadari kedatangan Arini. Ini pertama kalinya ia begitu senang melihat kedatangan menantunya itu. Dengan wajah semringah, Bu Nining berjalan sambil menggendong Azkia, menghampiri Arini yang masih berdiri di depan pagar rumahnya bersama Hendra.


"Arini, akhirnya kamu kembali juga. Lihatlah, Azkia begitu merindukanmu," ucap Bu Nining.


Arini segera menoleh dan menatap Bu Nining yang kini mengulurkan tubuh si kecil Azkia ke hadapannya. Si kecil itu tersenyum manis sama seperti biasanya. Ia begitu senang melihat kedatangan Arini yang selama ini ia ketahui sebagai Ibu kandungnya.


"Mam ... Maaa ...." celoteh Azkia sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Arini.


Hati dan pikiran Arini benar-benar berperang saat itu. Nalurinya sebagai Ibu masih menginginkan bayi mungil itu. Namun, jika ingat akan kenyataan bahwa Azkia adalah anak hasil perselingkuhan suaminya, Arini bersumpah tidak akan pernah menyentuh si kecil itu lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2