Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 116


__ADS_3

"Bagaimana, Tia?" tanya Toni Wijaya, suami Tia yang sejak tadi hanya menunggu di dalam mobilnya.


"Ya, ternyata kamu benar, Mas. Ayah memang akan segera menikah dalam waktu dekat. Dan kamu tahu siapa yang akan menjadi istri barunya nanti?" kesal Tia sembari menjatuhkan dirinya di jok samping Toni. Sementara Putri duduk sendiri di jok belakang.


"Siapa?" tanya Toni sambil tersenyum tipis.


"Salah satu karyawan yang bekerja di butik Ibu. Kurang ajar banget 'kan, Mas! Wanita itu benar-benar tidak tahu terima kasih. Sudah dipekerjakan di sana, sekarang mantan suami majikannya pun diembat juga olehnya," gerutu Tia dengan wajah menekuk sempurna.


"Lalu, bagaimana dengan butiknya? Apa Tuan Malik bersedia menyerahkannya kepadamu?" tanya Toni dengan sangat antusias.


"Ya, Mas. Beruntung Ayah bersedia menyerahkan butik itu kepadaku. Tapi jika seandainya Ayah tidak bersedia menyerahkannya pun, aku tetap akan ambil alih butik itu. Enak saja, bisa-bisa butik itu jatuh ke tangan wanita itu lagi. Aku benar-benar tidak rela jika itu terjadi," sambung Tia.


"Kan, apa kubilang. Sebenarnya Tuan Malik itu tidaklah sesempurna yang kita pikirkan selama ini. Mana ada sih lelaki yang rela bertahan pada seorang wanita yang ... maaf, bukan aku menghina, tidak bisa memberikan keturunan seperti Bu Arniz? Sekarang terbukti 'kan semuanya," ucap Toni sembari melajukan mobilnya menuju kediaman mereka.


"Ayah bilang 'sih, mereka terpaksa menikah karena hal itu merupakan permintaan terakhir mendiang Ibu. Tapi, entah kenapa aku tidak percaya. Aku yakin bahwa Ayah dan wanita itu memang mempunyai hubungan spesial di belakang Ibu selama ini."


Toni tertawa pelan. "Ya iyalah, Sayang. Mana ada 'sih maling mau mengaku? Aku sudah curiga sejak lama kepada Tuan Malik, hanya saja aku tidak punya bukti untuk membuktikan omonganku. Oh ya, jangan lupa, Tia. Perhiasan dan seluruh simpanan Bu Arniz jangan sampai dibiarkan jatuh ke tangan wanita itu," ucap Toni lagi untuk mengingatkan kepada Tia.


Tia terdiam sejenak sembari memikirkan apa yang diucapkan oleh suaminya barusan. "Mas benar. Tapi ... aku tidak yakin Ayah bersedia menyerahkannya kepadaku."

__ADS_1


"Jangan menyerah sebelum berperang, Tia. Siapa tahu Tuan Malik bersedia menyerahkannya kepadamu. Buktinya, butik saja ia berikan kepadamu. Apa lagi hanya sebatas perhiasan dan uang simpanan Bu Arniz. Pokoknya jangan menyerah untuk memperjuangkan hak-mu sebagai anaknya Bu Arniz." Toni kembali mencoba meyakinkan Tia.


"Baiklah. Nanti akan kucoba bicara sama Ayah sekali lagi," jawab Tia.


Keesokan harinya.


Arini dan Suci tiba di butik Zhanita Collection dan segera melakukan aktivitas mereka sama seperti biasanya. Selang beberapa saat, sebuah mobil tiba dan berhenti tepat di depan butik tersebut.


Tia dan Toni keluar dari mobil kemudian berjalan memasuki butik. Seorang wanita yang selama ini menjadi tangan kanan Nyonya Arniz, menghampiri Tia sambil tersenyum hangat.


"Selamat pagi, Nona Tia. Selamat pagi, Tuan Toni."


"Selamat pagi." Tia berdiri di samping wanita itu kemudian memperhatikan sekeliling ruangan.


"Paham!" jawab seluruh karyawan di butik tersebut. Termasuk Suci dan Arini yang saling melempar pandang saat itu.


"Hhhh, benar 'kan apa yang aku bilang, Rin. Butik ini pasti akan jatuh ke tangan Tia," celetuk Suci dengan setengah berbisik kepada Arini.


"Kan Tia anak angkat mendiang Nyonya Arniz. Lagi pula Tia 'kan keponakan asli Nyonya Arniz, jadi menurutku wajar saja, sih," jawab Arini.

__ADS_1


Suci melirik Arini dan memperhatikan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu tenang. "Calon suamimu memang baik hati. Bahkan saking baiknya, ia tidak bisa menolak permintaan Tia!"


Arini tersenyum kemudian mencubit pelan perut Suci. "Kamu kenapa 'sih, Ci. Sepertinya gedek banget sama si Tia."


"Eh, Arini. Jelas lah aku gedek. Masa depan kita dipertaruhkan jika butik ini berada di bawah kekuasaan Tia. Bagaimana tidak, suaminya itu jahat! Bagaimana jika Tia tidak bisa mengendalikan butik ini seperti Nyonya Arniz? Bisa-bisa bangkrut dan kita terancam menjadi pengangguran lagi," kesal Suci sambil memutarkan bola matanya.


Arini terdiam sejenak dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Suci barusan. Ia rasa Suci ada benarnya. Jika butik itu bangkrut, maka mereka pun akan kembali menjadi pengangguran.


"Ada pertanyaan lain?" lanjut Tia dengan tatapan dingin menatap seluruh karyawannya.


"Tidak ada, Nona Tia."


"Bagus! Oh ya, aku ingin bicara dengan salah satu karyawan di sini, namanya Arini. Yang mana orangnya?" ucap Tia.


Suci dan Arini kembali lempar pandang dan mereka yakin bahwa Tia pasti ingin membicarakan soal pernikahan Arini bersama Tuan Malik yang tidak lama lagi akan segera dilaksanakan.


Arini maju beberapa langkah ke depan. "Saya Arini, Nona Tia."


Tia memperhatikan secara detail penampilan Arini. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak sedikit pun terlewatkan dari pandangannya. Ia memasang wajah malas, kemudian berbalik.

__ADS_1


"Ikuti aku," ucapnya sembari melangkahkan kakinya menuju ruang pribadinya bersama Sang Suami yang sejak tadi berdiri di sampingnya.


...***...


__ADS_2