
Setibanya di kediamannya, kedatangan Arini sudah disambut oleh Dodi yang kini berdiri di depan pintu.
"Sebenarnya kamu bekerja di mana, Arini? Masa jam segini baru pulang? Sementara aku saja sudah tiba lebih dulu darimu. Apa mungkin kamu kelayapan dulu bersama Hendra," ucap Dodi dengan wajah kusut menatap Arini.
Pikiran Dodi saat itu benar-benar kalut. Selain karena jabatannya yang dihempaskan begitu saja, gajinya yang mendadak turun lebih dari separuh dan sekarang istri pertamanya pun sudah mulai membangkang dengan perkataannya.
Arini tersenyum tipis. "Cobalah untuk tidak berpikiran negatif terhadap orang lain, Mas. Asal Mas tahu, aku tidak pernah kelayapan. Aku benar-benar bekerja dan pulang terlambat karena memang tidak ada tumpangan yang bisa membawaku kembali ke sini," sahut Arini sambil berlalu begitu saja melewati Dodi yang masih tampak kusut.
Arini tampak tidak peduli bagaimana ekspresi Dodi saat itu. Ia bahkan tidak berkeinginan untuk bertanya masalah apa yang sedang menimpa lelaki itu. Sementara Dodi masih begitu penasaran, sebenarnya apa pekerjaan Arini sebenarnya.
"Sebenarnya kamu bekerja apa dan di mana? Mungkin saja aku bisa menjemputmu," ucap Dodi kemudian sembari mengikuti langkah Arini dari belakang.
Arini tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Hingga akhirnya Arini masuk ke dalam kamarnya, sementara Dodi terdiam di depan pintu kamar tersebut tanpa berani ikut masuk ke dalam.
Lelaki itu menghembuskan napas berat dan akhirnya kembali ke ruang depan dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bu Nining yang sejak tadi memperhatikan wajah kusut Dodi, akhirnya memilih menghampiri anak lelakinya itu.
"Sebenarnya ada apa sih, Dod? Sejak tadi Ibu perhatikan wajahmu kusut begitu. Memangnya ada masalah apa? Ceritakan sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa bantu," tutur Bu Nining sambil mengelus lembut punggung Dodi.
Baru saja Dodi membuka matanya kemudian menatap wanita paruh baya itu, tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita penjual baju dan gamis yang selama ini menjadi langganan Bu Nining dari luar, memanggil-manggil nama Bu Nining.
__ADS_1
"Bu! Bu Nining! Aku bawa baju baru, nih! Mari dilihat-lihat, siapa tahu Bu Nining suka. Modelnya bagus-bagus loh, Bu!"
Bu Nining tampak semringah. Wanita paruh baya itu segera bangkit dari posisi duduknya dan berniat menemui wanita penjual baju tersebut. Bu Nining bahkan sampai lupa tujuannya duduk bersama Dodi di ruangan itu.
"Tunggu sebentar ya, Dodi." Dengan langkah cepat, Bu Nining pergi meninggalkan Dodi dan menemui wanita penjual pakaian tersebut. Sementara Dodi hanya bisa menghela napas berat sembari memperlihatkan Bu Nining yang pergi keluar.
"Lihatlah, Bu Nining. Gamis yang saya bawa kali ini bagus-bagus lo, Bu. Mana harganya murah banget lagi, Bu Nining pasti suka," ucap wanita itu sembari menenteng gamis-gamis dagangannya ke hadapan Bu Nining.
Bu Nining tampak begitu senang melihatnya dan dengan sangat antusias meraih satu persatu gamis tersebut kemudian menenteng benda itu ke tubuhnya. "Bagus, enggak?"
"Pas sekali, Bu Nining! Sangat cocok untuk Bu Nining. Dengan menggunakan gamis itu, membuat Bu Nining terlihat sepuluh tahun lebih muda, loh!" sahut wanita itu dengan penuh semangat. Strategi penjualan.
"Masa sih, Jeng? Kamu ini bisa saja. Memang harganya berapa?" tanya Bu Nining sambil tersipu malu.
"750? Gak bisa kurang, tuh? 'kan kita langganan," protes Bu Nining dengan wajah menekuk.
"Itu sudah harga spesial buat Ibu Nining, loh. Kalo sama orang lain, saya jual satu juta, Bu," sahut wanita itu lagi.
Bu Nining tampak menimbang-nimbang. Wanita paruh baya itu bahkan belum tahu bagaimana kondisi keuangannya di bulan yang akan datang. Ia belum tahu bahwa Dodi saat ini hanya sebagai karyawan biasa di perusahaannya, akibat demosi kerja yang diberikan oleh atasannya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, untuk saat ini aku belum bisa membelinya, Jeng. Karena Dodi belum gajian. Bagaimana kalo aku bayarnya nanti setelah Dodi gajian? Nanti aku kasih lebih, deh," bujuk Bu Nining.
Wanita itu tampak berpikir untuk sejenak dan setelah beberapa saat, ia pun segera menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Bu. Saya setuju," jawabnya.
Namun, tiba-tiba Dodi keluar dari ruangan tersebut dengan wajah panik. "Tidak, tidak! Sebaiknya bawa saja gamis ini ke tempat lain. Ibu saya tidak membutuhkan gamis mahal ini karena gamis Ibu masih banyak tersimpan di lemari pakaiannya, bahkan lebih bagus dari ini!"
Wanita penjual baju itu tampak kesal. Ia tidak suka ketika Dodi mengucapkan hal itu. Kata-kata yang begitu kasar menurutnya. "Ya, sudah kalau begitu! Bilang saja kamu tidak punya uang untuk membelinya, jadi tidak usah membandingkannya dengan gamis Ibumu," kesal wanita itu sembari memasukkan barang dagangannya ke dalam tas plastik besar yang selalu ia tenteng ke mana-mana.
"Dodi, kamu kenapa, sih!?" kesal Bu Nining yang juga tidak menyangka bahwa Dodi akan berkata seperti itu.
"Bu, kemarilah! Ada yang ingin Dodi bicarakan dan ini sangat penting!" ucap Dodi sembari mengajak Bu Nining untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Tapi, Dodi! Ibu benar-benar menginginkan gamis itu! Gamis itu sangat cantik," sahut Bu Nining.
"Tapi, tidak untuk sekarang, Bu."
Dodi menuntun Bu Nining untuk kembali ke ruangan depan kemudian mendudukkannya di sofa. Dan tepat di saat itu, Anissa juga tiba di ruangan tersebut sambil menggendong Azkia yang sedang rewel.
"Duduklah dulu. Kamu juga, Anissa. Biar kalian tahu bagaimana kondisi kita saat ini," ucap Dodi.
__ADS_1
Bu Nining dan Anissa saling tatap, mereka tampak bingung melihat ekspresi wajah Dodi yang benar-benar kusut.
...***...