Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 129


__ADS_3

"Cuma segini? Yang benar saja!" pekik Toni sambil memperhatikan sejumlah uang yang ada di tangannya. Ia tampak kesal karena jumlah uang tersebut tidak sesuai dengan keinginannya.


Karena tidak puas dengan jumlah uang tersebut, Toni kembali menggeledah isi ruangan pribadi Tia, di butik Zhanita Collection tersebut. Isi laci, lemari dan sebagainya, berhamburan di lantai ruangan itu.


Tia yang sedang berada di luar untuk memantau kinerja para karyawannya, tiba-tiba teringat akan Putri yang sudah saatnya dijemput dari sekolah. Ya, Putri sudah disekolahkan oleh Tia di sebuah Paud terkenal tak jauh dari komplek perumahan, di mana mereka tinggal.


"Ini sudah saatnya menjemput Putri. Sebaiknya aku minta Mas Toni untuk segera menjemputnya," gumam Tia pelan sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Tia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu dan membiarkan para karyawannya bekerja. Setelah kepergian Tia dari ruangan itu, para karyawan di butik tersebut menghembuskan napas lega, termasuk Suci.


"Akhirnya Nenek Lampir itu pergi juga," gumam Suci, yang membuat karyawan yang lain saat tertawa mendengar celetukannya.


Kini Tia berada di depan pintu ruangan pribadinya. Perlahan ia meraih gagang pintu kemudian mendorongnya. Tia tersentak kaget setelah melihat kondisi ruangan pribadinya yang terlihat begitu berantakan. Ruangan itu sudah tak berupa lagi, seluruh berkas serta barang-barang pribadi milik Tia menghambur di lantai ruangan.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa ruangan ini berantakan sekali?" pekik Tia dengan wajah kesal menatap Toni.


Toni mendengus kesal kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Tia. "Aku butuh uang!"


"Uang apa lagi? Bukankah kemarin Mas sudah mengambil semuanya? Uang yang Mas ambil kemarin, bukanlah uang yang sedikit. Jumlahnya banyak sekali. Masa sudah habis, sih?" balas Tia tidak mau kalah.


"Sudah, jangan banyak protes! Jika aku bilang, butuh uang ya, artinya aku memang butuh uang!" bentak Toni.


Secara tidak sengaja, tatapan Tia tertuju pada pintu brangkas, tempat penyimpanan uangnya terbuka lebar. Ia menghampiri benda itu dengan wajah panik.


Tia berbalik dan menatap Toni yang membuang muka sambil bertolak pinggang. "Kalau ya, kenapa?" jawabnya acuh tak acuh dan seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.


Tia menghampiri Toni kemudian menatap lekat kedua bola mata lelaki itu. "Ya ampun, Mas! Itu uang gaji untuk karyawan di sini! Jika Mas ambil uang itu, bagaimana aku bisa menggaji mereka bulan ini?!" pekik Tia.

__ADS_1


Bukannya peduli, Toni malah tertawa sinis. "Memang apa peduliku! Bukankah sudah aku katakan padamu, Tia. Penghasilan butik ini tidak seberapa. Tantemu itu mendirikan butik ini bukan karena penghasilannya yang besar, tetapi hanya untuk sekedar mengisi waktu luangnya. Seharusnya yang kamu utamakan itu harta milik Nyonya Arniz yang masih dipegang oleh Tuan Malik. Sekarang apa? Istri mudanya 'kan yang keenakan menikmati harta kekayaan tantemu itu!"


Tia terdiam. Tatapannya kosong menerawang. Saat itu otaknya kembali mencerna ucapan yang dilontarkan oleh suaminya tersebut. Sementara Tia masih tertegun, Toni segera pergi dari tempat tersebut dengan membawa sejumlah uang yang barusan ia ambil dari brangkas.


"Ah, lumayan lah! Dari pada tidak," gumam Toni sembari menyimpan sejumlah uang tersebut ke dalam saku jaket denim yang sedang ia kenakan.


Suci melihat hal itu dan ia kembali merasa cemas. "Ya, ampun! Aku rasa butik ini sudah berada di ambang kebangkrutan," gumam Suci.


"Kenapa, Ci?" tanya salah seorang rekan kerja Suci.


"Apa kamu tidak merasa heran? Barang-barang yang ada di butik ini sudah semakin berkurang. Sementara barang baru tidak ada yang masuk. Dan jangan-jangan bulan ini pun kita terancam tidak mendapatkan gaji lagi," celetuk Suci.


"Ish, kamu jangan menakut-nakuti seperti itu, Ci? Kalau kita tidak gajian bulan ini, lalu bagaimana caranya aku bisa membayar cicilan rumah serta motorku?"

__ADS_1


"Aku tidak sedang menakut-nakutimu. Aku pun sama sepertimu. Jika kita tidak gajian bulan ini, itu artinya aku tidak bisa membayar kontrakanku! Tapi entah kenapa aku sangat yakin, ada sesuatu yang tidak beres pada butik ini dan itu bukanlah hal yang baik tentunya," tutur Suci.


...***...


__ADS_2