Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 121


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Arini binti Rahmadi, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."


"Bagaimana, para saksi? Sah?"


"Sah!"


Arini segera meraih tangan Tuan Malik kemudian menciumnya. Sementara Tuan Malik membalasnya dengan mencium puncak kepala Arini. Ciuman pertama untuk Arini dan juga Tuan Malik. Sama-sama terlihat canggung dan juga gugup.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun mengucap syukur dan mereka turut bahagia karena akhirnya Arini dan Tuan Malik resmi menjadi suami istri. Baik secara agama maupun negara.


Namun, tidak dengan dua orang yang terus menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan kesal. Mereka adalah Tia dan Toni yang sangat-sangat tidak menyetujui pernikahan itu terjadi.


"Sebaiknya kita pulang, Mas. Aku sudah tidak tahan lama-lama berada di sini," ucap Tia sembari melangkahkan kakinya beranjak dari tempat itu.


"Ya, aku setuju!" ucap Toni sembari mengikuti langkah Tia dari belakang.


"Kenapa kita pulang, Mom? Putri bahkan belum kasih selamat buat Opa," ucap Putri sambil menatap heran kepada Tia yang tiba-tiba saja mengajaknya kembali ke kediaman mereka.


"Tidak perlu!" ketus Tia dengan wajah menekuk.


Tuan Malik menatap kepergian Tia dan Toni dari atas pelaminan. Namun, ia tidak heran jika kedua orang itu pergi tanpa pamit kepadanya karena ia pun tahu bahwa mereka tidak pernah menyetujui pernikahannya bersama Arini.


"Bukankah itu--"


"Ya, Tia dan Toni. Biarkan saja mereka, tidak usah terlalu dipikirkan," sela Tuan Malik kepada Arini yang ikut menyaksikan kepergian pasangan itu.


Sementara itu.

__ADS_1


Suci yang ingin menemui Arini di atas pelaminan, tidak sengaja menabrak Hendra yang juga ingin naik ke atas untuk mengucapkan selamat.


"Mas Hendra!" pekik Suci sambil tersenyum lebar. Ia memperhatikan penampilan Hendra yang terlihat begitu tampan. Sama seperti biasanya.


"Eh, kamu."


Hendra pun membalas tatapan Suci sambil memperhatikan penampilannya dengan seksama. Ia baru sadar bahwa ternyata Suci itu wanita yang cantik dan juga menarik. Suci tampil cantik dan seksi dengan kebaya brokat serta rok ketat bermotif batik. Make up natural yang melekat di wajahnya pun sangat menunjang penampilannya saat itu.


"Siapa, Hen?" tanya Bu Ria kepada Hendra.


"Oh, ini, Bu. Kenalkan namanya Suci. Dia sahabat Arini," jelas Hendra kepada Bu Ria.


"Kenalkan, Ci. Ini Ibuku. Kamu bisa memanggilnya Bu Ria."


Suci tersenyum lebar kemudian mengulurkan tangannya kepada Bu Ria. Bu Ria pun segera menyambutnya.


"Oh ya, bagaimana kalau kita naik ke sana bareng-bareng?" ajak Hendra kepada Suci.


Suci dan Hendra menaiki podium, di mana Tuan Malik dan Arini masih sibuk menyambut para tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat pada mereka. Kini giliran Suci dan Hendra. Mereka berdiri di hadapan pasangan yang sedang berbahagia tersebut sambil tersenyum.


"Selamat ya, Tuan, Arini." Hendra mengulurkan tangannya kepada Tuan Malik dan Arini secara bergantian kemudian dilanjutkan oleh Suci. Walaupun sempat merasa takut, tetapi Suci mencoba untuk tenang dan terus tersenyum kepada Tuan Malik yang kini menatapnya lekat.


"Hei, kalian janjian, ya?" goda Arini dengan setengah berbisik kepada Suci yang berdiri di hadapannya. Sementara Hendra sudah turun dan menunggu di bawah. Menunggu Bu Ria dan Bu Nining yang masih menunggu antrian.


"Tidak, Arini. Kami kebetulan bertemu saat ingin naik ke sini. Tapi, jangan lupa berdoa untukku agar setelah ini hubungan kami bisa semakin dekat." Suci tergelak, begitu pula Arini.


"Ish, aku serius loh, ini!" celetuk Suci.

__ADS_1


"Iya, iya! Aku doakan yang terbaik untuk kalian pokoknya," jawab Arini. Suci mengacungkan jempolnya kemudian menyusul Hendra yang sudah berada di bawah.


Setelah Suci pergi, kini giliran Bu Ria dan Bu Nining. Saat berhadapan dengan Arini, Bu Nining tiba-tiba tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil memeluk erat tubuh Arini.


Antara senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya Arini telah menemukan kebahagiaannya. Sedih, karena selama ini Bu Nining masih berharap Arini bersedia menerima kehadiran Dodi kembali sama seperti dulu.


"Selamat ya, Arini. Maaf, Ibu tidak bisa memberimu apa-apa," lirihnya sambil menyeka air mata.


"Ya ampun, Ibu. Aku tidak pernah mengharapkan apapun dari Ibu. Ibu bisa hadir ke sini pun, aku sudah sangat bahagia," jawab Arini sambil tersenyum.


Sementara Arini dan Bu Nining masih berbincang dengan penuh haru, Tuan Malik terus memperhatikan mereka dengan seksama. Ada rasa kagum yang Tuan Malik rasakan terhadap Arini.


Bagaimana tidak, ia tahu bahwa selama ini Bu Nining sudah menyia-nyiakan wanita itu ketika masih menjadi istri Dodi. Namun, Arini tak pernah sekalipun membenci mantan mertuanya itu. Malah sebaliknya, Bu Nining sudah ia anggap sama seperti Ibunya sendiri.


Akhirnya perbincangan Bu Nining dan Arini pun selesai. Kedua wanita itu kembali ke bawah dan beristirahat di sana sambil menikmati acara pesta dan berbagai hidangan yang sudah di sediakan.


Beberapa menit kemudian.


"Apa lelaki itu mantan kekasihmu?" tanya Tuan Malik secara tiba-tiba.


Arini mengerutkan alisnya sembari menoleh kepada Tuan Malik. "Siapa? Mas Hendra?"


Tuan Malik tidak menjawab, tidak pula membalas tatapan Arini. Namun, dari melihat dari raut wajahnya, Arini yakin bahwa yang dimaksud oleh suaminya itu adalah Hendra.


"Bukan, Mas. Dia hanya tetanggaku dulu ketika masih tinggal bersama Mas Dodi," jawab Arini, mencoba menjelaskan.


"Dari tatapannya, aku yakin kalau dia menyukaimu," ucapnya kemudian, masih dengan ekspresi yang sama.

__ADS_1


Arini tersenyum getir dan ia bingung harus menjawab apa.


...***...


__ADS_2