
"Berita tentang perselingkuhanmu dengan salah satu mantan karyawati di sini sudah menyebar ke seluruh perusahaan ini. Berita tidak mengenakan itu bahkan sudah terdengar hingga ke telinga atasan kita. Kemarin, kami mengadakan rapat mendadak dan demi kebaikan nama perusahaan ini, kami terpaksa mengambil sebuah keputusan berat," tutur Pak Agus.
"Ya, Tuhan!" Dodi tampak panik dan kini matanya terlihat berkaca-kaca. "Apa saya dipecat, Pak?"
Pak Agus menggelengkan kepalanya pelan. "Kami memutuskan untuk memberikan demosi jabatan kepadamu. Di mana sekarang kami memposisikan dirimu menjadi karyawan biasa di perusahaan ini," jawab Pak Agus dengan wajah serius menatap Dodi.
"Apa! Menjadi karyawan biasa? Tapi, Pak Agus, tidak bisakah saya diberikan hukuman yang lebih ringan? Misal potong gaji atau apapun itu, tapi jangan cabut jabatan saya saat ini," lirih Dodi sambil memohon kepada lelaki yang menjadi atasannya tersebut.
"Maaf, tapi keputusan kami sudah tidak bisa diganggu gugat," jawab lelaki itu kemudian.
Dodi tampak pasrah. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mempertahankan jabatannya di perusahaan itu. Hukuman itu termasuk ringan karena para atasannya masih memberikan izin untuk bekerja di perusahaan itu, walaupun hanya menjadi karyawan biasa.
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu," ucap Dodi sembari melangkah gontai meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang kini terlihat menggenang di pelupuk matanya.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Masih belum cukup kah cobaan demi cobaan yang Engkau berikan kepada keluargaku selama ini," gumam Dodi yang akhirnya menitikkan air matanya.
***
Di butik Nyonya Arniz.
__ADS_1
Waktu terus berjalan dan tak terasa hari sudah siang dan waktunya istirahat siang untuk Arini.
"Arini, sini!" panggil Nyonya Arniz dengan wajah semringah.
Nyonya Arniz sangat senang melihat kesungguhan dan semangat Arini dalam bekerja. Selain itu, Arini pun terlihat begitu cepat beradaptasi dengan lingkungannya dan sebagai ungkapan terima kasihnya, wanita itu ingin mengajak Arini makan siang bersama.
"Ya, Nyonya," jawab Arini dengan langkah cepat menghampiri Nyonya Arniz.
"Ayo, kita makan siang bareng. Hari ini aku yang traktir," ucap Nyonya Arniz sembari merangkul pundak Arini yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Arini tampak sungkan. Ia merasa tidak enak kepada teman-temannya yang kini sedang menatapnya dengan tatapan heran. "Ehmm, sebenarnya saya sudah berjanji makan siang bareng sama Suci, Nyonya," jawab Arini sembari melirik salah satu karyawati yang bernama Suci tersebut.
"Baik, Nyonya," jawab Suci sambil menganggukkan kepala.
"Nah, sekarang ayo!" Nyonya Arniz menarik pelan tangan Arini menuju sebuah cafe yang berada tak jauh dari posisi butik megah itu berdiri.
Setelah memesan makanan dan minuman untuk mereka, Nyonya Arniz pun mengajak Arini untuk duduk di sebuah meja kosong. Sebenarnya Nyonya Arniz sengaja mengajak Arini makan siang bersama. Ia ingin mengorek masalah pribadi wanita muda tersebut.
Sebenarnya ia sudah memperoleh sedikit informasi tentang Arini. Namun, agar lebih meyakinkan, ia ingin mendengar cerita itu langsung dari bibir Arini. Setelah mereka duduk santai sambil menunggu pesanan mereka, Nyonya Arniz pun memulai percakapan mereka.
__ADS_1
"Arini, maafkan aku. Sebenarnya bukan maksudku untuk ikut campur dalam urusan pribadimu. Namun, niatku baik. Aku ingin membantumu mencari jalan keluar untuk permasalahan terbesar yang saat ini kamu hadapi," tutur Nyonya Arniz.
Arini mengangkat kepalanya sambil menatap lekat wanita paruh baya nan cantik tersebut. "Maksud Nyonya apa? Maaf, saya tidak mengerti," sahut Arini.
Nyonya Arniz meraih tangan Arini kemudian menggenggamnya dengan erat. Tatapan wanita itu berubah menjadi sendu. "Aku sudah tahu semua tentangmu dan masalah pelik yang baru-baru ini menimpa dirimu, Arini. Dan jujur, aku begitu syok setelah mendengar berita itu."
Arini membulatkan matanya setelah mendengar penuturan wanita paruh baya nan cantik itu. "Be-benarkah? Dari mana Anda tahu kisah memalukan itu, Nyonya? Itu aib, aku benar-benar malu," ungkap Arini yang kini tertunduk malu.
"Tidak penting dari mana aku mengetahuinya. Tapi, saat ini aku ingin mendengar cerita itu langsung darimu, Arini. Jangan takut! Niatku baik, aku hanya ingin membantumu," ucap Nyonya Arniz lagi, yang kini semakin erat menggenggam tangan Arini.
Arini menghembuskan napas berat dan kembali mengangkat kepalanya menatap Nyonya Arniz. "Apa saja yang sudah Nyonya dengar soal cerita memalukan itu?"
"Semuanya," jawab Nyonya Arniz mantap.
Arini tertawa pelan. Namun, Nyonya Arniz tahu di balik tawa wanita muda itu tersimpan luka yang begitu dalam. "Benar-benar memalukan," gumamnya.
"Ceritakan lah, Arini. Jangan kamu tutup-tutupi, di sini aku siap mendengarkan seluruh keluh kesahmu. Sekarang, aku bukanlah seorang Nyonya Arniz yang menjadi atasanmu, melainkan seorang sahabat yang siap berbagi suka dan duka kepadamu," tutur Nyonya Arniz sambil menatap lekat Arini.
Arini pun akhirnya mengangguk dan ia bersedia menceritakan masalahnya kepada wanita itu.
__ADS_1
***