Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 95


__ADS_3

"Angga, cepat!"


Lelaki yang tadi bertugas mengamankan Pak Kosim sudah duduk di atas motornya dan bersiap melajukan motor tersebut. Sementara Angga, lelaki yang bertugas mengambil seluruh uang dan harta berharga milik Nyonya Arniz, masih terpaku dengan mulut menganga.


Bagaimana tidak, kini ia sudah ketahuan. Nyonya Arniz begitu mengenali dirinya dan sekarang Angga tampak panik. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar wanita itu bungkam dan tidak melaporkan kejadian itu kepada Polisi.


"Angga! Jadi ini perbuatanmu!" pekik Nyonya!


"Diam!" bentak Angga.


Angga mengambil kembali kain penutup wajahnya dari tangan Nyonya Arniz kemudian mengenakannya lagi. Sementara Nyonya Arniz masih syok. Ia tidak menyangka bahwa ternyata yang merampoknya adalah mantan suami Suci, salah satu karyawannya.


"Tidak salah jika Suci pergi darimu, Angga. Ternyata beginilah kelakuanmu," gumam Nyonya Arniz pelan, tetapi penuh penekanan.


"Diam kamu! Hubunganku dan Suci akan baik-baik saja jika tidak ada campur tangan dari Anda! Cuih!" Angga meludah ke samping tubuhnya dan tatapan sinis lelaki itu masih terlihat jelas walaupun wajahnya tertutup dengan kain penutup wajah.


"Angga, cepat!" panggil temannya lagi.


Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu, Angga kembali menyeringai. "Maafkan aku, Nyonya Arniz. Karena kamu sudah tahu siapa aku, terpaksa aku harus melakukan ini ...."


Angga mengangkat senjata api rakitan yang masih melekat di tangannya ke hadapan Nyonya Arniz dan siap menarik pelatuknya.


"Katakan selamat tinggal, Nyonya Arniz!"


"Tidak! Jangan lakukan itu!" Wajah Nyonya Arniz mulai memucat dan kini ia benar-benar sudah berada di puncak rasa takutnya.


"Ah! Angga, cepat!" panggil lelaki itu lagi. Ia sudah mulai kesal karena Angga masih saja bermain-main dengan korban mereka.

__ADS_1


"Selamat tinggal, Nyonya Arniz. Semoga Anda tenang di sana!" ucap Angga sambil menyeringai licik. Perlahan, tapi pasti. Angga menarik pelatuk senjatanya kemudian ....


Dorrr!


Dorrr!


Dua buah peluru keluar dari selongsongnya dan meluncur dengan cepat menembus kulit dan bersarang di dada sebelah kanan Nyonya Arniz.


"Aaakhhh!" Teriakan wanita itu terdengar menggema. Tubuhnya perlahan melemah dan jatuh ke tanah.


Brugkh!


Pak Kosim yang tadi tidak berani berbuat apa-apa, kini berlari menghampiri tubuh Nyonya Arniz yang kini tergolek lemah.


"Nyonya! Nyonya, sadarlah! Kita akan segera ke Rumah Sakit!" ucap Pak Kosim panik.


Dorrr!


"Akkhh!"


Pak Kosim pun ikut terjatuh dengan posisi berjongkok. Lelaki itu meringis sambil menahan rasa sakit. Darah segar keluar dari jalan masuknya peluru tersebut. Kini kemeja berwarna biru langit yang dikenakan oleh Pak Kosim dipenuhi dengan warna merah pekat.


Setelah puas menembaki kedua korbannya, bak adegan di film-film Hollywood, Angga pun segera berlari ke arah temannya.


"Kenapa kamu malah menembak mereka, Angga!" pekik lelaki itu dengan wajah panik.


"Aku terpaksa melakukannya sebab wanita itu mengenaliku," sahut Angga sembari naik ke atas motor dan mereka pun segera pergi, meninggalkan Nyonya Arniz dan Pak Kosim yang sedang terluka di tempat itu.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Lain kali kalau bekerja itu harus lebih waspada lagi!" kesalnya.


"Tapi kerja kita hari ini tidak sia-sia! Aku dapat banyak, lihat ini!" Dengan bangganya, Angga menepuk saku jaketnya yang penuh dengan uang serta barang berharga milik Nyonya Arniz.


"Sipp! Malam ini kita akan bersenang-senang," lanjut temannya sambil tertawa puas.


Sementara itu.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Pak Kosim merogoh saku celananya. Lelaki itu mencoba menghubungi Tuan Malik yang kini sudah tiba di bandara.


Di bandara, Tuan Malik semakin tidak tenang. Dadanya terus berdebar-debar tak karuan dan hal itu membuatnya sangat tidak nyaman.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku!" gumam Tuan Malik.


Tepat di saat itu ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan cepat lelaki itu meraih benda pipih tersebut dari saku jasnya. Tuan Malik menatap layar dan di sana terpampang jelas nama Pak Kosim. Lelaki itu segera menerima panggilan dari Pak Kosim kemudian meletakkannya ke samping telinga.


"Ya, Pak. Ada apa?"


"Tu-tuan, tolong kami! Kami baru saja dirampok dan Nyonya Arniz, akh!" Pak Kosim meringis kesakitan karena darah semakin banyak keluar dari luka tembaknya.


"Arniz! Apa yang terjadi pada Istriku, Pak?! Pak Kosim, jawab aku!" pekik Tuan Malik dengan seluruh tubuh bergetar hebat.


"Kami ditembak oleh perampok itu dan Nyonya Arniz tidak sadarkan diri ...." Setelah menyampaikan hal itu, Pak Kosim pun jatuh pingsan.


Sementara Tuan Malik masih kelabakan. Lelaki itu panik, tetapi ia tidak lupa untuk melaporkan kejadian itu kepada Polisi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2