
Tak terasa si kembar pengantin sudah berusia 7 bulan, di mana mereka sudah pandai merangkak, duduk dan mulai berceloteh ria. Bayi yang diberi nama Ghani dan Ghina itu terlihat lincah ketika mereka bermain bersama.
"Sebelum mengecek toko, rencananya aku ingin ke makam terlebih dahulu," ucap Tuan Malik sembari menjatuhkan dirinya di samping Arini yang sedang duduk di sofa ruang utama.
Arini tersenyum kemudian merapikan kerah kemeja yang dikenakan oleh Tuan Malik. "Boleh aku ikut?"
"Bagaimana dengan si kecil?" tanya Tuan Malik balik.
"Kita ajak saja, Mas. Sekalian aku ikut ke toko. Aku ingin bertemu sama Suci, sudah lama aku tidak ketemu sama dia," jawab Arini.
Tuan Malik pun tersenyum sembari mengelus lembut pipi kanan Arini. "Baiklah. Sebaiknya kalian bersiap, biar aku menyiapkan car seat untuk si kecil."
Sementara Tuan Malik mempersiapkan car seat untuk kedua anaknya, Arini dan si kembar Ghani dan Ghina kembali ke kamar utama untuk bersiap-siap dengan dibantu oleh Bi Surti.
__ADS_1
Ya, selama ini Arini tidak ingin menyewa jasa babysitter untuk Ghani dan Ghina. Ia sudah cukup trauma dengan kisah masa lalunya soal babysitter. Namun, ia tetap membutuhkan seseorang yang berpengalaman untuk membantu mengurus kedua bayinya.
Arini meminta Bi Surti untuk membantunya merawat si kembar dan beruntung Bi Surti pun bersedia membantu merawat kedua bayi mungil tersebut. Bi Surti sudah menganggap Ghani dan Ghina seperti cucunya sendiri dan ia sangat menyayangi mereka.
"Wah, kalian cakep sekali! Yang satu cantik dan satunya ganteng," ucap Bi Surti sambil memperhatikan kedua bayi mungil itu.
"Iya dong, Bi. Siapa dulu dong ayahnya," sahut Arini sambil terkekeh pelan.
Arini menghampiri kedua bayinya kemudian meraih salah satu dari mereka. Arini memilih menggendong Ghani, sementara Ghina bersama Bi Surti yang kini mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan menuju halaman depan, di mana Tuan Malik sudah menunggu.
"Bibi mau ikut?" ajak Tuan Malik sambil tersenyum menatap Bi Surti.
Bi Surti menggeleng pelan. "Tidak, Tuan Malik. Saya takut mengganggu waktu kebersamaan kalian."
__ADS_1
"Ish, Bibi apaan, sih?" celetuk Arini sambil menyerahkan Ghani kepada Tuan Malik agar didudukan di car seat, di samping Ghina.
"Iya, Bi. Tidak apa-apa, kok," sambung Tuan Malik.
Namun, Bi Surti tetap bersikeras tidak akan ikut bersama mereka. Ia tidak ingin mengganggu kebersamaan Arini dan Tuan Malik serta kedua anak mereka.
Setelah semuanya siap, Pak Kosim pun segera melajukan mobil yang mereka tumpangi menuju tempat pemakaman umum, di mana mendiang nyonya Arnis dimakamkan. Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa puluh menit lamanya, kini mobil tersebut tiba di depan sebuah pemakaman umum.
Setelah mengeluarkan kedua bayi mereka dari dalam mobil, Tuan Malik dan Arini pun bergegas menghampiri makam mendiang Nyonya Arniz yang letaknya tidak jauh dari jalan besar. Setibanya di sana, Tuan Malik segera membaca doa dan di-amini oleh Arini.
"Arniz, hari ini aku kembali berkunjung. Tapi kali ini aku tidak datang sendiri. Sekarang aku mengajak serta Arini dan kedua bayi mungil kami, Ghina dan Ghani untuk menjengukmu," ucap Tuan Malik dengan mata berkaca-kaca.
Arini menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Malik sembari mengelus lembut punggung lelaki itu. "Jujur, aku rindu sama Nyonya Arniz, Mas."
__ADS_1
Tuan Malik melabuhkan sebuah kecupan hangat di puncak kepala Arini tanpa berbicara sepatah katapun.
***