
Dodi tiba di depan hotel Legend, seperti yang disebutkan oleh wanita yang tadi ia temui di Rumah Makan Idaman milik Tuan Bram. Setelah memarkirkan motornya, Dodi pun memberanikan diri untuk memasuki hotel berbintang tersebut.
Baru saja, Dodi menjejakkan kakinya di hotel tersebut, tiba-tiba ia mendengar seseorang sedang memanggilnya dari belakang. Dodi pun segera berbalik dan menatap seorang wanita dewasa dan dari segi penampilannya, Dodi yakin bahwa wanita itu bukanlah wanita biasa.
"Nyonya memanggil saya?" tanya Dodi kebingungan.
"Ya. Apa benar kamu adalah suaminya Anissa? Anissa Rahma?" tanya wanita itu dengan begitu serius menatap Dodi.
Dodi menautkan kedua alisnya heran. Ia bingung bagaimana wanita itu tahu bahwa dirinya adalah suami dari Anissa. "Ehm, ya, benar. Memangnya ada apa ya, Nyonya?"
"Kenalkan, namaku Lily. Kamu bisa panggil aku Bu Lily. Aku adalah istrinya Tuan Bram. Laki-laki yang kini sedang menghabiskan waktunya bersama istrimu, Anissa. Di sebuah kamar di hotel ini," ucap Nyonya Lily sembari mengulurkan tangannya kepada Dodi dan Dodi pun segera menyambutnya walaupun ia masih terlihat ragu-ragu.
"Jadi Nyonya ...."
"Ya, aku ingin mengajakmu menggerebek pasangan itu. Aku sudah lelah dengan permainan mereka dan aku ingin mengakhiri ini semua," ucap wanita itu dengan tegas.
Dodi melihat ke dalam mata wanita dewasa tersebut. Walaupun terlihat begitu tegar, tetapi Dodi yakin bahwa banyak kekecewaan yang sudah dilalui oleh wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu mau atau tidak?" tanya Nyonya Lily sekali lagi, karena Dodi hanya diam tanpa bicara sepatah katapun.
Akhirnya Dodi pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Saya setuju," jawab Dodi.
Nyonya Lily tersenyum puas. Wanita itu segera melenggang menuju meja resepsionis dan mulai bertanya-tanya di sana. Sementara Nyonya Lily mencari tahu soal keberadaan Tuan Bram dan Anissa kepada Resepsionis tersebut, Dodi hanya diam sambil memperhatikan sekeliling hotel dan mencoba mencari keberadaan Anissa.
Perdebatan demi perdebatan antara Resepsionis dan Nyonya Lily terjadi di sana dan cukup memakan waktu. Hingga akhirnya Nyonya Lily pun berhasil meyakinkan Resepsionis dan para petugas hotel bahwa Tuan Bram adalah suami sahnya.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, kami harap jangan sampai ada keributan yang membuat penghuni kamar lain terganggu," ucap salah satu petugas hotel.
Dengan ditemani dua orang petugas hotel, termasuk seorang security, Nyonya Lily dan Dodi pun melenggang menuju kamar di mana Anissa dan Tuan Bram masih asik melakukan pergulatan panas mereka.
"Ayo, cepat buka! Biar kita lihat dengan mata kepala kita sendiri apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana!" titah Nyonya Lily kepada petugas hotel karena sudah tidak sabar ingin melihat apa yang terjadi di dalam ruangan mewah tersebut.
Sementara Dodi masih diam seribu bahasa. Ia berharap bisa mengendalikan emosinya jika seandainya ia melihat sesuatu yang tidak diinginkan di dalam sana.
"Baiklah, Bu."
__ADS_1
Perlahan petugas hotel membuka pintu kamar VIP tersebut dengan menggunakan kunci serep. Sementara Anissa dan Tuan Bram masih tidak menyadari bahwa saat itu pintu kamar mereka sudah terbuka.
Setelah pintu terbuka lebar, petugas hotel tersebut meminta Nyonya Lily dan Dodi untuk masuk terlebih dahulu. Sementara mereka mengikuti dari belakang.
Dengan langkah cepat, Nyonya Lily memasuki ruangan itu dan disusul oleh Dodi yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Ketika mereka tiba di depan tempat tidur berukuran King Size tersebut, alangkah terkejutnya Dodi dan Nyonya Lily.
Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri di mana Anissa tengah bermain di atas perut gendut Tuan Bram. Tubuh polos wanita itu seperti mandi keringat. Bahkan udara segar yang keluar dari AC yang ada di ruangan itu tidak mampu mendinginkan suasana panas mereka.
"Anissa!" teriak Dodi yang sudah tidak sanggup melihat adegan panas istrinya dengan lelaki tua itu. Sementara Nyonya Lily tidak bisa berkata-kata lagi. Matanya membulat sempurna dan mulutnya pun ikut menganga.
Anissa yang sedang asik menggenjot tubuh Tuan Bram, terperanjat setelah mendengar teriakkan Dodi. Ia segera melepaskan penyatuan tubuhnya bersama Tuan Bram kemudian turun dari tempat tidur. Anissa meraih sebuah kimono mandi yang tergeletak di lantai kamar kemudian segera mengenakannya.
"M-Mas Dodi," ucap Anissa dengan terbata-bata.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Ternyata selama ini beginian kelakuanmu di belakangku!" kesal Dodi dengan wajah merah padam.
Bukan hanya Dodi, Nyonya Lily pun ikut emosi. Ia menghampiri Tuan Bram yang masih terdiam di atas tempat tidur. Lelaki tua itu mencoba menutupi tubuh polosnya dengan menggunakan selimut.
__ADS_1
"Dasar bandot tua! Sudah bau tanah, bukannya tobat malah semakin ngelunjak! Aku doakan semoga kamu kena HIV sekalian biar mampus!" kesal Nyonya Lily sembari memukulkan tas mahalnya ke kepala pelontos Tuan Bram.
...***...