
Arini tampak suntuk. Sudah berjam-jam ia mondar-mandir di dalam kamar, menunggu kedatangan Tuan Malik. Namun, hingga ia mulai merasa ngantuk pun, masih belum ada tanda-tanda kedatangan lelaki itu.
"Dia sedang apa?" Arini melirik jam dinding. "Apa sebaiknya aku susul saja, ya?"
Arini melangkah menuju pintu kamar. Namun, ketika ia ingin meraih gagang pintu tiba-tiba saja ia kembali ragu dengan keputusannya.
"Ah, sebaiknya jangan. Nanti Tuan Malik malah memikirkan yang tidak-tidak tentangku," gumam Arini.
Cukup lama Arini terdiam dia depan pintu hingga akhirnya ia pun kembali memutuskan untuk menyusul Tuan Malik di ruang pribadinya. Ia keluar dari kamar itu dan berjalan menuju ke ruang kerja Tuan Malik. Sebelumnya ia tidak tahu di mana ruangan itu berada, tetapi setelah salah seorang pelayan memberitahunya, ia pun segera menyusul ke tempat tersebut.
Setibanya di ruangan tersebut, Arini pun segera mengetuk pintunya. Namun, tak terdengar ada jawaban dari dalam ruangan itu. Arini mengetuk pintu hingga beberapa kali, tetapi tetap sama. Ruangan itu terasa hening dan sepertinya tidak ada orang di dalamnya.
Akhirnya Arini memberanikan diri membuka pintu ruangan itu dan ternyata sama sekali tidak dikunci. Pintu tersebut terbuka dan Arini pun segera melongokkan kepalanya masuk ke dalam ruangan itu.
Seperti dugaannya, ruangan itu kosong. Tak ada sesiapapun di sana. Arini kembali menutup pintu tersebut dengan wajah bingung.
"Ruangannya kosong. Trus, di mana sekarang Tuan Malik?"
Arini terpaksa kembali menuju kamarnya dengan langkah gontai. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu ruangan yang begitu besar. Ruangan itu tampak berbeda dengan ruangan lainnya yang ada di rumah megah tersebut, termasuk kamarnya bersama Tuan Malik.
__ADS_1
Perlahan Arini mendekat dan ternyata pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Arini masih bisa mengintip ke dalam ruangan itu dari sela-sela pintu. Cahaya di ruangan itu tampak remang-remang karena hanya lampu tidur yang menyala.
Namun, ia masih bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam ruangan itu. Ya, dialah Tuan Malik. Lelaki itu duduk di tepian tempat tidur yang sangat mewah.Di tangan lelaki itu ada sebuah pakaian tidur yang terus ia pegang dan sekali-sekali di cium olehnya.
Walaupun tidak terlihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Tuan Malik, tetapi Arini tahu saat itu Tuan Malik tidak sedang baik-baik saja. Arini terdiam sambil terus memandangi lelaki itu di balik sela pintu.
Arini menghela napas panjang dan berniat pergi dari ruangan tersebut. Namun, baru saja ia membalikkan badannya, ia terperanjat ketika mendapati Bi Surti yang ternyata sedang berdiri di belakang sambil memperhatikan dirinya.
"Bi Surti!" pekik Arini pelan sembari mengelus dadanya.
"Ngapain Non di sini?" tanya Bi Surti balik.
Arini meraih tangan Bi Surti kemudian mengajaknya menjauh dari ruangan tersebut. Setelah jaraknya sudah cukup jauh, ia pun melepaskan tangan Bi Surti.
"Itu kamar Tuan Malik bersama mendiang Nyonya Arniz. Setelah Nyonya Arniz meninggal, Tuan Malik melarang siapapun masuk ke dalam sana. Bahkan kami pun tidak boleh," jawab Bi Surti.
Arini mengangguk pelan. Sekarang ia tahu pakaian siapa yang sedang di pegang oleh Tuan Malik barusan.
"Bahkan hanya untuk membersihkan ruangan itu?" tanya Arini lagi.
__ADS_1
"Ya. Tuan Malik membersihkan kamar itu seorang diri. Pokoknya dia tidak ingin barang-barang yang ada di ruangan itu di sentuh oleh siapapun."
Arini menghela napas berat. "Apa Tuan Malik selalu menghabiskan waktunya di dalam ruangan itu?"
Bi Surti mengangguk pelan. "Ya, Non Arini. Bibi pikir setelah menikah, Tuan Malik akan berubah, tetapi ternyata masih sama saja," lirih Bi Surti.
"Aku mengerti bagaimana perasaan Tuan Malik, Bi. Tidak mudah berpaling dari seseorang yang kita cintai. Lagi pula pernikahan ini pun terjadi hanya karena permintaan mendiang Nyonya Arniz sebelum ia meninggal."
"Ya, Tuan Malik pernah bercerita tentang itu kepada sahabatnya dan secara tidak sengaja Bibi mendengarnya."
"Ya, sudah kalau begitu. Aku ke kamar dulu ya, Bi. Sebaiknya aku tidur saja. Aku sudah mengantuk," ucap Arini.
"Baiklah. Selamat malam, Non. Semoga mimpi indah," jawab Bi Surti.
Arini pun kembali ke kamarnya. Sebelum menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, Arini sempat memperhatikan benda (kasur) itu dengan seksama. Tatapannya kosong menerawang dan ia tampak sedih.
"Sepertinya di tempat ini tidak akan pernah terjadi apa-apa." Arini menghela napas kemudian meraih sebuah bantal dan selimut kemudian membawanya ke sofa.
"Sudahlah, anggap saja aku nginap di rumah ini dan entah sampai kapan aku menginap di sini, hanya Tuhan dan Tuan Malik lah yang tahu jawabannya."
__ADS_1
Arini menaruh bantalnya di sofa kemudian tidur di sana dengan tenang.
...***Lee...