Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 117


__ADS_3

Di ruang pribadi mendiang Nyonya Arniz, yang kini ditempati oleh Tia.


"Jadi kamu yang namanya Arini?" ucap Tia dengan tatapan sinis memperhatikan Arini yang kini berdiri di depan mejanya.


"Y-ya, saya," jawab Arini dengan terbata-bata. Ia merasa tidak nyaman saat Tia tiba-tiba menatapnya seperti itu. Beda halnya dengan Toni, lelaki itu terus menyeringai sambil memperhatikan dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip sedikitpun.


"Kamu lihat 'kan, Tia. Orangnya saja secantik ini, bagaimana Tuan Malik tidak tertarik kepadanya, coba!" bisik Toni yang sedang duduk di sisi meja, tak jauh dari posisi Tia.


Tia menekuk wajahnya dengan sempurna. Namun, ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Toni barusan soal Arini. Ya, Tia mengakui bahwa Arini memang sangat cantik dan ia pun yakin Tuan Malik pun tergila-gila pada wanita itu.


"Kamu calon istrinya Ayahku, 'kan? Jawab dengan jujur, karena aku sudah tahu semuanya," ucap Tia.


Arini menghembuskan napas berat. Ia sudah tahu bahwa topik pembicaraan yang akan mereka bahas kali ini memang soal pernikahannya bersama Tuan Malik yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.


"Ya," jawab Arini, singkat dan padat.


Tia mendengus kesal. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari Ayahku, Arini? Pasti uang dan harta kekayaannya, 'kan?"


Arini menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak terima ketika Tia menganggapnya seperti wanita matre yang bersedia menikahi Tuan Malik hanya karena uang dan kekayaannya semata.


"Tidak, itu sama sekali tidak benar. Jika kamu sudah mengetahui semua tentang aku dan Tuan Malik, itu artinya kamu sudah tahu apa alasan kami menikah. Lalu, kenapa kamu masih berpikiran buruk tentangku?" kesal Arini. Arini bahkan sampai melupakan bahasa formalnya kepada seorang atasan.


"Lalu, kamu juga ingin mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Ayah bahwa pernikahan kalian karena permintaan terakhir Ibu, begitu? Hhh, basi. Aku tetap tidak percaya," sahut Tia dengan sambil memasang wajah malas.

__ADS_1


"Ya, terserah. Itu urusanmu. Tapi pada kenyataannya memang seperti itu," jawab Arini.


Tia menekuk wajahnya. "Heh Arini, pasang telingamu baik-baik. Sejak hari ini kamu aku pecat! Segera angkat kakimu dari butik ini, karena aku tidak butuh seorang karyawan seperti dirimu," tegas Tia.


Brakk!


Tepat di saat itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Arini, Tia dan Toni refleks menoleh ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang sudah berani membuka pintu tersebut tanpa permisi.


"Ayah!" pekik Tia.


Toni yang tadinya duduk di atas meja, segera turun dan segera menghampiri Tia. Tuan Malik memasuki ruangan itu dengan wajah masam. Ia menatap wajah Tia dan Toni secara bergantian dan kini ia berdiri tepat di samping Arini.


"Aku pastikan, suatu saat nanti kamu pasti akan menyesali ini, Tia!" tegas Tuan Malik sembari meraih tangan Arini dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Toni dan Tia kembali saling melempar pandang untuk beberapa saat. Kemudian mereka kembali memperhatikan Tuan Malik yang kini membawa Arini pergi dari tempat itu.


"Kan, apa kubilang?" Toni kembali memanaskan suasana hati Tia yang sejak tadi memang sudah tertutup oleh emosi.


"Ya, Mas benar. Hal ini membuat aku semakin yakin bahwa sebenarnya Ayah dan wanita itu memang memiliki hubungan spesial sebelumnya," sahut Tia.


Bukan hanya Tia dan Toni, seluruh karyawan di butik Zhanita Collection kebingungan melihat aksi Tuan Malik. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala mereka seputar hubungan Tuan Malik dan Arini.


"Ehm, Tuan. Sebentar," ucap Arini sembari menarik pelan tangannya dari genggaman Tuan Malik.

__ADS_1


Tuan Malik menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Arini.


"Aku ingin membereskan barang-barangku dulu."


Tuan Malik mengangguk pelan, kemudian mempersilakan Arini untuk membereskan barang-barangnya. "Baiklah, aku tunggu kamu di mobil," jawabnya.


Setelah Tuan Malik kembali ke mobilnya, Arini segera membereskan tas serta barang-barang bawaannya. Suci yang kebingungan, segera menghampirinya.


"Arini, kamu mau kemana?" tanya Suci dengan wajah cemas. Ia sudah memiliki firasat buruk saat Tia memanggil sahabatnya itu.


"Aku dipecat, Ci," lirih Arini yang masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Ya, Tuhan!" Suci segera memeluk Arini dan menitikkan air matanya. "Kalau kamu dipecat, trus aku di sini sama siapa, Rin? Aku pasti akan sangat kesepian," ucap Suci.


"Tidak apa. Kamu akan baik-baik saja, kok."


Arini melerai pelukannya bersama Suci sebab ia tidak bisa berlama-lama berada di butik tersebut. Selain karena keberadaannya tidak lagi dibutuhkan, ia pun tidak ingin Tuan Malik menunggunya lebih lama lagi.


"Trus, bagaimana jika aku kangen kamu?" tanya Suci lagi sambil menyeka air matanya.


"Ya ampun, Ci. Aku masih berada di kontrakan yang sama. Kamu masih bisa menemani aku di sana kapan saja kamu mau," jawab Arini sambil terkekeh pelan melihat ekspresi sahabatnya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2