
"Ba-baik!" Dengan tergesa-gesa Suci menuju kamarnya dan disusul oleh Angga dari belakang. Suci mengambil dompet yang tersimpan di dalam lemari pakaian dan di dalam dompet tersebut tampak lembaran uang milik Suci yang tersusun rapi dan jumlahnya pun cukup banyak.
Suci mengambil beberapa dan menyerahkannya kepada Angga dengan gemetar. Wajah Angga terlihat masam karena ia tidak puas dengan pemberian Suci saat itu.
"Apaan ini, Suci? Uang ini tidak cukup ke mana-mana. Sekarang berikan semuanya padaku!" titahnya dengan paksa merebut dompet yang ada di genggaman Suci kemudian mengambil seluruh uang yang tersimpan di dalamnya.
Suci mencoba mempertahankan miliknya, tetapi apalah daya. Kekuatan lelaki itu jauh lebih besar darinya. Ia mencoba menghiba kepada lelaki itu, tetapi tidak digubris sedikit pun.
"Jangan ambil semuanya, Mas! Uang itu untuk biayaku sehari-hari," lirih Suci.
"Diam! Lagi pula aku akan menggantinya, kok. Aku janji jika aku menang, maka aku akan kembalikan semuanya dua kali lipat!" kata Angga dengan mantap.
Tentu saja Suci tidak percaya begitu saja. Kejadian ini bukan sekali dua dan lelaki itu sudah sering mengambil uangnya. Bahkan yang dulu-dulu pun tidak pernah diganti olehnya.
"Lagi pula kamu masih bisa pinjam uang kepada Boss-mu yang kaya raya itu, 'kan? Wanita yang sudah membantumu pergi dari hidupku!" lanjut Angga dengan nada kesal.
Suci terdiam dan dari pada berurusan lebih jauh lagi dengan lelaki jahat itu, Suci pun membiarkan uang itu melayang ke tangan Angga dan berharap lelaki itu cepat pergi dari kontrakannya.
__ADS_1
"Bawalah, sekarang pergi dari sini, Mas! Ini sudah hampir gelap," ucap Suci kepada Angga yang masih merapikan susunan uang tersebut kemudian menyimpannya ke dalam saku jaketnya. Wajah lelaki itu tampak semringah dan ia bahagia karena sudah memiliki uang yang cukup banyak untuk berjudi bersama teman-temannya.
Setelah selesai memasukkan semua uang yang ia dapat dari Suci, Angga pun tersenyum. "Terima kasih, Suci. Kamu memang sangat baik."
Mata Angga tertuju pada bulatan kenyal milik Suci yang hanya tertutup dengan handuk. Tiba-tiba saja hasrat lelaki itu naik dan ingin sekali mengulang masa lalunya bersama mantan istrinya yang cantik tersebut.
Apa lagi menurut Angga, Suci terlihat sangat menggairahkan dengan rambut panjang yang masih basah dan tubuh yang hanya terlilit handuk tersebut. Lelaki itu mulai menghampiri Suci dengan lebih dekat lagi.
Suci tahu bahwa saat itu Angga memiliki keinginan lain terhadap dirinya. Ia terus mencoba menjaga jarak dari lelaki itu sambil memegang handuknya dengan erat.
"Kamu tidak pernah berubah, Suci. Kamu tetap terlihat cantik dan menggairahkan," ucapnya sambil menyeringai menatap Suci.
"Kamu mau apa, Mas Angga? Pergilah dan menjauh dari sini!" titah Suci yang sudah mulai ketakutan.
Namun, bukannya menggubris ucapan Suci, lelaki itu malah semakin semangat ingin mencicipi tubuh indah mantan istrinya itu. "Sekali saja, Suci. Apakah kamu tidak kangen sama si Abangnya Mas?" tanya Angga sambil mengelus juniornya yang sudah mulai mengeras.
"Tidak! Aku tidak mau! Mas harus ingat, kita sudah tidak resmi bercerai dan Mas sudah bukan siapa-siapanya Suci lagi. Jika kita melakukan itu, artinya kita sudah berzina, Mas!" Suci mencoba mengingatkan.
__ADS_1
Peringatan Suci saat itu seperti angin lalu di telinga Angga. Hasratnya sudah menguasai hati dan pikirannya dan lelaki itu terus menghampiri Suci hingga akhirnya wanita itu terjebak antara tubuhnya dan dinding kamar.
"Jangan, Mas! Aku mohon!" lirih Suci dengan mata berkaca-kaca.
Angga mencengkram erat handuk yang menutupi tubuh polos Suci kemudian menariknya dengan kasar. Akhirnya handuk itu terlepas dari tubuh wanita itu dan kini tampaklah kulit putih mulus milik Suci di depan mata Angga.
"Jangan, Mas!" Suci masih mencoba menghiba dan berharap Angga tidak akan melakukan itu padanya. Namun, ia salah besar. Lelaki itu dengan beringasnya membawa tubuh mungilnya ke atas ranjang dan melemparkannya dengan kasar.
Dengan cepat Angga melepaskan pakaian yang masih melekat di tubuhnya dan sebelum lelaki itu melepaskan celana jeans yang ia kenakan, Suci menendang juniornya Angga dengan keras hingga lelaki itu terpental ke lantai kamar.
Melihat kesempatan itu, Suci pun segera melarikan diri dari kamar tersebut sembari meraih handuk yang tadi dilemparkan oleh Angga ke lantai. Sambil melilitkan handuk ke tubuhnya, Suci terus berlari sambil berteriak meminta tolong. Sementara Angga terlihat panik saat Suci berhasil melarikan diri. Lelaki itu akhirnya mengejar mantan istrinya itu dari belakang.
"Suci, tunggu!" teriak Angga, berharap wanita itu menghentikan langkahnya.
Kini Suci berada di pinggir jalan raya. Wanita itu tampak bingung karena tidak menemukan satu orang pun yang dapat menolongnya. Bahkan jalan raya pun terlihat lengang.
"Ya Tuhan, tolong aku!" gumam Suci dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
***