Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 50


__ADS_3

Arini berpegangan di pinggang Hendra dengan erat ketika lelaki itu mulai melajukan motornya.


"Oh ya, Arini. Tadi aku sudah bertanya soal lowongan pekerjaan di kantin sekolah. Katanya, kalau kamu memang ingin bekerja di sana, besok tinggal masuk aja, bagaimana?" ucap Hendra kepada Arini yang duduk di belakangnya.


"Ehm maaf, Mas Hendra. Barusan aku dapat pekerjaan di butik Nyonya Arniz, Zhanita Collection, dan besok aku sudah bisa bekerja di sana," jawab Arini.


"Benarkah? Wah, selamat ya. Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya," jawab Hendra dengan wajah semringah.


"Iya, Mas. Terima kasih."


"Kalau kamu mau, besok kita bisa berangkat bareng lagi," ucap Hendra lagi.


"Loh, tapi jalan kita tidak searah, Mas. Sekolah Mas 'kan belok ke kanan setelah persimpangan sedangkan butik Nyonya Arniz belok kiri. Lagian aku tidak ingin merepotkan, Mas Hendra" sahut Arini.


"Tidak apa, lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh."


Tiba-tiba perut Arini terasa sakit. Ia bahkan sampai lupa bahwa dirinya sama sekali belum menyentuh makanan sedikitpun sejak kemarin sore.

__ADS_1


"Ya ampun, Mas Hendra. Bisakah kita mampir ke warung makan sebentar? Aku lapar sekali. Sejak kemarin sore aku tidak menyentuh makanan apapun. Aku lupa, pantas saja lututku terasa bergetar saat diajak jalan," tutur Arini sambil tersenyum kecut.


"Astaga, Arini! Kenapa sampai lupa makan? Jangan dibiasakan, nanti kamu malah jatuh sakit lagi. Baiklah, sekarang kita cari warung makan," sahut Hendra.


Sambil memacu motornya, Hendra melirik kiri dan kanan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah warung makan pinggir jalan dan segera menepikan motornya di samping warung makan tersebut.


Setelah memarkirkan motornya, Handra pun segera menuntun Arini memasuki warung makan tersebut.


"Kamu mau makan apa?" tanya Hendra kepada Arini.


Arini mengintip menu yang ada di etalase kaca. "Ayam lalapan saja dan minumnya teh es," jawab Arini.


Setelah selesai memesan makanan, Hendra dan Arini pun duduk santai di kursi yang sudah disediakan sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Bagaimana pernikahan Mas Dodi, apa acaranya berjalan lancar?" tanya Arini sambil menyunggingkan sebuah senyuman kepada Hendra. Namun, di balik senyuman itu, Hendra tahu ada hati yang hancur berkeping-keping.


Hendra menghembuskan napas berat. "Aku tidak tahu, Arini. Aku masih mengajar ketika mereka melaksanakan pernikahan mereka hari ini. Tapi, Ibu menyaksikan semuanya dan kata Ibu acaranya berjalan dengan lancar," jawab Hendra dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Baguslah, setidaknya dengan begitu status Azkia saat ini menjadi jelas dan Mas Dodi sudah membuktikan bahwa ia sudah menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Ya, walaupun dengan begitu ia harus mengorbankan perasaan istrinya yang lain," tutur Arini.


Hendra meraih tangan Arini yang mengulur di atas meja kemudian menggenggamnya dengan erat. "Yang sabar ya, Arini. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan, melebihi batas kemampuan hambanya. Dan akan ada pelangi setelah badai," ucap Hendra.


Tepat di saat itu seorang pelayan di warung makan tersebut datang menghampiri meja Arini dan Hendra dengan membawakan pesanan mereka.


Setelah pesanan mereka tersaji di atas meja, mereka pun mulai menikmati makanan itu dengan lahapnya. Terutama Arini yang memang sudah sangat kelaparan.


"Jangan sungkan-sungkan ya, Mas. Mas tenang saja, hari ini aku yang traktir. Jika Mas pengen nambah, tinggal bilang saja sama mereka," ucap Arini yang kini sedang menikmati makanannya.


Hendra tersenyum lebar. "Wah, ada yang lagi banyak duit, nih," goda Hendra.


"Ya, aku baru saja menjual ponsel kesayanganku, Mas. Aku pikir uang itu cukup untuk menyewa kontrakan di sekitar tempat kerjaku nanti, tapi ternyata uangnya tidak cukup," jawab Arini sambil terkekeh tanpa beban.


Seketika Hendra terdiam beberapa saat setelah mendengar penuturan wanita itu. "Jadi, ponselmu sudah kamu jual di gerai ponsel tadi pagi? Dan sekarang kamu tidak punya ponsel lagi?" tanya Hendra kemudian sambil menautkan kedua alisnya.


"Ya," jawab Arini sambil menganggukkan kepalanya. "Lagi pula aku yakin, ponsel itu sudah tidak berguna lagi. Memangnya siapa yang akan menghubungiku? Mas Dodi?" Arini kembali tertawa renyah dan tampak tanpa beban.

__ADS_1


Hendra membuang napas berat. Dadanya terasa sangat sesak. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sosok wanita di depannya itu.


...***...


__ADS_2