
Beberapa bulan kemudian.
"Sedikit lagi, Non! Sedikit lagi!"
"Eehmmm! Akh," pekik Arini dengan napas tersengal-sengal. Sementara Tuan Malik tidak hentinya berdoa. Mendoakan keselamatan untuk istri serta kedua calon buah hatinya.
Tepat di saat itu, sebuah tangisan keras terdengar memecah keheningan di ruangan tersebut. Suara tangisan bayi pertama Tuan Malik dan Arini yang berjenis kelamin laki-laki.
Ooeee .... ooeee ....
Tuan Malik tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap bayi mungil yang kini berada di pelukan salah satu Perawat di Rumah Sakit bersalin tersebut. Bayi yang masih berlumuran dengan cairan berwarna keruh serta kemerahan itu menangis lantang seolah memberitahu kepada dunia bahwa dirinya sudah lahir dengan selamat.
Namun, itu hanya babak pertama. Kecemasan Tuan Malik masih belum berakhir. Masih ada satu bayi yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan yang ada di dalam perut Arini saat ini.
"Anda masih kuat 'kan, Nona?" tanya Dokter sambil tersenyum menatap Arini.
Arini mengangguk pelan sambil menetralkan napasnya. "Ya, Dok! Saya masih kuat. Benar kan, Mas?"
Arini melirik Tuan Malik yang sejak tadi tidak bicara sepatah kata pun. Namun, bibir tipis nan seksi itu terus melantunkan doa-doa untuknya dan juga kedua calon bayi mereka.
Tuan Malik hanya tersenyum dan tangannya mengelus lembut puncak kepala Arini. Tak lupa, ia juga menyeka keringat yang sejak tadi terus mengucur di kening istrinya itu.
Tidak berselang lama, rasa sakit itu kembali menyerang Arini. Kini giliran bayi kedua mereka yang meronta untuk segera dikeluarkan dari tempat persembunyiannya. Arini kembali meringis, menahan rasa sakit yang ia rasakan pada perutnya .
Sama seperti yang pertama, Dokter pun kembali menginstruksikan bagaimana cara mengejan yang baik dan benar agar bayi mungil itu lahir dengan selamat. Rasa sakit itu semakin intens saja dan setelah beberapa menit kemudian, suara tangisan kedua pun terdengar.
__ADS_1
Ooeee ... ooeee ....
Huufhhh!
Arini menghela napas lega, begitu pula Tuan Malik. Lelaki itu tak hentinya mengucap syukur dan terima kasih kepada Arini yang kini sudah kelelahan. Tenaganya sudah terkuras habis dan sekarang ia butuh istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya.
Sebenarnya Dokter menawarkan untuk melakukan operasi sesar kepada Arini. Namun, karena Arini bersikeras bahwa ia ingin melahirkan secara normal, Dokter pun tidak bisa memaksanya. Selain itu, kondisi kedua bayinya pun tidak dalam masalah dan sebab itu lah Arini sangat yakin bahwa ia mampu melahirkan secara normal.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Tuan Malik.
"Ya, aku baik-baik saja, Mas. Aku hanya lelah saja," jawab Arini pelan.
Tepat di saat itu, dua orang perawat datang menghampiri Arini dan Tuan Malik sambil menggendong kedua bayi kembar pasangan itu. Bayi yang baru saja selesai dibersihkan.
Salah seorang perawat menyerahkan bayi berjenis kelamin perempuan kepada Tuan Malik. Sementara yang berjenis kelamin laki-laki, diserahkan kepada Arini. Tuan Malik menyambut bayi cantiknya dengan sangat antusias, begitu pula Arini.
Pasangan itu tersenyum dengan penuh haru ketika menatap wajah bayi mereka untuk pertama kalinya. Tuan Malik bahkan tidak kuasa untuk tidak meneteskan air mata saat bersitatap dengan kedua netra indah milik bayi mungil berjenis kelamin perempuan tersebut.
"Ya, Tuhan! Terima kasih karena sudah memberikan kami kepercayaan untuk menjadi orang tua dari kedua bayi mungil ini," gumam Tuan Malik sambil menyeka air matanya.
"Lihatlah, Mas. Mata dan hidungnya benar-benar mirip kamu," ucap Arini sembari memperlihatkan bayi mungil yang sedang berbaring di samping tubuhnya.
Tuan Malik kembali tersenyum. "Benarkah? Kalau menurutku malah lebih mirip ke kamu, Sayang. Coba perhatikan bentuk wajahnya," sahut Tuan Malik dengan sangat antusias.
"Ya, sudahlah. Mereka mirip kita berdua karena kita 'kan orang tua mereka," jawab Arini sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
"Iya, kamu benar."
***
Berita kelahiran bayi kembar pengantin milik Tuan Malik dan Arini, akhirnya terdengar juga hingga ke telinga Dodi yang sebentar lagi akan menuntaskan masa hukumannya. Walaupun wajah lelaki itu tampak murung. Namun, ia turut bahagia dengan berita membahagiakan tersebut.
"Syukurlah, aku turut bahagia, Bu. Arini memang pantas mendapatkan semua kebahagiaan itu," ucap Dodi dengan kepala tertunduk di hadapan Bu Nining yang kini sedang menjenguknya.
"Kamu tahu, Nak. Sampai sekarang Ibu masih merasa sangat berdosa karena selama ini selalu memperlakukan Arini dengan sangat tidak baik. Dahulu Ibu sering menghardiknya dengan kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut seorang Ibu sepertiku," tutur Bu Nining dengan wajah sendu.
Dodi mengangkat kepalanya kemudian menatap lekat Bu Nining. "Bu, jika Arini sudah membuktikan bahwa dirinya tidak mandul. Itu artinya yang mandul adalah aku?"
Bu Nining hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Dodi. Namun, tatapan mata wanita paruh baya itu seolah memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Dodi barusan.
"Apa kah itu benar, Bu?" tanya Dodi sekali lagi untuk meyakinkan.
"Entahlah, Nak. Ibu tidak tahu," sahut Bu Nining.
"Tapi entah kenapa aku sangat yakin bahwa aku memang mandul, Bu. Buktinya, mendiang Anissa malah hamil anak orang lain," jawab Dodi.
"Sudahlah, Dod. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang saatnya kita fokus dengan kehidupan kita selanjutnya," sahut Bu Nining.
"Ya, Ibu benar."
*** The End ***
__ADS_1