Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 70


__ADS_3

"Aku pamit dulu ya, Arini. Terima kasih sudah bersedia mengajakku menginap di tempatmu," ucap Suci, sebelum ia kembali ke kontrakannya.


"Sama-sama. Malah aku senang karena ada teman tidur yang bisa diajak bicara," sahut Arini.


"Ya, sudah. Aku mau mandi, udah bau asem. Dah, Arini!" Suci melambaikan tangan kepada Arini kemudian melenggang menuju kontrakannya yang berjarak tak jauh dari kontrakan Arini.


Setelah Suci pergi, Arini pun segera bersiap-siap. Hari ini ia akan kembali bekerja sama seperti biasanya. Sementara itu, Suci sudah tiba di depan kontrakannya. Ketika pintu tersebut terbuka, Suci dikejutkan dengan kondisi rumahnya yang berantakan.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada rumahku!" pekik Suci dengan mata berkaca-kaca.


"Mungkinkah maling yang melakukan ini semua?" Suci menelisik seluruh ruangan dan ia tidak kehilangan apapun. Hanya saja benda-benda yang ada di rumah tersebut sudah tidak lagi berada di posisinya. Semuanya berserak di lantai ruangan dan ada beberapa benda miliknya yang hancur berantakan. Selain itu, ia juga mendapati salah satu jendela yang sepertinya sengaja dirusak oleh pelaku.


Suci terdiam sambil memikirkan siapa yang sudah tega melakukan hal itu kepadanya dan tiba-tiba ia teringat akan seorang laki-laki yang bernama Angga. Laki-laki yang selama ini pernah menemaninya selama beberapa tahun terakhir. Lelaki yang sudah memanfaatkan dirinya dan menjadikannya sebagai tulang punggung.


"Mas Angga? Mungkinkah semua ini perbuatan Mas Angga?" gumam Suci.


Beberapa menit kemudian.


"Suci mana, ya? Tumben lama. Apa mungkin dia sudah berangkat lebih dulu?" gumam Arini sambil memperhatikan ke arah jalan yang biasa dilewati oleh Suci. Sudah sejak tadi ia menunggu kedatangan sahabatnya itu untuk berangkat bersama-sama ke tempat kerja.


Namun, karena Suci masih tidak kelihatan batang hidungnya, akhirnya Arini memutuskan untuk menyusul ke kontrakan sahabatnya itu. Setibanya di tempat tersebut, Arini terkejut ketika melihat Suci yang masih sibuk merapikan rumahnya. Wanita itu bahkan masih mengenakan baju daster semalam.

__ADS_1


"Suci, apa yang sudah terjadi?" tanya Arini sembari memperhatikan sekeliling ruangan di kontrakan Suci.


"Sepertinya tadi malam Mas Angga berulah lagi, Arini. Beruntung tadi malam aku menginap di tempatmu. Jika tidak, aku tidak tahu akan seperti apa nasibku hari ini," tutur Suci dengan wajah sedih.


"Ya, Tuhan! Apa kamu sudah melaporkannya ke Polisi?" tanya Arini cemas.


Suci menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak berani. Aku takut kalau nantinya Mas Angga akan menaruh dendam padaku," lirih Suci. "Oh ya, Arini. Barusan aku meminta izin kepada Nyonya Arniz untuk tidak masuk kerja hari ini. Aku harus membereskan kembali rumahku. Jadi, sebaiknya kamu berangkat saja, takutnya nanti kamu malah terlambat," lanjut wanita itu.


Arini mengembuskan napas berat. Ia menghampiri Suci kemudian memeluk sahabatnya itu. "Yang sabar ya, Suci. Semoga hal ini tidak akan terjadi lagi. Dan aku ingin minta maaf karena tidak bisa menemanimu hari ini," tutur Arini dengan wajah sedih menatap sahabatnya tersebut.


Suci tersenyum hangat sembari melerai pelukannya bersama Arini. "Tidak apa-apa, Arini. Sebaiknya kamu berangkat gih! Nanti Nyonya Arniz marah-marah lagi," sahutnya.


Sementara itu di kediaman Nyonya Arniz.


Tuan Malik memperhatikan Nyonya Arniz yang terdiam di sofa ruang utama. Wajah Nyonya Arniz terlihat kusut dan Tuan Malik yakin bahwa ada sesuatu yang menggangu pikiran istrinya itu.


Lelaki itu menghampiri Nyonya Arniz kemudian duduk di sampingnya sambil tersenyum hangat. "Sayang, ada apa? Katanya tadi mau berangkat, kenapa malah terdiam di sini? Mana wajahnya terlihat jelek lagi," goda Tuan Malik sembari mengelus lembut rambut Nyonya Arniz yang tergerai indah.


"Ah, Sayang!" protes Nyonya Arniz yang tidak terima dikatakan jelek oleh suaminya sendiri. Ia memukul lengan lelaki itu sambil menekuk wajahnya. Sementara Tuan Malik tertawa renyah melihat reaksi Nyonya Arniz yang terlihat begitu manis di matanya.


Wanita itu menyandarkan kepalanya ke dada bidang Tuan Malik. "Sayang, barusan Suci menghubungiku. Dia bilang mantan suaminya kembali mengganggunya. Bahkan tadi malam kontrakan Suci di obrak-abrik oleh lelaki itu," tutur Nyonya Arniz dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Benarkah?" pekik Tuan Malik. "Lalu, bagaimana keadaan Suci? Apa dia baik-baik saja?"


"Suci beruntung, tadi malam ia menginap di kontrakannya Arini hingga ia selamat dari cengkeraman lelaki itu," sahut Nyonya Arniz.


Tuan Malik menghembuskan napas berat. Entah mengapa dadanya terasa sangat sesak saat itu. Ia berharap ini bukanlah pertanda buruk, baik itu untuk Suci maupun istrinya.


Sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Tuan Malik mencemaskan keselamatan Nyonya Arniz. Campur tangan Nyonya Arniz terhadap hubungan karyawannya itu membuat Tuan Malik sangat khawatir. Apa lagi sosok Angga terkenal dengan tabiatnya yang tidak baik.


"Sayang, apa sebaiknya aku menugaskan seorang pengawal pribadi untuk menemanimu?" tanya Tuan Malik tiba-tiba.


Nyonya Arniz malah tergelak mendengar ucapan lelaki itu. "Ya ampun, Sayang! Aku tidak membutuhkan pengawal. Yakinlah, tidak akan ada yang berani menyentuh tubuhku. Kamu tahu kenapa?" Nyonya Arniz tersenyum menatap Tuan Malik.


"Apa?"


"Karena aku adalah istrinya Tuan Malik Abraham," jawab Nyonya Arniz sambil tersenyum hangat.


Tuan Malik hanya bisa menghela napas berat kemudian memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


***


Maaf, jika Readers bingung kenapa kisah Suci juga di ceritakan di sini. Sebab cerita ini akan saling terkait dengan kisah hidup Arini nantinya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2