Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 67


__ADS_3

Tak terasa satu bulan sudah Arini bekerja di butik Zhanita Collection, milik Nyonya Arniz. Hari ini, hari pertama Arini menikmati gaji pertamanya, hasil jerih payahnya sendiri.


Bagi Arini gaji yang diberikan oleh Nyonya Arniz kepadanya lebih dari cukup. Ia bahkan bisa menyisihkan sebagian dari gaji tersebut untuk ditabung.


"Bagaimana gajimu? Cukup?" tanya Nyonya Arniz kepada Arini.


"Terima kasih banyak, Nyonya Arniz. Semua ini lebih dari cukup. Aku bahkan bisa menabung sebagian dari uang itu untuk masa depanku," jawab Arini dengan wajah semringah.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya!" Nyonya Arniz memeluk tubuh Arini dengan erat. Begitu pula Arini, ia pun membalas pelukan majikannya itu.


Tidak berselang lama, mobil mewah milik Tuan Malik pun tiba dan berhenti tepat di hadapan Arini dan Nyonya Arniz. Lelaki itu menyunggingkan sebuah senyuman hangat sembari keluar dari dalam mobil tersebut. Ia menghampiri Nyonya Arniz dan memberikan ciuman hangatnya di pipi kanan serta pipi kiri istrinya itu.


"Lihatlah, Sayang! Hari ini wajah Arini tampak berbeda. Ia terlihat lebih cantik, kamu tahu kenapa?" goda Nyonya Arniz.


Tuan Malik pun tersenyum. "Benarkah? Memangnya kenapa?"


"Karena hari ini adalah hari pertama ia menerima gaji dariku plus bonus-bonusnya," jawab Nyonya Arniz sambil tertawa pelan.


Wajah Arini tampak memerah menahan malu. Ia benar-benar malu ketika Nyonya Arniz menggodanya di hadapan Tuan Malik. "Ah, Nyonya bisa aja," sela Arini sambil tersenyum kecut.


"Selamat ya, Arini. Semoga menjadi berkah," ucap Tuan Malik seraya merengkuh pundak Nyonya Arniz.

__ADS_1


"Ya, terima kasih banyak, Tuan. Saya berhutang kepada kalian berdua. Seandainya saya tidak bertemu kalian, entah bagaimana nasib saya saat ini," tutur Arini dengan wajah sendu menatap pasangan itu.


"Sudah, jangan kamu pikirkan masalah itu," jawab Nyonya Arniz sembari mengelus lembut pundak Arini. "Ya, sudah. Kami pamit dulu, ya! Hati-hati di jalan," lanjutnya.


"Ya, Nyonya. Kalian juga, hati-hati di jalan!" Arini melambaikan tangannya kepada Tuan Malik dan Nyonya Arniz yang kini sudah melaju dengan mobil mewah mereka, memecah keramaian kota.


Setelah pasangan itu pergi, Arini pun segera pulang dan melangkahkan kakinya menuju kontrakan. Sementara Suci sudah pulang terlebih dahulu. Entah kenapa hari ini Suci lebih banyak diam dan wajahnya tampak murung, tak seperti biasanya.


Tinggal beberapa meter dari kontrakannya, tiba-tiba sebuah motor sport menepi tepat di samping tubuhnya. Arini kaget dan sontak menoleh ke arah samping.


"Mas Hendra?" Arini tersenyum setelah tahu siapa yang mengendarai motor tersebut.


Arini terdiam sejenak sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk ajakan lelaki itu. Setelah beberapa detik berikutnya, Arini pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu yang traktir ya, Mas."


"Ya, aku yang traktir. Kan sudah aku bilang bahwa hari ini aku sudah gajian," jawab Hendra sembari terkekeh pelan. "Ayo, naik!" ajak Hendra sambil menepuk jok bagian belakang.


Dengan senang hati Arini pun segera naik ke atas motor sport milik Hendra. Ia duduk sambil berpegangan di pundak lelaki itu. "Pelan-pelan saja ya, Mas! Jangan ngebut! Kalo ngebut nanti aku cubit beneran, loh!"


"Oke, Nyonya! Siap laksanakan," sahut Hendra sembari melajukan motornya menuju sebuah Cafe yang cukup terkenal di kota tersebut.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, mereka pun akhirnya tiba di depan Cafe tersebut.

__ADS_1


"Wah, beruntung aku bawa pakaian ganti," gumam Arini sembari memperhatikan Cafe tersebut tanpa berkedip sedikitpun.


Ini pertama kalinya bagi Arini mengunjungi tempat seperti itu. Selama enam tahun lebih menikah dengan Dodi, tak pernah sekalipun Dodi mengajaknya makan-makan di tempat yang seperti itu. Pernah sekali waktu lelaki itu mengajaknya makan di warung makan pinggir jalan dan itu pun sudah membuat Arini begitu senang.


"Mari," ajak Hendra setelah ia selesai memarkirkan motornya.


Arini pun mengangguk kemudian mengikuti Hendra yang kini menuntunnya menuju sebuah meja kosong dan mempersilakan Arini untuk duduk di salah satu kursinya.


"Duduklah, Arini."


"Terima kasih," jawab Arini dengan sungkan. "Aku gugup, ini pertama kalinya aku mengunjungi tempat seperti ini," lanjutnya sambil memperhatikan sekeliling tempat itu.


Hendra tersenyum kecut. "Benarkah? Serius ini pertama kalinya kamu mengunjungi tempat seperti ini?"


Arini mengangguk pelan. "Ya. Selama ini Mas Dodi tidak pernah mengajakku ke tempat mewah seperti ini. Ia hanya pernah mengajakku makan di warung makan biasa. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Namun, hal itu pun sudah membuatku sangat senang dan untuk sejenak membuatku melupakan tekanan demi tekanan yang aku rasakan di rumah itu," lirih Arini.


Hendra tampak sedih setelah mendengar penuturan dari wanita itu. "Beruntung kamu sudah pergi dari rumah itu, Arini. Sebab saat ini keadaan rumah itu sudah seperti neraka. Setiap hari terdengar suara teriakan dari Bu Nining. Kadang Anissa dan tidak jarang suara tangisan Azkia yang tidak tahu kenapa. Begitu pula Mas Dodi, lelaki itu terlihat semakin kacau saat ini," tutur Hendra.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata elang sedang menatap kebersamaan mereka dari kejauhan. Wajahnya tampak memerah dan matanya melotot tajam, seolah ingin menelan kedua orang itu hidup-hidup.


***

__ADS_1


__ADS_2