Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 73


__ADS_3

"Mas Hendra sudah punya kekasih?" Perlahan Anissa mengarahkan tangannya ke paha Hendra dan meletakkannya di sana. Tidak cukup sampai di situ, Anissa juga mengusap-usap paha lelaki itu dengan lembut sambil mengerlingkan matanya.


Hendra tersentak kaget setelah menyadari apa yang dilakukan oleh Anissa kepadanya. "Apa yang kamu lakukan, Anissa! Jauhkan tanganmu dari pahaku!" tegas Hendra dengan mata membulat.


Bukannya menuruti titah Hendra, wanita itu malah semakin nekat dengan mengarahkan tangannya ke area pribadi Hendra.


"Memangnya kenapa, Mas? Adek Mas bangun, ya? Jika benar, maka Mas tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya," sahut Anissa sembari menyentuh area pribadi Hendra dan mengelusnya. Selain itu, ia juga mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hendra.


Aksi tak terduga Anissa saat itu, membuat Hendra jijik dan ingin muntah. Ia refleks menepikan mobilnya kemudian menepis tangan Anissa. "Kamu benar-benar menjijikkan!" pekik Hendra.


Hendra membuka pintu mobil di samping tubuh Anissa kemudian mendorong tubuh wanita itu dengan kasar hingga ia terjatuh ke tanah.


Brukgh!


"Aw!" pekik Anissa dengan wajah kesal menatap Hendra.


"Maafkan aku, Anissa. Aku hanya bisa mengantarkanmu hingga ke tempat ini dan lain kali aku harap kamu tidak akan pernah masuk ke dalam mobilku lagi," tegas Hendra.


Belum sempat Anissa membalas ucapannya, Hendra segera menutup pintu mobil kemudian kembali melaju ke arah sekolahnya sambil terus menggerutu.


Begitu pula Anissa, wanita itu terus menggerutu. Ia kesal sebab ini pertama kalinya ia ditolak oleh seorang laki-laki.


"Cih! Sok suci! Aku tahu sebenarnya kamu pun ingin hanya saja kamu gengsi! Mana ada sih kucing diam saat disuguhi ikan segar," kesalnya sambil membersihkan pakaiannya yang kotor akibat jatuh di dorong oleh Hendra.


Sementara itu di kediaman Dodi.

__ADS_1


Setelah Dodi berangkat kerja, Bu Nining segera mengurus cucu mungilnya. Memandikannya kemudian memberinya makan.


Bu Nining membuka lemari penyimpanan susu formula untuk Azkia dan ternyata stoknya sudah mulai menipis. Susu formulanya hanya cukup untuk beberapa botol dan jika tidak dibeli, maka Azkia terancam kelaparan.


"Ya, Tuhan! Memangnya gaji yang diberikan oleh Dodi kepadanya, digunakannya untuk apa? Beli kosmetik serta baju kurang bahan itu, iya? Ck ck ck, betapa beruntung Dodi punya isteri seperti Anissa," gumam Bu Nining sambil menggelengkan kepalanya.


Bu Nining meraih kain gendongan kemudian memasukkan si kecil Azkia ke dalamnya. Ia ingin membawa cucu mungilnya itu jalan-jalan keliling komplek sambil menawarkan koleksi gamis-gamis mahalnya kepada para tetangga.


Sambil menggendong Azkia, Bu Nining melenggang sambil menenteng kantong keresek berisi gamis-gamisnya. Ia berkeliling dari rumah ke rumah dan dari blok ke blok.


Namun, satu pun tak ada yang bersedia membeli gamisnya. Sementara hari sudah semakin siang dan cuaca pun makin terasa panas. Si kecil Azkia mulai rewel karena tubuh kecilnya kegerahan akibat panas matahari yang mengenai tubuhnya walaupun secara tidak langsung.


"Hush, diam ya, Azkia sayang. Nenek lagi mencari uang buat beli susu Azkia," gumam Bu Nining sambil mencoba menenangkan cucunya itu.


Ketika Bu Nining memasuki pekarangan rumahnya, tiba-tiba Bu Ria memanggilnya. "Bu Nining dari mana? Dan itu apa yang ada di dalam kantong kresek?" tanya Bu Ria sambil memperhatikan kantong keresek yang sejak tadi ditenteng oleh Bu Nining.


"Ini, Bu Ria. Aku baru saja menawarkan macam-macam gamis cantik kepada para tetangga," jawabnya sambil tersenyum kecut.


"Benarkah? Boleh saya lihat, Bu? Siapa tahu saya juga tertarik," ucap Bu Ria.


"Oh, baiklah!"


Dengan wajah semringah, Bu Nining kembali melenggang menuju kediaman Bu Ria. Ia sangat berharap wanita itu bersedia membeli gamis miliknya barang selembar. Paling tidak uangnya bisa digunakan untuk membeli susu formula Azkia yang sudah hampir habis.


Bu Ria mempersilakan Bu Nining duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Bu Nining pun duduk di sana sambil menenangkan Azkia. Bu Ria meraih kantong kresek yang tadi dibawa Bu Nining dan melihat isinya.

__ADS_1


"Gamisnya bagus-bagus loh, Bu Ria. Paling sekali, dua kali aku pernah menggunakannya dan setelah itu hanya tersimpan dalam lemariku. Sebenarnya ... aku sangat menyayangi gamis-gamis ini, tapi karena keadaan yang begitu mendesak, aku terpaksa menjualnya," lirih Bu Nining.


Tampak wanita paruh baya itu menyeka buliran bening yang sempat terjatuh di pipinya. Namun, kesedihannya itu ia sembunyikan dengan sebuah senyuman hangat.


Bu Ria melihat kesedihan yang mendalam di mata wanita itu. Sebenarnya Bu Ria sama sekali tidak tertarik pada gamis-gamis milik Bu Nining, karena selera mereka yang berbeda jauh. Jika Bu Nining suka pakaian yang terlihat wah dengan berbagai hiasan, berbeda dengan Bu Ria yang lebih menyukai pakaian simpel dan juga sederhana.


Namun, untuk membantu Bu Nining yang sedang kesulitan, ia pun bersedia membelinya. "Memangnya berapa Bu Nining ingin menjual semua gamis-gamis ini?" tanya Bu Ria sambil mengelus lembut pundaknya.


"Berapa saja, Bu Ria. Saat ini aku sangat membutuhkan uang untuk membeli susu Azkia dan juga bahan-bahan pokok kami yang sudah habis," jawab Bu Nining dengan mata berkaca-kaca.


Bu Ria menghembuskan napas berat. "Baiklah kalau begitu. Sebentar dulu ya, Bu."


"Ya, tentu saja, Bu Ria. Terima kasih banyak karena sudah bersedia membantuku," lirih Bu Nining.


"Sama-sama, Bu." Bu Ria bangkit dari posisinya kemudian masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama, Bu Ria keluar lagi dengan membawa sejumlah uang. Ia kembali ke posisinya kemudian menyerahkan uang itu kepada Bu Nining.


"Ambilah uang ini, Bu Nining. Belilah barang yang benar-benar Ibu dan keluarga Ibu butuhkan. Terutama susu formula untuk Azkia. Saya beli semua gamis Ibu seharga 2 juta," ucap Bu Ria sembari meletakkan kantong kresek berisi gamis tersebut ke pangkuannya.


Namun, itu hanya sebentar. Setelah itu Bu Ria kembali menyerahkan kantong kresek tersebut ke tangan Bu Nining. "Tapi, gamis ini saya kembalikan kepada Bu Nining. Anggap saja gamis-gamis ini hadiah dari saya," lanjutnya.


Bu Nining yang begitu terharu, tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia terisak sambil memeluk tubuh Bu Ria. "Terima kasih banyak, Bu Ria. Terima kasih banyak!" ucapnya.


"Sama-sama, Bu Nining." Bu Ria membalas pelukan Bu Nining saat itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2