Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 38


__ADS_3

"Ta-tapi kenapa?" tanya Bi Nining heran.


Anissa yang sangat ketakutan segera menghampiri Bu Nining dan bersembunyi di balik punggung wanita paruh baya tersebut. Tubuhnya bergetar hebat. Anissa bahkan tidak lagi fokus pada Azkia yang masih berada di dalam pelukannya.


"Wanita ini adalah tersangka utama pembuangan bayi yang di temukan oleh Tuan Dodi di teras rumah pada malam itu dan kami punya bukti yang sangat kuat," jawab Pak Polisi.


"Apa?!" pekik Bu Nining dengan mata membulat sempurna.


Bu Nining menoleh kepada Anissa dengan tatapan serius. "Apa itu benar, Anissa?!"


Anissa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Bu. Itu tidak benar," jawabnya dengan bibir bergetar dan wajah yang memucat.


"Jelaskan itu di kantor! Sekarang ikut kami," titah Pak Polisi.


Dua orang rekan pak Polisi tersebut memegangi tangan Anissa, sementara bayi Azkia diserahkan kepada Bu Nining. Anissa mencoba berontak. Ia mencoba melepaskan tangan Polisi yang memeganginya sambil berteriak histeris.


"Itu tidak benar! Aku tidak pernah melakukan itu! Lepaskan aku!" teriak Anissa.


"Diam! Sebaiknya jelaskan itu di kantor," ucap Pak Polisi dengan gemas.


Pak Polisi menyeret Anissa hingga ke luar rumah. Ia sempat berpapasan dengan Arini yang masih terdiam di ruang depan dengan keadaan syok. Ketika tiba di halaman depan, Anissa kembali berteriak. Wanita itu meneriaki Dodi juga masih dalam keadaan syok.

__ADS_1


"Mas Dodi! Mas tidak bisa membiarkan aku menanggung semua ini sendiri! Mas harus bertanggung jawab! Aku melakukan ini semua karena Mas Dodi!" teriaknya dengan lantang.


Dodi panik ketika Anissa meneriakkan kata-kata itu dihadapan semua orang. Apa lagi Arini juga masih berada tak jauh dari sana dan bisa mendengar teriakkan Anissa dengan sangat jelas. Bukan hanya Arini, Bu Nining pun mendengar ucapan Anissa saat itu.


Arini dan Bu Nining berlari menghampiri Dodi yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.


"Mas! Apa yang dimaksud oleh Anissa? Kenapa dia bisa berkata seperti itu?!" tanya Arini. Pertanyaan yang sama, yang ingin dipertanyakan oleh Bu Nining kepada anak lelakinya itu.


"Aku tidak tahu, Arini. Aku sendiri tidak mengerti apa yang dia maksud!" sahut Dodi dengan terbata-bata.


Mendengar jawaban yang keluar dari bibir Dodi, Anissa yang tadinya akan dimasukkan ke dalam mobil polisi, kembali berontak dan meminta waktu untuk bicara kepada pasangan itu.


"Sebentar, Pak! Beri aku waktu untuk bicara kepada mereka," ucap Anissa dengan wajah penuh harap. Berharap para Polisi mengizinkannya.


"Terima kasih, Pak!" jawab Anissa yang segera menghampiri Dodi, Arini dan Bu Nining yang masih berdiri di halaman tersebut.


"Apa kalian ingin tahu sebuah rahasia besar yang selama ini aku sembunyikan bersama Mas Dodi? Terutama kamu, Mbak Arini! Apa kamu tidak ingin tahu bagaimana hubunganku bersama Dodi selama ini di belakangmu?" ucap Anissa sambil tersenyum sinis.


"Diam kamu, Nissa!" bentak Dodi dengan setengah berteriak.


"Mas yang diam!" Anissa pun tidak mau kalah. "Mas juga harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Kejadian ini tidak akan pernah terjadi jika Mas Dodi bersedia bertanggung jawab padaku!" lanjut Anissa dengan wajah memerah menatap Dodi.

__ADS_1


"Ka-kalian bicara apa?!" pekik Arini yang sejak tadi sudah merasakan firasat buruk atas semua kejadian ini.


"Kalian diam, dan biarkan dia bicara!" tegas Pak Polisi kepada keluarga Dodi.


Akhirnya Dodi, Arini dan Bu Nining diam dan membiarkan Anissa menjelaskan semuanya di hadapan mereka.


"Ya, aku akui. Aku lah yang sudah meletakkan bayi Azkia ke teras kalian pada malam itu. Aku juga mengakui bahwa bayi Azkia adalah anakku, darah dagingku yang baru aku lahirkan."


Bu Nining dan Arini membelalakkan mata mereka setelah mendengar pengakuan Anissa saat itu. Sementara Dodi tidak bisa berkutik lagi. Lelaki itu tampak pasrah dan siap menerima apapun yang akan ia hadapi setelah ini.


"La-lalu, apa hubungannya dengan Dodi?!" tanya Bu Nining dengan terbata-bata.


Anissa kembali tersenyum sinis menatap orang-orang yang masih berdiri di hadapannya itu. "Karena Mas Dodi adalah Ayah kandung dari Azkia! Aku dengan sengaja meletakkan bayi Azkia ke teras kalian karena Dodi adalah Ayah biologisnya! Ia harus bertanggung jawab atas bayi itu!" jelas Anissa dengan tegas.


"Ti-tidak mungkin! Mas Dodi tidak mungkin berkhianat di belakangku!" pekik Arini sambil memegang dadanya yang kembali terasa sesak. Sementara Bu Nining tidak bisa berkata-kata lagi. Suaranya serasa menghilang begitu saja.


"Tapi sayang itu adalah kenyataan pahit yang harus kamu terima, Mbak Arini," sahut Anissa dengan santainya.


"Mas Dodi, itu tidak benar 'kan?" lirih Arini kepada Dodi yang terdiam seribu bahasa.


"Maafkan aku, Arini," sahut Dodi sambil menatap Arini dengan tatapan sendu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2