Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 133


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang," ucap Tuan Malik kepada Arini yang kini sedang berdiri di sampingnya.


Dengan setia, Arini mengantarkan Tuan Malik hingga ke halaman depan rumah. Hari itu Tuan Malik berencana mengecek pembangunan tokonya yang berada di tengah pusat kota. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari butik milik mendiang Nyonya Arniz.


"Hati-hati ya, Mas." Arini pun tersenyum dan membiarkan lelaki itu menggapai gagang pintu mobilnya.


Setelah pintu mobil tersebut terbuka, bukannya bergegas masuk, Tuan Malik malah berbalik dan menatap Arini sambil tersenyum tipis.


"Kenapa? Ada sesuatu yang terlupa?" tanya Arini yang tampak bingung.


"Ya. Aku melupakan sesuatu."


Tuan Malik meraih wajah Arini kemudian melabuhkan ciuman hangat di pipi kanan serta kiri dan tidak lupa di bagian keningnya.


Arini terkekeh setelah tahu apa yang terlupakan oleh suaminya saat itu. "Ya, Tuhan! Aku kira Mas memang sengaja melupakannya," ungkap Arini.


Tuan Malik tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menatap Arini lekat. Sementara itu di dalam mobil, Pak Kosim pun ikut tersenyum melihat Tuan Malik dan Arini yang sudah saling mulai membuka hati mereka.


Ketika Tuan Malik ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Tia datang di kediaman mereka dengan wajah menekuk. Ia tergesa-gesa menghampiri Tuan Malik dan kini berdiri di depan lelaki itu.


"Ayah, aku ingin bicara!" ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


Tuan Malik melirik ke arah luar pagar. Tampak sebuah mobil terparkir di sana dan ia yakin sekali bahwa Toni sedang menunggu Tia di dalam mobil tersebut. Tuan Malik juga yakin bahwa kedatangan Tia pun pasti atas perintah dari lelaki itu.


"Ada apa lagi, Tia?" tanya Tuan Malik dengan malas.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting!" ujar Tia sembari melirik Arini yang masih berdiri di samping Tuan Malik dengan wajah malas.


Tuan Malik menghembuskan napas berat. "Baiklah. Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja."


Tia pun melenggang masuk ke dalam rumah megah itu, mendahului Tuan Malik dan Arini yang berjalan di belakangnya.


"Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Tia, Mas? Apa ini ada hubungannya dengan itu?" tanya Arini kepada Tuan Malik yang berjalan di samping tubuhnya.


Walaupun sempat terlihat kesal, tetapi kini ekspresi wajah lelaki itu kembali terlihat tenang dan kalem, sama seperti biasanya.


Arini berpaling dan melihat ke belakang, di mana mobil milik Toni terparkir di depan pagar rumah. Arini melihat sosok Toni yang saat itu tengah memperhatikan ke arah mereka. Lelaki itu membuka kaca mobil dan bersandar di sandaran jok sembari menghisap rokoknya.


"Sepertinya Mas benar. Itu Toni, dia sedang memperhatikan ke sini," jawab Arini.


"Kamu tidak usah takut. Toni adalah tipe lelaki pengecut yang hanya berani memanfaatkan kelemahan seorang wanita seperti Tia. Dia tidak akan pernah berani berhadapan denganku," jawab Tuan Malik.


Arini meraih tangan Tuan Malik kemudian menggenggamnya dengan erat. "Ya, Mas. Aku harap tidak akan terjadi apa-apa."


Setibanya di ruang utama, ternyata Tia sudah duduk di sofa dengan tangan menyilang ke dada. Ia menatap sinis kepada Arini dan Tuan Malik yang datang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Sekarang apa lagi, Tia?" Tuan Malik mendaratkan bokongnya di sofa mewah yang ada di ruangan tersebut kemudian di susul oleh Arini.


"Aku ingin mempertanyakan soal rumah ini, Ayah. Masih ada bagian Ibu di sini dan rasanya sangat tidak adil jika Ayah menikmati rumah megah ini bersama dia! Wanita yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati harta kekayaan milik Ibu. Aku benar-benar tidak rela, Ayah! Aku tidak rela!" kesal Tia.


Tuan Malik menghembuskan napas kasar. Seperti yang ia pikirkan sebelumnya, ini lah yang akan dibahas oleh Tia.


"Lalu, apa maumu?" tanya Tuan Malik yang masih bisa bersabar menghadapi sikap Tia yang sangat menyebalkan.


"Aku ingin meminta sebagian dari rumah ini, Ayah. Jika rumah ini berharga 40 M, maka aku minta separuh dari harga tersebut kepadamu," jawab Tia tanpa rasa malu sedikit pun.


"Tia-tia ...." Tuan Malik menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. Menertawakan kelakuan Tia yang sangat tidak tahu malu.


"Aku serius, Ayah! Aku tidak sedang bercanda saat ini!" kesal Tia.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Tuan Malik menghentikan tawanya kemudian menatap lekat kedua bola mata Tia.


"Jika Ayah tidak bersedia memberikan uang itu kepadaku, maka aku tidak akan segan-segan menuntutmu lewat jalur hukum."


Tuan Malik kembali tertawa. Ia merasa lucu mendengar ancaman Tia barusan. "Sudahlah, Tia. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Dengan mengikuti semua perintah Suamimu, kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."


Namun, bukannya menelaah isi dari ucapan Tian malik barusan, Tia malah semakin semangat menuntut harta tersebut agar segera berpindah ke tangannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2