
Setelah selesai berziarah ke makam Nyonya Arniz, Tuan Malik dan Arini pun segera menuju toko mereka. Setibanya di tempat itu, ternyata Suci sudah menyambut kedatangan mereka dengan sangat antusias.
Ia tersenyum lebar ketika Arini beserta bayi kembarnya datang menghampiri.
"Uluh-uluh ... Tante kangen berat sama kalian," ucap Suci sembari menggantikan Arini mendorong kereta mereka.
"Cih, bilang kangen, menengok pun tidak!" celetuk Arini sambil menekuk wajahnya.
"Ish! Aku 'kan kerja, Mom. Kalau weekend itu aku milik Mas Hendra dan itu sudah tidak bisa diganggu-gugat lagi," jawab Suci sambil terkekeh pelan.
Setelah memasuki toko tersebut, Arini pun segera menuju ruang pribadi milik Tuan Malik, di mana ia bisa menidurkan kedua bayinya di sana. Sementara Tuan Malik dan Suci masih berada di ruang utama, melayani para pengunjung yang ingin membeli jam tangan atau aksesoris lainnya.
Setelah berhasil menidurkan kedua bayinya, Arini pun ikut berbaring sejenak di sana untuk melepas lelah. Sembari berbaring, ia memperhatikan sekeliling ruangan itu kemudian tersenyum.
Ruangan itu kini dipenuhi dengan foto-foto si kembar. Padahal sebelumnya ruangan itu dikuasai oleh foto-foto kebersamaan dirinya dan Tuan Malik. Namun, sekarang ruangan itu sudah dikuasai oleh foto Ghina dan Ghani.
Tepat di saat itu Tuan Malik masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum hangat menatapnya.
"Mereka sudah tidur?" tanya Tuan Malik sembari berjalan menghampiri tempat tidur, di mana Arini dan kedua anaknya berbaring di sana.
Arini mengangguk pelan. "Ya, Mas, baru saja."
Tuan Malik duduk di tepian tempat tidur kemudian memperhatikan kedua wajah comel tersebut sambil tersenyum tipis.
"Hhh, sekarang Mas sudah berubah," keluh Arini tiba-tiba. Ia duduk di tepian tempat tidur, tepat di samping Tuan Malik.
__ADS_1
Tuan Malik melirik Arini sambil menautkan kedua alisnya heran. "Berubah? Berubah bagaimana? Menurutku, aku masih sama seperti dulu. Rasa cinta, kasih sayang serta perhatianku kepadamu tidak pernah berkurang sedikit pun. Malah sebaliknya, rasa itu semakin hari, semakin besar saja, Arini sayang," tutur Tuan Malik sembari menarik pelan tubuh Arini ke dalam pelukannya.
"Tapi aku punya bukti kok, kalau Mas itu sudah mulai berubah," celetuk Arini lagi.
"Benarkah, mana?" Tuan Malik terkekeh pelan.
"Tuh, lihat!" Arini menunjuk ke sekeliling ruangan, di mana foto-foto Ghina dan Ghani dengan berbagai pose bertebaran di dinding ruangan tersebut.
"Dulu foto kita terpampang di mana-mana, tapi lihatlah sekarang. Kedua bocah itu sudah mengambil hatimu dariku, itu tidak adil!" lanjut Arini sambil memeluk tubuh Tuan Malik.
Tuan Malik terkekeh sambil mengacak puncak kepala Arini. "Kamu cemburu, ya?"
"Sebenarnya tidak, sih. Hanya saja aku merasa sedikit tersisihkan, hiks-hiks!" Arini berpura-pura menangis, padahal sebenarnya tidak.
Tuan Malik merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah dompet. Ia membuka benda itu kemudian memperlihatkannya kepada Arini.
"Biar bagaimanapun, kamu tetap yang nomor satu, Arini. Tanpa kamu, mungkin kah Ghina dan Ghani hadir di dalam hidupku? Dan jika aku diberikan pilihan antara kamu dan anak-anak, maka aku akan memilih kamu. Kamu tahu kenapa?"
Arini menggelengkan kepalanya perlahan. "Kenapa?"
"Karena aku yakin kamu akan selalu ada untukku hingga kita tua nanti. Sementara anak, mereka tidak akan selamanya hidup bersama kita. Seiring waktu mereka akan tumbuh dewasa, menemukan pasangan dan membangun keluarga mereka masing-masing," jelas Tuan Malik.
"Mas, benar." Arini menyandarkan kepalanya di dada bidang Tuan Malik dengan mata berkaca-kaca.
Untuk beberapa saat mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Hingga akhirnya Tuan Malik memutuskan untuk kembali ke depan. Sementara si kembar masih tidur, Arini memutuskan untuk ikut ke depan bersama suaminya.
__ADS_1
Baru saja Arini dan Tuan Malik menginjakkan kakinya di ruangan itu, tiba-tiba mata keduanya tertuju pada sesosok laki-laki yang kini masuki toko mereka.
"Bukan kah itu Mas Dodi?" pekik Arini.
"Ya, sepertinya itu Dodi," sahut Tuan Malik.
Dodi bergegas menghampiri meja kasir kemudian mengeluarkan selembar kertas dan menunjukkannya di hadapan kasir tersebut.
"Saya ingin mengambil pesanan majikan saya atas nama Nyonya Lily Anggraini," ucap Dodi.
Sang kasir memeriksa nota tersebut kemudian mengangguk pelan sambil tersenyum. "Oh iya, tunggu sebentar ya, Pak. Biar saya ambilkan barangnya."
"Baik." Dodi pun mengangguk dan menunggu wanita itu mengambilkan barang pesanan Nyonya Lily.
"Mas Dodi?" panggil Arini yang ternyata sudah berdiri di belakang Dodi bersama Tuan Malik.
Dodi refleks menoleh dan segera tersenyum walaupun sebelumnya ia sempat terkejut melihat keberadaan Arini dan Tuan Malik di tempat itu.
"Tuan Malik, Arini, apa kabar?" Tanpa sungkan sedikit pun, Dodi mengulurkan tangannya kepada Tuan Malik dan Arini.
"Baik," sahut Tuan Malik dan Arini secara bersamaan.
...***...
Man-teman, sebenarnya cerita Arini udah tamat beneran, loh. Ini cuma ekstra part buat yang rindu sama pasangan ini.
__ADS_1
Sebenarnya Author pun berat harus berpisah sama keluarga mereka, tetapi karena sesuatu hal yang tidak bisa Author ceritakan di sini, Author terpaksa menamatkannya.
Oh ya, Author juga bikin cerita baru 🤭 buat yang penasaran, bisa tanyakan di kolom komentar, ya!