
"Mas Hendra, aku masuk dulu," ucap Arini yang kemudian melenggang pergi. Bahkan ia tidak mempedulikan Bu Nining yang sejak tadi menunggu dirinya meraih Azkia.
Hendra dan Bu Nining saling lempar pandang untuk beberapa saat. Mereka bingung karena tidak biasanya Arini acuh tak acuh. Wanita itu bahkan tidak ingin menoleh ke arah Azkia yang kembali menangis karena Arini tidak mempedulikannya.
"Arini! Apa kamu tidak dengar, ha? Lihatlah, Azkia ingin ikut bersamamu!" ucap Bu Nining dengan wajah kesal, mengikuti langkah Arini dari belakang. Sementara Hendra memilih kembali ke kediamannya.
Arini tetap diam. Mulutnya terkunci rapat dan ia pun mulai belajar menulikan telinganya dari tangisan si kecil Azkia. Karena Arini sama sekali tidak mempedulikannya, Bu Nining pun akhirnya emosi. Wanita itu meraih tangan Arini dan menghentikan langkahnya.
"Arini! Kau sudah tuli, ya?!" pekik Bu Nining dengan mata melotot.
Arini menghentikan langkahnya kemudian berbalik dengan cepat. "Lepaskan tanganku, Bu. Bukan aku yang tuli, tetapi Ibu! Apa Ibu tidak dengar pengakuan Anissa kemarin? Anak ini adalah anak hasil perzinahan Putra kesayangan Ibu dengannya! Jadi, masih pantaskah Ibu menyerahkannya kepadaku?"
Arini berbalik lagi dan pergi melenggang menuju kamarnya meninggalkan Bu Nining yang kini terpaku di tempat itu dengan mata membulat sempurna.
Wanita paruh baya itu benar-benar merasa tertampar dengan ucapan menantunya itu. Ia tidak menyangka bahwa Arini yang dulu selalu mengalah dan menurut apapun perintahnya, kini sudah mulai berani membangkang.
Arini masuk ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya dari dalam. Perlahan ia menghampiri tempat tidur dan membaringkan tubuhnya yang masih terasa sakit. Tepat di saat itu, Dodi dan Anissa tiba di kediamannya. Wajah kusut Dodi saat itu benar-benar mencerminkan bagaimana kondisi hati dan pikirannya saat itu.
"Dodi?!" pekik Bu Nining dengan mata berkaca-kaca menghampiri Dodi. "Syukurlah, akhirnya kamu kembali juga. Ibu sempat berpikir bahwa kamu ...." Bu Nining menghentikan ucapannya, ia menangis sambil memeluk tubuh Dodi.
__ADS_1
"Di mana Arini, Bu?" Saat itu yang ada di pikiran Dodi hanya Arini. Ia bahkan tidak peduli dengan apapun atau siapapun.
Bu Nining melepaskan pelukannya kemudian menatap Dodi dengan lekat. "Arini di kamar. Coba kamu lihat Azkia, dia bahkan tidak mau membantu Ibu menjaga Azkia. Selama kamu pergi, dia juga pergi entah kemana," tutur Bu Nining dengan kesal.
Bukannya merespon ucapan Bu Nining, Dodi malah melenggang menuju kamarnya. Saat ini, ia hanya ingin bertemu dengan Arini kemudian menjelaskan semuanya.
Sepeninggal Dodi, Bu Nining menghampiri Anissa yang masih terdiam di tempatnya berdiri dengan wajah yang tak kalah kusut.
"Aku pikir kalian akan ditahan," gumam Bu Nining sembari menyerahkan si kecil Azkia kepada Anissa.
Anissa meraih Azkia dari pelukan Bu Nining kemudian membawanya ke sofa dan duduk di sana sambil melepas lelah.
"Lalu, bagaimana selanjutnya? Apa kalian akan tetap seperti ini?" tanya Bu Nining dengan wajah serius.
Bu Nining sudah malu dengan kejadian kemarin. Wanita paruh baya itu bahkan tidak berani lagi menampakkan wajahnya di hadapan teman-teman arisannya. Karena ia sangat yakin cerita memalukan tentang keluarganya pasti sudah menyebar luas.
"Mereka meminta kami untuk menikah secepatnya, Bu. Demi masa depan Azkia," jawab Anissa.
Bu Nining menghembuskan napas berat. "Ya, memang seharusnya begitu. Lagu pula Azkia juga membutuhkan kamu sebagai Ibu kandungnya, 'kan? Ya, walaupun harus ada pihak yang akan tersakiti di sini," tutur Bu Nining.
__ADS_1
Sementara itu.
Dodi yang kini sudah berdiri di depan kamarnya, mencoba membuka pintu tersebut. Namun, sayangnya ia tidak bisa membukanya sebab Arini mengunci pintunya dari dalam.
Berkali-kali Dodi mengetuk pintu tersebut, tetapi Arini tetap tidak ingin membukanya. Arini menutup telinganya dengan bantal dan menganggap suara ketukan serta panggilan dari Dodi tersebut hanyalah angin lalu.
Dodi tidak kehabisan akal. Ia pergi ke kamar Bu Nining dan mencari kunci serep. Selain dirinya, Bu Nining pun memiliki kunci serep semua pintu yang ada di dalam rumahnya tersebut, termasuk kunci kamarnya.
Setelah menemukan kunci tersebut, Dodi pun kembali ke kamar kemudian membuka kuncinya. Akhirnya pintu tersebut berhasil terbuka dan kini ia dapat melihat Arini yang sedang terbaring di atas tempat tidur sambil menutup kepalanya dengan bantal.
Perlahan Dodi menghampiri Arini dan duduk di sampingnya. Lelaki itu mengelus lembut lengan istrinya itu dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku, Arini ...," lirih Dodi.
Arini segera bangkit kemudian menjauh dari lelaki itu. "Jangan pernah sentuh aku, Mas. Aku benar-benar jijik padamu," sahut Arini.
"Mas mohon, Arini. Untuk kali ini saja, tolong dengarkan penjelasanku," lanjut Dodi.
Arini tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi karena semuanya sudah jelas."
"Kumohon, Arini. Kali ini saja," pintanya lagi.
__ADS_1
...***...