Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 103


__ADS_3

"Tuan Malik." Pak Kosim tidak dapat menahan air matanya ketika bertatap mata langsung dengan Tuan Malik.


Ya, hari ini Tuan Malik menemui Pak Kosim yang masih dalam perawatan di Rumah Sakit. Walaupun kondisi lelaki paruh baya itu sudah mulai membaik, tetapi Dokter masih belum mengizinkannya untuk pulang.


"Pak Kosim." Tuan Malik menghampiri Pak Kosim kemudian memeluk lelaki itu. "Bagaimana kabarmu, Pak?"


"Baik, Tuan." Pak Kosim menundukkan kepalanya ketika Tuan Malik melerai pelukan mereka.


"Saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya karena saat itu saya tidak melakukan apapun ketika Nyonya--" Pak Kosim terisak. Tubuhnya bergetar dan Tuan Malik mencoba menenangkannya. Ia mengusap lembut punggung Pak Kosim yang sudah mengabdi kepada keluarganya selama bertahun-tahun itu.


"Sudahlah, Pak Kosim. Mungkin ini sudah suratan takdir. Sebenarnya aku ke sini ingin minta bantuan Bapak untuk mengungkap siapa pelakunya. Apakah Pak Kosim bersedia membantuku?" Tuan Malik menatap Pak Kosim lekat, berharap lelaki itu bisa membantunya.


"Tentu saja, Tuan. Dengan senang hati, saya pasti akan membantu Anda," jawab Pak Kosim.


Tuan Malik pun mengangguk pelan kemudian memanggil pihak kepolisian yang ingin mendengar penjelasan dari Pak Kosim. Guna membantu mereka mengungkapkan identitas asli pelaku perampokan yang mengakibatkan terenggutnya nyawa Nyonya Arniz.


Pak Kosim sempat terkejut melihat ada beberapa anggota polisi yang masuk ke dalam ruangannya. Namun, beberapa detik kemudian lelaki paruh baya itu pun tersenyum dan siap membantu mereka.


Pak Kosim diberondong dengan berbagai pertanyaan seputar kejadian waktu itu dan Pak Kosim pun menjawab pertanyaan mereka sesuai dengan yang ia lihat dan alami. Tidak kurang dan tidak dilebih-lebihkan.


"Jadi, Bapak yakin lelaki ini pelakunya?" Salah seorang Polisi yang menginterogasi Pak Kosim, menunjukkan sebuah foto ke hadapannya.

__ADS_1


Pak Kosim memperhatikan foto lelaki yang kini terpampang jelas di depan wajahnya dengan begitu serius. Ia mulai membanding-bandingkan foto lelaki tersebut dengan pelaku yang menembak Nyonya Arniz waktu itu.


"Ya, ini orangnya! Saya sempat melihat wajah lelaki itu ketika Nyonya berhasil menarik kain penutup wajahnya," jawab Pak Kosim mantap.


Tuan Malik dan para anggota kepolisian pun tersenyum puas setelah mendengar jawaban dari Pak Kosim. Kini saatnya untuk mereka mencari keberadaan Angga kemudian mengamankannya.


Setelah urusannya selesai, Tuan Malik pun segera pamit kepada Pak Kosim. Begitu pula para anggota Polisi yang tadi datang bersamanya. Sebelum beranjak, Tuan Malik sempat mengucapkan terima kasih kepada Pak Kosim karena sudah bersedia membantunya.


***


Di perjalanan menuju kediaman Tuan Malik.


"Pak, sebelum pulang, kita mampir dulu ke pemakaman, ya. Aku ingin berkunjung ke makam istriku," titah Tuan Malik kepada sopir pribadinya.


"Baik, Tuan."


Sambil menjinjing bungkusan bunga tersebut, Tuan Malik berjalan menuju tempat itu. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Arini yang ternyata sudah berada di depan makam Nyonya Arniz.


"Apa yang dilakukan oleh wanita itu?" gumam Tuan Malik sembari memperlihatkan gerak-gerik Arini dari kejauhan. Seorang penjaga makam menghampiri Tuan Malik yang terdiam di tempat itu kemudian berdiri di sampingnya.


"Ada yang bisa dibantu, Tuan?" tanya lelaki itu.

__ADS_1


Tuan Malik tersenyum tipis saat menatap lelaki itu. "Tidak, terima kasih. Saya hanya memperhatikan dia." Tuan Malik menunjuk kepada Arini.


"Oh, Mbak yang itu? Sudah beberapa hari ini dia selalu berkunjung ke makam itu. Saya pernah bertanya sama dia, katanya yang di makamkan di sana itu Boss di tempat kerja dia," jelas lelaki itu.


Tuan Malik mengangguk pelan. "Ya, dia benar. Dan makam itu adalah makam istri saya, Pak."


"Oh, benarkah. Maaf," ucap penjaga makam sambil tersenyum kecut.


"Tidak apa," jawab Tuan Malik.


Cukup lama Tuan Malik berdiri di tempat itu sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Arini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghampirinya.


"Ehem."


Tuan Malik berdehem dan membuat Arini terperanjat. Ia bergegas bangkit dari posisinya kemudian berdiri di hadapan Tuan Malik sambil mengangguk hormat.


"Tuan, silakan." Arini menggeser sedikit tubuhnya dan mempersilakan Tuan Malik untuk menghampiri pusara Sang Istri.


"Tidak apa. Lanjutkan saja," ucap Tuan Malik.


"Saya sudah selesai, Tuan. Dan ini saya mau pulang," jawab Arini tampak grogi.

__ADS_1


Arini kembali mengangguk hormat kemudian berjalan melewati Tuan Malik yang masih terdiam di tempatnya. Lelaki itu terus memperhatikan Arini bahkan hingga wanita itu hilang dari pandangannya.


...***...


__ADS_2