Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 110


__ADS_3

Setelah insiden memalukan itu berakhir, Tuan Malik tidak sungkan untuk membantu Arini membereskan dapurnya yang tampak berantakan.


"Aduh, Tuan Malik. Sebaiknya Tuan duduk saja di luar. Biar saya yang membereskan kekacauan ini," ucap Arini yang tampak tidak enak saat lelaki kaya itu ikut-ikutan membereskan dapurnya yang seperti kapal pecah tersebut.


"Tidak apa, Arini. Lagi pula aku rasa ini juga salahku. Aku datang di saat yang tidak tepat. Kedatanganku membuat kamu harus melupakan pekerjaanmu. Sekali lagi maafkan aku, ya."


Arini pun mengangguk pelan dan mau tidak mau, ia terpaksa membiarkan Tuan Malik membantunya hingga ruangan itu kembali seperti semula. Bersih dan rapih, seolah tidak terjadi apapun di sana.


"Arini, hari ini aku berencana ingin mengajakmu membeli cincin pernikahan. Mau kah kamu ikut bersamaku? Aku berjanji tidak akan lama dan aku akan segera mengantarkan kamu pulang setelah selesai membeli cincin tersebut," ucap Tuan Malik sembari mencuci tangannya di westafel setelah selesai membantu Arini membereskan kekacauan di ruangan tersebut.


"Ya, Tuan. Tentu saja. Tapi, bolehkah aku minta waktu sebentar untuk mengganti pakaianku?" sahut Arini.


"Ya. Aku akan tunggu di luar."


Setelah mengeringkan tangannya dengan kain lap yang menggantung di dinding tak jauh dari westafel, akhirnya Tuan Malik pun keluar dari ruangan tersebut. Ia kembali ke ruang depan dan duduk di sofa. Sementara Arini bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian serta berdandan sedikit, agar terlihat lebih segar.


Beberapa menit kemudian.


Selesai berdandan dan mengganti pakaiannya, kini Arini berdiri tepat di hadapan Tuan Malik sambil tersenyum manis. Arini memilih pakaian yang paling bagus di antara semua pakaian yang ia miliki. Tidak mungkin ia berpenampilan seadanya ketika jalan bersama lelaki itu.


Ya, walaupun bukan pakaian bermerek dan mahal sama seperti yang sering dikenakan oleh mendiang Nyonya Arniz, paling tidak Arini sudah melakukan yang terbaik sesuai budget-nya.

__ADS_1


Tuan Malik mengangkat kepalanya dan memperhatikan penampilan Arini saat itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah apa yang ada di dalam pikiran Tuan Malik saat itu, Arini sama sekali tidak bisa menebaknya. Apakah saat itu ia menyukai penampilan Arini atau tidak. Sama sekali tidak tertebak di raut wajah lelaki itu.


"Kamu sudah siap?" tanya Tuan Malik.


Arini mengangguk pelan. "Ya, Tuan."


"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Tuan Malik segera bangkit kemudian berjalan keluar menuju teras depan rumah Arini. Sementara Arini mengikutinya dari belakang.


Setibanya di teras rumah, Arini segera mengunci pintu kontrakannya. Tepat di saat itu Suci lewat depan rumahnya. Ia memperhatikan Arini yang tampak cantik kemudian menggodanya.


"Ciee ... yang mau ngedate! Suitt ... suit ...."


Sontak saja Arini dan Tuan Malik melihat ke arahnya. Saat itu Suci tidak sadar bahwa lelaki yang sedang bersama Arini adalah Tuan Malik. Seperti biasa, ia menyangka bahwa Tuan Malik adalah Hendra. Jadi ia tidak ragu ketika menggoda sahabatnya itu.


"Maafkan saya, Tuan Malik. Maaf," lirih Suci sembari melangkah pergi dengan kepala yang terus menunduk.


Arini memperhatikan ekspresi wajah Tuan Malik dengan seksama. Tidak ada kebencian di dalam tatapan lelaki itu sama seperti sebelumnya. Mungkin karena kasus Angga sudah selesai dan lelaki itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Mari," ajak Tuan Malik kemudian.


Lelaki itu berjalan menuju mobil yang terparkir di depan kontrakannya, kemudian membuka pintu mobil tersebut untuk Arini.

__ADS_1


"Masuklah."


"Terima kasih, Tuan."


Setelah Arini masuk dan duduk di sana, Tuan Malik pun segera menyusul. Ia duduk di samping Arini dengan tatapan lurus ke depan.


"Jalan, Pak!" titah Tuan Malik kepada Pak Kosim.


"Baik, Tuan."


Pak Kosim pun segera melaju menuju toko perhiasan langganan mendiang Nyonya Arniz. Di mana Tuan Malik sering sekali menemani mendiang istrinya itu membeli berbagai koleksi perhiasannya.


Tidak berselang lama mereka pun tiba di toko tersebut. Sebuah toko perhiasan yang sangat megah menurut Arini. Arini bahkan sampai terpelongo saat memasuki bangunan tersebut. Baru saja menginjakkan kakinya di ruangan itu, seorang karyawan di toko tersebut sudah menyapanya. Karyawan itu menyambut kedatangan Tuan Malik dan Arini dengan sangat baik.


"Ikutlah dengannya dan pilihlah cincin yang kamu suka," ucap Tuan Malik kepada Arini.


Arini pun mengangguk pelan.


"Baik, Nyonya. Mari," ajak wanita itu.


Ia menuntun Arini mengelilingi ruangan itu dan melihat-lihat koleksi cincin pernikahan terbaik yang mereka miliki. Saking banyaknya, Arini bahkan bingung menentukan mana yang paling menarik perhatiannya. Sebab semua cincin itu sama-sama cantik dan tentunya sama-sama mahalnya.

__ADS_1


"Aduh, aku bingung mau yang mana?" gumam Arini sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


...***...


__ADS_2