Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 37


__ADS_3

Tidak terasa acara syukuran di kediaman Bu Ria pun hampir selesai. Para tamu sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Namun, ada pula beberapa yang masih bertahan di kediaman Bu Ria hanya untuk sekedar mengobrol bersama wanita itu.


Arini termasuk yang masih bertahan. Sementara Bu Nining dan Dodi sudah kembali ke kediaman mereka. Arini membantu membereskan rumah Bu Ria yang terlihat berantakan dan ternyata sejak tadi Hendra terus memperhatikan wanita itu. Hendra tersenyum kemudian berjalan menghampiri Arini yang masih sibuk berberes.


"Arini, sebaiknya kamu istirahat saja. Biar pelayan yang membereskan sisanya."


Arini membalas senyuman Hendra. "Tinggal sedikit lagi, Mas. Lagi pula setelah ini aku akan segera pulang, soalnya harinya mau hujan," sahut Arini sembari menunjuk ke arah langit mendung.


"Ya, kamu benar." Hendra memperhatikan langit yang mulai menggelap dan sepertinya tidak lama lagi akan segera turun hujan.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Arini pun segera berpamitan kepada Bu Ria dan Hendra.


"Terima kasih banyak ya, Arini. Dan maaf, Ibu sudah merepotkan kamu," tutur Bu Ria sembari mengantarkan Arini hingga depan rumahnya.


"Ah, Bu Ria. Ini 'kan memang keinginannya Arini," sahut Arini. "Ya, sudah. Arini pamit dulu ya, Bu."


Arini melangkah menuju kediamannya. Sementara Bu Ria dan Hendra kembali masuk ke dalam rumah mereka. Baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah, tiba-tiba saja tatapan Arini tertuju pada beberapa orang pria bertubuh besar yang sedang berdiri di depan rumahnya.


Arini tampak bingung. Ia memperhatikan para pria itu dengan seksama bahkan tanpa berkedip sedikitpun. Entah kenapa dada Arini mendadak terasa sesak dan ia memiliki sebuah firasat buruk dengan hadirnya para pria bertubuh besar tersebut.

__ADS_1


"Siapa mereka dan mau apa?" gumamnya.


Arini mempercepat langkahnya. Ia ingin segera menghampiri para pria bertubuh besar itu kemudian mempertanyakan maksud dan kedatangan mereka.


"Selamat siang!" Salah satu di antara pria bertubuh besar itu menyapa Sang Pemilik rumah.


"Si-siang. Ehm, ada apa, ya?" tanya Arini dengan terbata-bata.


Tepat di saat itu Dodi membuka pintu rumahnya dengan ekspresi bingung, sama seperti Arini. Namun, rasa penasaran Dodi sirna ketika tatapannya tertuju pada pria yang tadi mengucapkan salam. Ia mengenali pria itu sebagai salah satu anggota polisi yang bertugas di wilayahnya.


"Selamat siang, Pak. Maaf, ada apa, ya?" tanya Dodi sambil mengulurkan tangannya kepada pria itu dan segera disambut olehnya.


Arini bergegas menghampiri Dodi kemudian berdiri di samping suaminya itu. Dodi dan Arini sempat saling tatap untuk beberapa detik dan detik berikutnya mereka pun kembali fokus pada pria-pria bertubuh besar yang sedang berdiri di hadapan mereka.


Deg! Dodi terdiam dengan mata membulat sempurna. Sementara Arini begitu penasaran siapa yang sudah membuang si kecil Azkia ke teras rumahnya.


"Benarkah? Lalu, apakah orang itu sudah di amankan?" tanya Arini yang sudah tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Akhirnya misteri pembuangan bayi itu terungkap setelah beberapa bulan lamanya kasus itu terus diselidiki oleh para polisi.


"Itulah sebabnya kami ke sini, Bu Arini. Karena tersangka pembuangan bayi tersebut adalah wanita yang bekerja bersama Anda saat ini. Yang menyamar menjadi Babysitter untuk bayi tersebut," tutur Pak Polisi itu lagi.

__ADS_1


"Apa?!" pekik Arini dengan mata terbelalak. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ternyata wanita yang meletakkan si kecil Azkia di teras rumahnya pada malam itu adalah Anissa. "Benarkah itu, Pak? Ja-jadi yang meletakkan bayi itu adalah Anissa, Babysitter-ku?" lanjut Arini sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ya! Dan hari ini kami akan mengamankannya. Kami butuh keterangan dari wanita itu. Sekarang, di mana dia?" tanya Pak Polisi tersebut dengan tegas.


"Di-dia di dalam," sahut Arini yang masih syok.


Setelah mendengar jawaban Arini, para pria bertubuh besar itu pun segera masuk ke dalam rumahnya.


Arini memperhatikan ekspresi wajah Dodi yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa. Wajah lelaki itu pucat pasi dan ia tidak berani bicara sepatah katapun. Bahkan ketika Arini bertanya kepadanya.


"Mas Dodi, ternyata Anissa ...." Karena Dodi hanya diam dan tak menjawab pertanyaannya, Arini pun bergegas masuk dan menyusul para polisi yang tadi sudah masuk ke dalam rumah.


Bu Nining yang kebetulan duduk bersama Anissa di sofa ruang depan, terperanjat ketika para lelaki bertubuh besar itu tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi.


"Si-siapa kalian dan mau apa?!" pekik Bu Nining dengan terbata-bata.


"Kami membawa surat perintah untuk mengamankan wanita ini!" jawab Pak Polisi sembari memperlihatkan surat perintah tersebut ke hadapan Bu Nining.


"Apa?!" pekik Bu Nining dan Anissa secara bersamaan.

__ADS_1


#Sudah kebongkar, pemirsah! Jadi, jangan dibilang muter-muter lagi, Ok 🙏🙏🙏


...***...


__ADS_2