
"Aku jadi merasa tidak enak kepada Ibu, Mas." Arini duduk di tepian tempat tidur mereka sambil menatap sendu Dodi yang juga sedang duduk di sana.
"Sudahlah, tidak usah terlalu kamu pikirkan. Semoga saja setelah ini Ibu tidak membuat ulah lagi," jawab Dodi.
Malam itu Bu Nining benar-benar kesal. Ia bahkan tidak ikut makan malam bersama Dodi serta Arini dan memilih mengurung diri di dalam kamarnya. Keesokan harinya, sebelum berangkat kerja, Dodi menyempatkan diri untuk mengecek kondisi Bu Nining yang masih betah mengurung diri di kamar.
"Bu, keluarlah. Nasi goreng kesukaan Ibu sudah di sajikan di atas meja. Ibu sarapan, ya!" ucap Dodi di depan pintu kamar Bu Nining yang masih terkunci rapat.
Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah bangun dan sedang duduk di depan cermin riasnya. Ia masih kesal dengan anak semata wayangnya itu dan tidak ingin keluar dari kamar sebelum Dodi berangkat ke kantornya.
Karena tidak ada tanggapan dari Bu Nining, Dodi pun memilih pergi kemudian segera berangkat ke kantornya. Seperti biasa, Arini mengantarkan Dodi hingga ke halaman depan, di mana mobil lelaki itu diparkirkan.
"Setelah cicilan mobil serta rumah ini selesai, hidup kita akan sedikit lebih tenang, Arini. Aku pun sudah capek memikirkan semua cicilan ini," ucap Dodi sambil tersenyum kepada Arini yang berdiri di samping mobilnya.
"Maafkan aku yang tidak bisa membantu apa-apa, Mas. Aku hanya bisa membantu dengan doa dan berdoa agar Mas lancar terus rejekinya," sahut Arini.
"Ya, Sayang. Itu pun sudah cukup buat Mas." Dodi melirik jam digital yang tampak di dashboard mobilnya. Ia kembali tersenyum kemudian pamit kepada Arini.
"Mas berangkat dulu ya, Arini. Nanti Mas terlambat. Oh ya, hampir saja Mas lupa! Apapun yang diucapkan Ibu padamu, jangan didengar dan anggap angin lalu. Kalau perlu, menjauhlah darinya," tutur Dodi.
__ADS_1
Arini menganggukkan kepalanya dan Dodi pun segera berangkat ke kantor bersama benda beroda empat tersebut. Ketika Arini kembali masuk ke dalam rumah, ternyata Bu Nining sudah keluar dari kamarnya.
Bu Nining menekuk wajahnya ketika bersitatap mata bersama Arini. "Heh, Arini! Kamu pasti senang 'kan karena Dodi sudah berhasil kamu hasut. Selamat ya, kamu sudah menang," ucapnya dengan wajah kesal.
Arini mencoba menyunggingkan sebuah senyuman kepada Ibu mertuanya tersebut. "Aku ke kamar dulu ya, Bu. Aku ingin mencuci karena cucianku sudah menumpuk," jawab Arini sembari melangkah pergi dari ruangan itu.
"Semoga saja Dodi menikah lagi! Biar tahu rasa kamu," ucap Bu Nining dengan setengah berteriak.
Bu Nining kesal tiada terkira. Ia terus menggerutu dan mengumpat kasar sambil sesekali mencaci Arini. Namun, Arini tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian.
Hingga akhirnya Dodi pun memutuskan untuk menerima panggilan tersebut. "Apa lagi! Apa ucapanku kemarin masih belum jelas?" kesal Dodi.
Seseorang di seberang telepon pun tidak kalah kesal. Ia terus mengoceh dan mengancam Dodi. Beberapa kali Dodi menghempaskan napas kasar sambil memijit pelipisnya. Wajah lelaki itu tampak memerah akibat menahan rasa amarahnya yang sudah berada di puncak ubun-ubun.
"Sudah, cukup! Hentikan omong kosongmu sekarang juga!" kesal Dodi lagi sembari memutuskan panggilan tersebut.
"Ya, Tuhan! Masalah satu masih belum selesai dan sekarang muncul lagi masalah lainnya. Aarrhggg!" kesal Dodi sambil mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapih. Ia juga memukul meja kerjanya dengan keras hingga tangan lelaki itu terlihat memerah.
__ADS_1
Mood Dodi benar-benar buruk setelah mendapatkan telepon dari seseorang misterius tersebut. Bahkan hingga jam kerjanya selesai pun, Dodi masih mengalami bad mood.
Ketika melewati para karyawannya, banyak di antara mereka yang menegur sapa Dodi saat itu. Namun, Dodi tampak tidak peduli. Pikiran kalutnya membuat Dodi seperti orang linglung. Bahkan hal itu berlanjut hingga ke kediamannya.
"Mas," sapa Arini sambil tersenyum hangat.
Arini tampak cantik sore itu. Setelah mandi, ia pun bersolek untuk menyambut kedatangan Sang Suami. Namun, sepertinya apa yang dilakukan oleh Arini tampak sia-sia karena Dodi tidak menghiraukannya, bahkan menoleh pun tidak.
"Mas Dodi kenapa? Apa ada yang salah padaku?" gumam Arini sembari mengikuti langkah Dodi dari belakang. Bahkan hingga ke kamar mereka, lelaki itu tetap diam dengan wajah kusutnya.
Arini yang penasaran, meraih tangan lelaki itu kemudian mengajaknya duduk di tepian tempat tidur. Beruntung Dodi menurut saja. Ya, walaupun Dodi masih enggan membuka bibirnya.
"Mas Dodi kenapa? Apa Mas Dodi marah padaku? Jika benar Mas Dodi marah padaku, aku mohon maafkan aku," lirih Arini kepada Dodi yang kini membalas tatapannya.
Dodi menghembuskan napas berat sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, Arini. Mas tidak pernah marah kepadamu. Saat ini Mas sedang bad mood. Pekerjaan Mas yang menumpuk membuat Mas stress," sahut Dodi.
Akhirnya Arini bisa menghembuskan napas lega. Ia segera memeluk tubuh Dodi sambil menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu. "Aku lega, Mas. Aku kira Mas marah kepadaku," ucap Arini.
"Tidak, Arini. Mana pernah Mas marah padamu," jawab lelaki itu.
__ADS_1
...***...