Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 108


__ADS_3

Hendra duduk termenung di sofa ruang tamu sambil menatap cincin yang tadinya ingin dia berikan kepada Arini. Tiba-tiba Bu Ria datang menghampirinya dan ia begitu terkejut setelah tahu bahwa cincin itu masih berada di tangan Hendra.


"Loh, kenapa cincin itu masih ada padamu, Hendra? Ibu pikir cincinnya sudah kamu--"


Hendra menatap Bu Ria sambil tersenyum kecut. "Ternyata aku terlambat, Bu. Arini sudah memiliki calon suami dan sebentar lagi mereka akan segera melangsungkan pernikahan mereka," jawab Hendra.


"Arini akan menikah? Ta-tapi sama siapa? Kenapa Arini tidak cerita sama Ibu, ya?" Bu Ria mengerutkan kedua alisnya heran. Ia segera duduk di samping Hendra kemudian menatapnya lekat.


"Mungkin belum saatnya untuk Arini menceritakan semua itu kepada Ibu. Apa Ibu tau? Calon suami Arini bukanlah orang biasa. Walaupun ada rasa kecewa di lubuk hatiku, tapi demi Tuhan, aku bahagia setelah tahu bahwa calon suaminya adalah seorang lelaki kaya. Ya, setidaknya hidup Arini akan menjadi lebih baik dari pada saat ia masih bersama Dodi."


"Memangnya siapa calon suami Arini?" tanya Bu Ria penasaran.


"Tuan Malik Abraham. Suami dari mendiang Nyonya Arniz. Pemilik butik Zhanita Collection, tempat di mana Arini bekerja saat ini."


"Loh, serius kamu, Hen? Kalau tidak salah dengar, wanita itu baru saja meninggal dunia, 'kan? Lalu bagaimana bisa suaminya langsung menikahi Arini padahal ia masih dalam masa berkabung. Wah, jangan-jangan--" ucapan Bu Ria terhenti tatkala Hendra meraih tangannya sambil tertawa pelan.

__ADS_1


"Jangan berprasangka buruk dulu, Bu. Sebenarnya Arini dan Tuan Malik terpaksa menyetujui pernikahan itu. Semua itu adalah permintaan terakhir dari Nyonya Arniz sebelum ia meninggal dunia. Tapi, aku berharap Arini bahagia bersama Tuan Malik dan Tuan Malik bisa membahagiakannya. Sudah cukup penderitaan yang dirasakan oleh Arini selama ini," tutur Hendra.


Bu Ria menghembuskan napas berat sembari menatap Hendra dengan tatapan sendu. Ia menyentuh pundak anak lelakinya itu kemudian mengelusnya dengan lembut.


"Hatimu benar-benar bersih, Hendra. Ibu doakan semoga kamu cepat mendapatkan gantinya yang tidak kalah baik dan tidak kalah cantik dari Arini. Aamiin!"


Hendra terkekeh. "Aamiin! Terima kasih doanya, Bu. Dan semoga doa Ibu segera diijabah oleh Tuhan yang maha esa," lanjutnya.


"Aamiin!"


Karena saksi dan bukti sudah cukup kuat, serta Angga pun sudah mengakui perbuatannya, maka persidangan pun dipercepat. Lelaki itu akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup. Itu pun termasuk lebih ringan jika dibandingkan dengan ancaman jaksa penuntut umum yang menginginkan Angga untuk dihukum mati.


Jika Angga mendapatkan hukuman seumur hidup mendekam di balik jeruji besi, berbeda dengan sahabatnya. Lelaki itu dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.


Walaupun sebenarnya Tuan Malik merasa sedikit kecewa dengan keputusan itu, tetapi ia tetap berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Setidaknya ia sudah bisa lebih tenang karena para penjahat itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka.

__ADS_1


Setelah selesai dari pengadilan, Tuan Malik segera mengunjungi makam Nyonya Arniz. Tuan Malik memperhatikan makam milik Nyonya Arniz yang tampak begitu bersih. Tak ada sedikitpun sampah atau kotoran di sana.


Di atas makam Nyonya Arniz juga tampak taburan berbagai macam kelopak bunga yang tampak masih segar dan wangi. Tuan Malik yakin, Arini lah yang membersihkan serta menaburkan bunga tersebut.


Lelaki itu tersenyum tipis kemudian berjongkok dan menaburkan bunga yang ia bawa khusus untuk mendiang istrinya itu.


"Hai, Arniz. Semoga kamu selalu bahagia di sana. Apa kamu tahu, Sayang? Hari ini aku sangat lega karena kedua penjahat itu akhirnya dijatuhi hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka. Aku harap kamu akan lebih tenang karena mereka sudah mendapatkan hukuman yang memang sudah sepatutnya mereka dapatkan," tutur Tuan Malik.


Tuan Malik mengambil sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah cincin berlian milik Nyonya Arniz yang sempat jatuh ke tangan Angga. Cincin pernikahan yang dulu ia berikan khusus untuk Nyonya Arniz dan sekarang sudah kembali ke tangannya.


"Ini cincinmu, Sayang. Sampai kapanpun cincin ini akan aku simpan karena aku tahu bahwa kamu sangat menyayangi cincin ini." Tuan Malik menatap cincin itu lekat tanpa berkedip sedikitpun.


"Haruskah aku berikan cincin ini untuk Arini? Atau aku berikan cincin yang baru untuknya?" gumamnya kemudian dengan alis berkerut.


Tuan Malik kembali memasukkan cincin itu ke dalam saku jasnya kemudian kembali fokus pada pusara mendiang Sang Istri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2