
Dengan susah payah meminta izin kepada atasannya, akhirnya Dodi diizinkan untuk menjenguk anaknya di Rumah Sakit. Dengan tergesa-gesa, Dodi melajukan motor maticnya menuju Rumah Sakit.
Selang beberapa saat, akhirnya lelaki itupun tiba di depan Rumah Sakit tersebut. Setelah memarkirkan motornya, Dodi segera menuju ruangan di mana Azkia di rawat.
Dari kejauhan Dodi melihat Bu Nining dan Bu Ria yang sedang menemani Azkia di ruangannya. Bu Nining terlihat sedih. Beberapa kali terlihat wanita paruh baya itu mengusap air matanya.
"Semoga cucuku panjang umur. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Dia masih sangat kecil. Andai bisa kugantikan, aku rela menggantikan posisinya," ucap Bu Nining kepada Bu Ria yang sejak tadi duduk di sampingnya sambil mengelus lembut punggung wanita paruh baya itu.
"Yang sabar ya, Bu. Kita berdoa saja semoga Azkia cepat sembuh dan kembali seperti sedia kala," sahut Bu Ria.
Tepat di saat itu Dodi tiba di ruangan itu. Dengan wajah cemas, Dodi menghampiri tempat tidur pasien, di mana Azkia sedang terbaring lemah.
"Dodi! Ah, syukurlah. Akhirnya kamu datang juga," ucap Bu Nining dengan mata berkaca-kaca menatap Dodi.
"Iya, Bu. Butuh waktu lama buat meyakinkan atasanku agar ia mengizinkan aku keluar. Maklumlah, sekarang 'kan aku hanya karyawan biasa," tutur Dodi dengan sendu. Bu Nining menghembuskan napas berat kemudian mengelus lembut pundak Dodi.
Dodi memperhatikan sekeliling ruangan. Ruangan kelas dua yang kebetulan memang masih kosong dan hanya ditempati oleh Azkia sendiri.
"Bu, di mana Anissa?" tanya Dodi sembari menautkan kedua alisnya ketika menatap Bu Nining.
"Tadi Bu Ria sudah membantu Ibu menghubungi nomor ponsel milik Anissa. Tapi Anissa tidak mau menerima panggilannya. Bu Ria bahkan sudah mencoba puluhan kali, tapi tetap sama, Anissa menolak panggilan itu," sahut Bu Nining dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Dodi mendengus kesal. "Dasar wanita tidak tahu diri! Apa yang sebenarnya ia lakukan hingga mengangkat panggilan penting pun tidak bisa," gerutu. Dodi.
Dodi merogoh saku kemeja yang ia kenakan kemudian mengeluarkan sebuah benda pipih kesayangannya dari dalam saku tersebut. "Aku harus menghubungi wanita itu!" ucap Dodi kemudian sembari melenggang keluar dari ruangan itu.
Sementara Bu Nining dan Bu Ria hanya bisa saling tatap dan membiarkan Dodi mencoba menghubungi istrinya itu. "Kamu lihat sendiri 'kan, Bu Ria. Bagaimana kelakuan Anissa selama ini," tutur Bu Nining dengan kesal.
Bu Ria tidak menjawab. Ia takut salah bicara dan tidak ingin Bu Nining nantinya malah tersinggung dengan ucapannya.
Di luar ruangan, Dodi terus mencoba menghubungi nomor ponsel Anissa. Namun, sama seperti yang dikatakan oleh Bu Nining sebelumnya, wanita itu enggan menerima panggilan dari siapapun, termasuk Dodi.
Beberapa kali Dodi mencoba, tetapi panggilannya terus di tolak dan di tolak oleh Anissa, padahal nomor wanita itu masih dalam keadaan aktif. Dodi tidak menyerah ia mencoba mengirimkan pesan kepada Anissa yang isinya setengah mengancam.
[Angkat panggilanku, Anissa!] tulis Dodi ditambah dengan emoticon berwajah marah.
Di sebuah hotel berbintang.
Anissa menekuk wajahnya sambil menggerutu. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur sambil memandangi layar ponsel tersebut.
"Apaan, sih! Mengganggu saja," gerutu Anissa.
"Ada apa lagi, Sayang?" Bram, lelaki berperawakan gendut dengan rambut setengah pelontos itu ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, tepat di samping Anissa.
__ADS_1
"Ibuku. Tunggu sebentar ya, Mas. Aku ingin bicara dengannya," ucap Anissa.
Lelaki tua itu pun menganggukkan kepalanya. Namun, sebelum melepas Anissa pergi, ia masih sempat-sempatnya melumatt bibir tipis milik Anissa. Hal itu membuat Anissa terkekeh kemudian memukul lelaki itu dengan manja.
"Mas Bram, ih! Nakal," ucapnya.
Bram ikut tertawa pelan. Tatapan lelaki tua itu terus saja tertuju pada kemolekan tubuh Anissa yang polos tanpa sehelai benang pun. Bahkan dua bulatan kenyal yang sudah sering ia nikmati itu, masih saja membuatnya tergoda.
Anissa meraih kimono tidur yang tergeletak di samping tempat tidur kemudian melenggang menuju balkon. Sementara lelaki berperawakan subur itu memilih menunggu Anissa di atas tempat tidur empuk berukuran king size tersebut.
Di balkon.
Anissa menerima panggilan Dodi. "Ada apa lagi sih, Mas?" kesal Anissa sambil menyilangkan tangannya ke dada.
"Ya ampun, Anissa! Apa kamu tahu bahwa saat ini anak kita sedang dirawat di Rumah Sakit!"
Anissa memutarkan bola matanya dengan malas. "Memangnya apa yang terjadi pada Azkia hingga ia harus dirawat di Rumah Sakit? Bukankah tadi pagi dia hanya demam biasa?"
"Kamu itu Ibu macam apa sih, Anissa! Masa anak sendiri dirawat di Rumah Sakit, kamu sama sekali tidak merasa khawatir! Sementara orang lain seperti Bu Ria saja masih memiliki hati nurani dan ikut menemani Ibu hingga sekarang. Sekarang jawab aku! Kamu di mana? Biar aku jemput kamu," tegas Dodi.
"Ehm, aku ... ehm ...." Anissa tampak panik. Wanita itu bingung harus menjawab apa kepada suaminya tersebut.
__ADS_1
...***...