
"Memangnya ada apa sih, Dod?" tanya Bu Nining yang makin penasaran, begitu pula Anissa.
"Iya, sebenarnya ada apa, Mas?" lanjut Anissa yang masih sibuk mencoba menenangkan si kecil Azkia yang sedang rewel.
Dodi menghembuskan napas berat sebelum ia membuka suaranya. Lelaki itu menatap kusut wajah kedua wanita beda generasi yang sedang duduk di hadapannya.
"Bu, Anissa, hari ini aku punya kabar buruk untuk kita semua. Aku baru saja mendapatkan demosi kerja dari atasanku karena berita perselingkuhan antara aku dan Anissa terdengar hingga ke telinga mereka," lirih Dodi, masih dengan wajah kusutnya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Dodi, Anissa pun membulatkan matanya dengan sempurna. "Demosi kerja? Lalu, sekarang jabatan Mas apa di perusahaan itu?" pekik Anissa yang seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Sementara Bu Nining yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Dodi hanya bisa terpelongo dan menatap Dodi serta Anissa secara bergantian. "Maksudmu apa sih, Dodi? Ibu tidak mengerti," sela Bu Nining.
"Bu, jabatan Mas Dodi itu diturunkan oleh atasannya! Dan sekarang Mas Dodi bukan lagi seorang Manager Personalia seperti dulu. Otomatis gaji Mas Dodi pun tidak segede dulu lagi," kesal Anissa.
__ADS_1
"Apa?!" pekik Bu Nining yang akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Dodi setelah Anissa menjelaskannya.
"Ya, Bu. Apa yang dikatakan oleh Anissa benar. Saat ini aku bukan lagi Dodi yang dulu. Posisiku di perusahaan itu hanya sebagai karyawan biasa. Itu pun masih terbilang beruntung karena mereka masih meringankan hukuman kepadaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita jika mereka memutuskan untuk memecatku secara tidak hormat dan aku yakin perusahaan manapun akan berpikir dua kali untuk menerimaku," tutur Dodi.
"Apa, karyawan biasa? Ya, Tuhan! Gaji karyawan itu tidak seberapa, Mas! Lalu bagaimana nasib kita-kita? Sementara gaji Mas Dodi sekarang hanya cukup untuk makan sebulan saja! Belum biaya susu formula untuk Azkia. Belum bayar angsuran rumah serta mobil dan biaya lainnya," pekik Anissa dengan mata berkaca-kaca.
"Benarkah itu, Dodi? Memangnya sekarang gajimu berapa?" tanya Bu Nining yang tidak kalah terkejutnya.
"Sekitar tiga jutaan lebih, Bu." Dodi menghembuskan napas berat. Ia tidak menyangka bahwa sekarang ia akan kembali merintis karirnya dari nol lagi. Semua itu hanya karena kecerobohannya, bermain api bersama Anissa yang akhirnya kebablasan dan menjadi kesalahan besar.
Sementara Anissa masih terdiam dengan wajah yang terlihat menekuk sempurna. Beberapa kali wanita cantik itu membuang napas beratnya dengan kasar.
"Itulah salah satu hal yang ingin aku bicarakan kepada kalian. Dengan gaji segitu, kita sudah tidak bisa lagi menggaji Bi Surti. Bahkan mobilku pun akan ku over kredit karena aku sudah tidak sanggup membayar angsurannya lagi. Jadi, mulai sekarang biasakanlah untuk melakukan semua pekerjaan di rumah ini sendiri. Memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan--" Belum habis Dodi bicara, Anissa segera menyela ucapan suaminya itu.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas! Tidak bisakah Mas berhenti bekerja di perusahaan itu kemudian cari pekerjaan di perusahaan lain saja. Dari pada di sana dengan gaji yang seperti itu?!" kesal Anissa yang tidak terima dengan nasibnya.
"Iya, Dod, Anissa benar! Kamu 'kan berpendidikan tinggi, gunakan ijazahmu. Rugi lah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi karyawan biasa," tutur Bu Nining yang sependapat dengan ucapan Anissa.
"Ya ampun, Bu, Anissa. Memangnya kalian pikir mencari pekerjaan itu gampang? Apa lagi dengan namaku yang sudah cacat di mata atasan. Sekarang itu S1 satu menjamur, Bu. Walaupun aku mencari pekerjaan di tempat lain pun, paling gajinya juga akan segitu-gitu juga. Itu pun belum tentu aku nyaman dengan lingkungan baruku," kesal Dodi sambil membuang pandangannya dengan kasar.
"Aku pikir setelah menikah denganmu, hidupku akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ternyata aku salah, ternyata nasibku tidak pernah berubah," gumam Anissa sambil terisak.
"Anissa, kenapa kamu bicara seperti itu! Ini bukanlah keinginanku dan semua ini terjadi juga akibat perbuatanmu! Seandainya kamu tidak berbuat aneh-aneh dengan meletakkan Azkia di teras rumah ini, mungkin hal ini tidak akan terjadi! Padahal kita bisa bicarakan hal ini secara baik-baik!" Wajah Dodi tampak memerah. Ia kesal karena Anissa menyalahkan dirinya.
"Lah, kenapa Mas malah menyalahkan aku? Aku melakukan itu karena Mas tak juga kunjung bertanggung jawab padaku! Padahal selama ini aku sudah sering mengatakan bahwa aku hamil dan Mas sama sekali tidak peduli. Aku bahkan sampai di usir dari rumah itu semua gara-gara Mas Dodi," sahut Anissa dengan air mata bercucuran. Anissa menyerahkan Azkia kepada Bu Nining dengan kasar kemudian berlari kecil menuju kamarnya. Anissa menangis lirih meratapi nasibnya di dalam kamar tersebut.
"Akh, sudah hentikan! Di saat kita dalam masalah besar seperti ini, kalian malah bertengkar," kesal Bu Nining sambil mencoba menenangkan Azkia yang kini menangis di pelukannya.
__ADS_1
...***...