Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 23


__ADS_3

Bukannya pulang ke rumah sehabis pulang bekerja, Dodi malah keluyuran tanpa arah yang jelas untuk menghindari pertemuannya bersama Anissa. Bahkan Dodi pun sengaja mematikan ponselnya agar Anissa tidak bisa menghubunginya.


Apa yang dilakukan oleh Dodi nyatanya malah membuat Arini cemas. Beberapa kali ia melirik jam dinding yang menggantung di dinding ruangan itu. Hari sudah hampir gelap, tetapi Dodi belum juga kelihatan batang hidungnya. Arini bahkan sudah berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponsel lelaki itu, tetapi nomornya tidak aktif.


"Bagaimana, Arini? Apa Dodi menjawab panggilanmu?" tanya Bu Nining yang ternyata juga mencemaskan keadaan putra semata wayangnya itu.


Arini menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Ibu mertuanya itu dengan tatapan sendu. Kemudian setelah itu, ia pun kembali fokus pada halaman depan rumahnya.


"Kalian tidak sedang bertengkar 'kan, Rin? Atau jangan-jangan Dodi kesal kepadamu soal Baby sitter itu? Sebenarnya kamu 'kan yang merengek, meminta Baby sitter itu kepada Dodi, jujur saja!" ketus Bu Nining dengan wajah kesal, menjatuhkan dirinya ke sofa yang ada di ruang depan.


"Ya Tuhan, Ibu. Kami tidak sedang bertengkar. Hubungan kami baik-baik saja, sama seperti biasanya. Dan soal Baby sitter untuk Azkia, aku berani bersumpah bahwa Mas Dodi lah yang menginginkan itu. Bukankah Ibu sudah mendengarnya sendiri dari Mas Dodi," tutur Arini.


"Aku tetap tidak percaya!" jawab Bu Nining sambil memalingkan wajahnya dengan kesal.


Arini menghembuskan napas berat. Ia tahu, tidak akan semudah itu menjelaskan kepada Bu Nining. Jika Bu Nining bilang A, ya akan tetap A, walaupun jawaban yang sebenarnya adalah B.


Arini yang semakin khawatir, segera melangkah menuju depan pagar rumahnya. Ia berdiri di sana dengan wajah cemas. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya Dodi pulang terlambat. Namun, setidaknya lelaki itu pasti memberi kabar jika ia harus bekerja lembur atau ada kesibukan lainnya.


"Mas Dodi, kamu di mana? Semoga kamu baik-baik saja," gumam Arini sambil meremass-remass kedua tangannya secara bergantian. Sedangkan mata wanita itu terus tertuju pada jalan yang biasa dilewati oleh Dodi.

__ADS_1


Ternyata sejak tadi Hendra memperhatikan Arini dari balik kaca jendela rumahnya. Hendra memiliki firasat bahwa saat itu Arini sedang ada masalah. Perlahan ia melangkah keluar dari rumahnya kemudian menghampiri wanita itu.


"Arini, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Hendra.


"Mas Hendra?" Arini tersenyum kecut sambil membalas tatapan lelaki itu. "Menunggu Mas Dodi. Entah kenapa hari ini dia terlambat dan ponselnya pun tidak aktif ketika dihubungi," sahut Arini dengan wajah cemas.


"Kebetulan aku ingin ke supermarket di seberang komplek. Biar nanti sekalian aku bantu cari Mas Dodi, siapa tahu kami ketemu di jalan."


"Oh, terima kasih banyak, Mas," ucap Arini dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama." Hendra pun pamit kemudian kembali ke halaman rumahnya. Lelaki itu mengeluarkan motor sport kesayangannya kemudian bergegas pergi untuk mencari keberadaan Dodi.


Sementara Arini masih mengkhawatirkan Dodi di luar sana. Di dalam kamar milik Dodi dan Arini, Anissa tengah mengintip apa yang dilakukan oleh Arini dari balik kaca jendela. Saat itu ia ditugaskan menidurkan si kecil Azkia dan sekarang si kecil itu udah terlelap di alam mimpinya.


"Hah, aku yakin sekali kamu pasti sengaja menghindar dariku 'kan, Mas Dodi? Tapi aku tidak sebodoh itu, aku akan terus di sini sampai kamu datang!" kesalnya sambil memukul dinding kamar, di samping jendela.


Sementara itu di tempat lain.


Hendra masih memacu motor sport-nya sambil memperhatikan jalanan yang ia lewati. Cukup lama Hendra menjalankan motor tersebut tanpa arah, hingga akhirnya ia berhasil menemukan mobil milik Hendra.

__ADS_1


"Benar 'kan itu mobilnya Mas Dodi? Sepertinya iya," gumamnya sambil memperhatikan nomor plat mobil milik Dodi.


Hendra menghentikan motornya tepat di samping mobil milik Dodi yang ternyata kosong. Tidak ada sesiapa pun di dalam sana, hanya sebuah ponsel milik Dodi yang teronggok dengan kondisi off.


Hendra mengedarkan pandangannya, hingga akhirnya ia menemukan sosok Dodi yang sedang duduk di depan sebuah kolam kecil yang ada di taman tersebut sambil termenung. Entah sudah berapa puluh kerikil yang ia lemparkan ke kolam tersebut.


Wajah lelaki itu tampak kusut. Menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu, kesal, marah, sedih dan semuanya bercampur menjadi satu. Perlahan Hendra menghampiri Dodi dan berdiri di belakang lelaki itu.


"Ehem!" Hendra berdehem dan cara itu berhasil membuyarkan lamunan Dodi. "Mas Dodi sedang apa di sini? Pulanglah, Istri dan Ibunya Mas sangat mengkhawatirkan keadaanmu," lanjut Hendra perlahan.


Dodi menoleh kemudian menatap Hendra dengan seksama. "Apa wanita itu sudah pulang?" tanya Dodi.


Hendra tidak mengerti siapa dan apa yang dimaksudkan oleh lelaki itu. Ia mengerutkan alisnya kemudian balik bertanya kepada Dodi. "Wanita? Wanita yang mana? Arini?"


Dodi memijit pelipisnya. "Bukan-bukan! Tapi wanita itu! Yang menjadi Baby sitter-nya Azkia?"


Hendra menggelengkan kepalanya. Ia memang mendengar soal baby sitter itu dari Ibunya, tetapi ia tidak tahu apakah wanita itu masih berada di kediaman Dodi atau tidak. Lagi pula ia sendiri tidak pernah melihat wanita itu sekali pun seharian ini.


"Soal itu aku tidak tahu, Mas."

__ADS_1


Dodi menghembuskan napas berat dan wajahnya kembali kusut.


...***...


__ADS_2