
Tia memutuskan untuk mencari keberadaan Toni dan ingin minta penjelasan kepada lelaki itu kenapa rumah mereka dijual. Padahal hanya rumah itu satu-satunya harta milik Tia yang masih tersisa. Sementara yang lainnya sudah ludes dilahap lelaki itu.
Setelah menitipkan Putri kepada salah satu tetangganya, Tia pun bergegas mencari keberadaan Toni. Suatu hari Tia pernah membututi Toni dan ia tahu di mana tempat berkumpulnya lelaki itu. Sekarang Tia sangat yakin bahwa lelaki itu pasti berada di tempat perkumpulannya.
Tia baru saja tiba di tempat perkumpulan Toni dan cs-nya. Tempat di mana biasanya lelaki itu bermain judi dan bersenang-senang. Tanpa merasa ragu sedikit pun, Tia segera masuk ke dalam ruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya di dalam ruangan itu sembari mencari keberadaan Toni. Hingga akhirnya ia pun menemukan di mana lelaki itu berada.
Tia syok melihat Toni yang sedang asik bermain judi bersama teman-temannya dengan ditemani beberapa wanita cantik berpakaian tidak senonoh di sisi kanan dan kirinya.
Ada yang bertugas menuangkan minuman haram itu dan ada beberapa yang duduk bersandar di pundak Toni sambil terus menggerayangi tubuh lelaki itu. Mereka bahkan tidak segan-segan berciuman dan saling berganti lumatt.
Melihat hal itu di depan mata kepalanya, membuat Tia meradang dan tidak bisa menahan emosinya. Ia menghampiri Toni kemudian menyingkirkan wanita-wanita nakal itu dari sisi suaminya.
"Mas Toni! Apa yang Mas lakukan di sini, ha? Kenapa Mas membiarkan mereka menggerayangi tubuhmu?!" pekik Tia dengan wajah memerah.
"Mau apa kamu ke sini? Ini bukan urusanmu dan sebaiknya kamu pergi dari tempat ini dan jangan ganggu kesenanganku!" balas Toni yang juga tidak kalah emosinya karena si Tia sudah berani mengganggu kesenangannya.
"Aku tidak akan pergi sebelum Mas Toni menjelaskan kenapa rumah kita dijual? Sekarang kita harus tinggal di mana, Mas!?" kesal Tia dengan setengah berteriak.
__ADS_1
Sementara pasangan itu tengah berdebat, orang-orang yang ada di ruangan tersebut hanya diam sambil memperhatikan perdebatan mereka sambil tersenyum.
"Aku butuh duit, itulah alasanku kenapa aku menjual rumah itu. Sekarang masa bodoh denganmu, mau kamu tinggal di kolong jembatan, kek! Di emperan toko, kek! Terserah," jawab Toni, tampak acuh tak acuh.
"Kamu memang kejam, Mas! Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nasib Putri? Kenapa kamu hanya memikirkan kesenanganmu saja!"
"Memang kenapa jika aku tidak peduli dengan kalian? Apa itu masalah bagimu, Tia? Dan satu hal yang harus kamu ketahui ... aku sama sekali tidak peduli sama Putri," jawab Toni.
"Ya, Tuhan. Mas!" pekik Tia.
Tia yang sudah tidak bisa menahan rasa kesal, akhirnya berani menyerang Toni. Ia mendorong dan memukul dada lelaki itu dengan kasar. Ternyata Toni pun tidak tinggal diam. Ia membalas perbuatan Tia dengan memukul wajah wanita itu dengan sangat keras hingga membuat Tia jatuh tersungkur di lantai ruangan.
"Kamu dengar baik-baik ya, Tia. Mulai hari ini kamu aku talak! Bukan talak satu atau dua, tapi talak tiga! Sebab aku tidak ingin hidup bersama wanita bodoh sepertimu. Kamu dengar itu?" tegas Toni.
Toni meraih tangan wanita-wanita nakal tersebut kemudian meminta mereka untuk menemaninya seperti tadi.
"Kalian-kalian semua menjadi saksi perceraianku dengan wanita bodoh ini. Dan untukmu, Tia. Segera enyah dari tempat ini karena aku sudah muak melihat wajahmu!" sambung Toni.
__ADS_1
"Tega kamu, Mas! Semoga Tuhan membalas perbuatanmu ini," ucap Tia sembari menyeka air matanya.
Toni tergelak dan diikuti oleh wanita-wanita nakal yang kini berdiri di sampingnya. "Berdoalah, Tia! Teruslah berdoa yang jelek-jelek untukku. Tapi kamu tenang saja, aku sama sekali tidak takut karena aku yakin Tuhan tidak akan pernah mengabulkan doamu!"
Tia terdiam dan tatapannya masih tertuju pada Toni yang dikerubuti oleh wanita-wanita cantik itu.
"Jadi ... sekarang Mas Toni jadi Duren, dong?" goda salah satu wanita nakal tersebut sambil meraba-raba dada Toni. Padahal Tia masih berada di tempat itu dan mendengar serta melihat semuanya dengan sangat jelas.
"Duren? Apa itu duren?" Toni menautkan alisnya heran.
"Duda keren," sambung wanita itu sambil tergelak.
"Iya, dong! Aku 'kan memang duda keren!" ucap Toni dengan begitu percaya diri.
Perlahan Tia keluar dari tempat itu. Kini ia pasrah dengan nasibnya bersama Putri. Ingin meminta bantuan kepada Tuan Malik pun, rasanya ia tidak sanggup karena sudah terlanjur malu.
Setelah kepergian Tia, Toni pun kembali melanjutkan permainan judi bersama teman-temannya.
__ADS_1
...***...