
"Selamat menikmati." Tuan Malik meletakkan piring berisi nasi goreng buatannya ke atas meja, tepatnya di hadapan Arini.
Arini tersenyum lebar sembari menikmati aroma nasi goreng sederhana yang dibuat dengan penuh cinta oleh Tuan Malik. Lelaki itu duduk tepat di hadapannya kemudian meraih sendok dan garpu.
Sebelum Arini mencicipi masakannya, ia sudah memastikan bahwa nasi goreng buatannya sudah cukup layak untuk dikonsumsi. Ia tersenyum kemudian berdoa sebelum menyuap nasi goreng tersebut.
Arini memasukkan suapan pertamanya dan ekspresi wajah Arini cukup aman. Tidak ada ekspresi yang aneh saat itu.
"Bagaimana menurutmu, apa nasi gorengnya enak?" tanya Tuan Malik.
"Enak, Mas. Lain kali bolehlah aku minta bikinkan lagi," sahutnya sembari memasukkan suapan yang kedua.
Tuan Malik tersenyum puas. Setidaknya Arini masih menyukai nasi goreng buatannya. "Tentu saja, kapanpun kamu mau."
***
Keesokan harinya.
Setelah Tuan Malik berangkat, Arini duduk terdiam di sofa yang ada di ruang televisi sambil berpikir keras. Ia melirik kalender di dalam ponselnya dengan alis yang berkerut.
"Ini sudah lewat bulan, kenapa aku masih belum dapet juga, ya?" gumam Arini sambil menggaruk kepalanya.
Selama ini Arini selalu teratur mendapatkan tamu bulanan. Namun, kali ini ia telat. Wajahnya tampak cemas. Arini ketakutan karena selama ini ia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
"Apa aku harus memeriksakannya ke dokter, ya?" gumam Arini.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba Bi Surti datang lalu menyapa Arini. "Non. Non Arini kenapa? Sejak tadi Bibi perhatikan Non sepertinya sedang cemas."
Arini tersentak kaget. Ia menoleh kemudian tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, kok, Bi."
Bi Surti pun mengangguk pelan. "Ya, sudah kalau begitu. Bibi permisi dulu ya, Non. Masih ada pekerjaan yang harus Bibi selesaikan di dapur."
Arini terdiam sembari memperhatikan Bi Surti yang sudah melenggang beberapa langkah darinya. Sebenarnya Arini ingin mempertanyakan soal keterlambatannya kepada Bu Surti. Namun, ia tidak yakin Bi Surti pun tahu apa alasannya.
"Bi!" panggil Arini sebelum Bi Surti menghilang dari pandangannya.
"Ya, Non?" Bi Surti berbalik dan kini menatap Arini lekat.
Bi Surti mengangguk kemudian berjalan menghampiri Arini dan duduk tepat di samping majikannya tersebut.
"Ada apa ya, Non?"
"Begini, Bi. Aku sudah telat satu bulan lebih. Aku sangat khawatir karena selama ini aku tidak pernah telat. Apa ini suatu pertanda bahwa aku tengah mengidap suatu penyakit?" tanya Arini kepada Bi Surti dengan wajah yang tampak memucat.
Kening Bi Surti berkerut. Sepertinya wanita paruh baya itu sedang berpikir keras. Setelah beberapa detik berikutnya, Bi Surti tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman lebar.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Non Arini sedang hamil?"
"Hamil?!" pekik Arini dengan mata membelalak.
Tidak pernah sedikit pun terlintas soal itu di kepalanya. Setelah sekian lama berumah tangga bersama Dodi, Bu Nining selalu bersikeras mengatakan bahwa dirinya lah yang memiliki masalah. Akibat keseringan mendengarkan ucapan-ucapan seperti itu, entah kenapa otak Arini pun seolah menerima kenyataan bahwa dirinya memang memiliki masalah, alias mandul.
"Ta-tapi, Bi. Bukankah Bibi sudah tahu bahwa selama ini aku--"
Bi Surti memegang erat tangan Arini. "Siapa yang bilang, Non? Bahkan Dokter selalu bilang bahwa Non Arini baik-baik saja."
Arini kembali terdiam dalam beberapa saat sambil memikirkan ucapan Bi Surti. "Lalu kenapa selama ini kami tidak juga dikaruniai seorang anak? Padahal Mas Dodi saja sudah punya Az ...." Tiba-tiba Arini menutup mulutnya dengan tangan.
"Azkia bukanlah anak kandung Mas Dodi. Apa jangan-jangan Mas Dodi ... ah! Aku tidak boleh berpikiran negatif," gumam Arini.
"Coba Non periksakan ke dokter kandungan. Siapa tahu ini benar, Non." Bi Surti memberi saran.
Namun, wajah Arini masih terlihat ragu. "Sebaiknya jangan, Bi. Aku takut kecewa. Apa sebaiknya aku beli test pack saja, ya?"
Bi Surti mengangguk dengan cepat. "Ya, itu juga bisa, Non. Non mau? Jika ya, biar Bibi beliin di apotik yang ada di depan."
Arini menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Bi. Beli satu saja, ya."
"Baik, Non. Non tunggu saja sebentar di sini," ucap Bi Surti.
__ADS_1
Setelah menyerahkan uangnya kepada Bi Surti, wanita paruh baya itu pun bergegas keluar lalu menuju apotik yang berada tak jauh dari kediaman megah tersebut.
...***...