
"Apa aku harus mendengarkan kata Suci, ya? Menggoda suamiku sendiri? Ya, Tuhan! Aku malah takut Mas Malik akan menganggap aku nakal karena sudah menggodanya," gumam Arini yang kini berdiri di depan pintu lemari pakaian yang terbuka lebar.
Dengan ragu-ragu, Arini meraih sebuah lingerie miliknya. Sebenarnya lingerie tersebut tidaklah terlalu seksi. Panjangnya di atas lutut, bahannya cukup tebal dan tidak transparan pastinya. Hanya saja lingerie tersebut model cukup terbuka, terutama di bagian dada.
"Aku pake ini gak apa, 'kan? Semoga Mas Malik tidak marah."
Setelah mengenakan lingerie, Arini pun segera menutup pintu lemari itu kembali. Tepat di saat itu, terdengar sebuah notifikasi pesan masuk dari ponsel miliknya yang terletak di atas nakas.
Arini meraih benda pipih itu kemudian membuka pesan chat yang baru saja dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Ia tersentak kaget setelah tahu apa isi chat tersebut.
"Dasar Suci! Aku tidak menyangka bahwa Suci otaknya bisa ngeres juga." Arini terkekeh pelan sambil memperhatikan foto sebuah lingerie seksi yang baru saja dikirimkan oleh sahabatnya itu.
Ting! sebuah pesan kembali masuk.
[Aku membeli satu untukmu. Awas, kalo tidak dipakai! Tunggulah beberapa menit lagi, paket itu akan segera sampai di tanganmu.]
"Ya ampun, Suci!" Arini menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya tampak kusut. Bukan karena tidak senang mendapatkan hadiah seperti itu, hanya saja ia merasa tidak nyaman jika harus mengenakannya di hadapan Tuan Malik.
"Apa pendapat Tuan Malik soal ini? Ah, aku jadi takut."
Tok-tok-tok!
Terdengar suara pintu kamar yang di ketuk seseorang dari luar.
"Ya?"
"Non, ini Bibi. Bibi membawa sebuah paket dari seorang kurir untuk Non Arini," jawab Bi Surti dari balik pintu.
__ADS_1
"Paket? Kok, bisa?!" gunam Arini heran.
Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, Arini pun bergegas menghampiri pintu kamar dan membukanya. "Paket apa, Bi?"
"Entahlah, Non. Barusan penjaga keamanan di depan menyerahkannya kepada Bibi," ucap Bi Surti sembari menyerahkan sebuah paket berbentuk kotak kepada Arini dan Arini pun segera menyambutnya.
Arini memperhatikan paket tersebut dan di sana tertera sebuah nama seseorang yang sudah mengirimkan paket tersebut kepadanya dan setelah mengetahuinya ia pun tertawa pelan.
"Terima kasih ya, Bi."
"Sama-sama, Non. Bibi pamit dulu, ya."
Setelah Bi Surti pergi meninggalkan kamarnya, Arini pun segera menutup pintu tersebut. Arini membawa paketan tersebut ke tempat tidur kemudian membukanya.
"Bagaimana bisa secepat ini?" gumam Arini sembari memperhatikan lingerie yang diberikan oleh Suci kepadanya sambil tersenyum kecut.
Arini bergegas meraih ponselnya dan menerima panggilan dari Suci.
"Ci, kok bisa pas, sih? Apa jangan-jangan kamu yang mengantarkannya sendiri?" tanya Arini yang begitu penasaran.
"Ya, begitulah." Suci tertawa pelan. "Aku sama Mas Hendra. Mas Hendra yang mengantarkan aku ke tempatmu."
"Hah? Berarti Mas Hendra tahu apa isi paketan itu?" pekik Arini dengan mata membulat.
"Ya, tahulah. Kan itu hadiah dari kami berdua," celetuk Suci.
"Ya ampun, Ci. Aku 'kan jadi malu," jawab Arini dengan wajah merah merona.
__ADS_1
"Sudah, jangan dipikirkan. Sekarang kenakan lingerie itu atau aku tidak akan sudi berteman denganmu lagi," ucap Suci dengan setengah mengancam, kemudian terdengar suara tertawaan Hendra di samping wanita itu.
Arini menghembuskan napas berat. "Iya-iya, baiklah. Akan segera aku kenakan."
"Begitu, dong! Sudah dulu, ya. Aku mau dinner dulu sama Mas Hendra." Suci pun memutus panggilannya.
Arini menatap lingerie seksi yang diberikan oleh Suci kepadanya. Lingerie transparan dengan model yang sangat menantang dan dapat membuat mata lelaki manapun melotot ketika melihatnya.
"Baiklah, akan segera kukenakan sebelum Mas Malik kembali ke kamar ini."
Arini bergegas menanggalkan lingerie yang saat ini ia kenakan kemudian menggantinya dengan lingerie seksi yang baru saja diberikan oleh Suci. Arini memperhatikan penampilannya di balik cermin sambil berputar-putar.
"Ya, ampun! Ternyata aku cantik juga, ya." Arini terkekeh pelan melihat tubuh mulusnya yang terpampang dengan jelas di depan cermin.
"Oh ya, sebentar!"
Arini melepaskan ikatan yang selalu melekat di rambutnya, lalu menggerai rambut panjangnya tersebut. Ia bergaya di depan cermin sambil tersenyum manis. Namun, tanpa ia sadari ternyata Tuan Malik sudah berada di depan pintu kamar.
Arini yang sedang asik melenggak-lenggok, bahkan tidak sadar bahwa saat itu pintu kamarnya terbuka dan Tuan Malik sudah berdiri di depan pintu sambil memperhatikan Arini yang bergaya dengan lingerie barunya.
Cukup lama Tuan Malik memperhatikan kelakuan Arini sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia bersandar di daun pintu dengan tangan menyilang di dada. Hingga Arini merasakan ada yang aneh di ruangan itu. Ia merasa bahwa dirinya tengah diperhatikan.
Ia menghentikan aksinya kemudian memperhatikan sekelilingnya.
"Mas?!" pekik Arini setelah sadar bahwa Tuan Malik tengah memperhatikan dirinya sambil tersenyum.
"Maafkan aku, Mas! Maaf," ucap Arini sembari meraih selimut kemudian menyembunyikan tubuh seksinya dari pandangan Tuan Malik.
__ADS_1
...***...