
Tok ... tok ... tok!
Terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu depan kontrakan yang ditempati oleh Arini. Ketukan itu membuat ia tersentak kaget. Arini yang sedang asik memasak untuk makan siangnya nanti, segera menghentikan aktivitasnya. Ia bergegas mencuci tangan kemudian segera menuju pintu depan.
"Sebentar," ucap Arini seraya mengeringkan tangannya yang masih basah dengan menggunakan celemek yang menempel di tubuhnya.
Tak ada jawaban dari luar. Namun, suara ketukan tersebut tidak lagi terdengar. Orang yang sedang berdiri di balik pintu tersebut berhenti mengetuknya.
"Suci, ya? Ah, rasanya tidak mungkin. Biasanya Suci suka nyelonong masuk sambil berteriak memanggil namaku," gumam Arini dengan alis berkerut. "Apa mungkin Mas Hendra?"
Kini Arini berdiri tepat di depan pintu. Ia segera membuka pintu dan alangkah terkejutnya Arini setelah tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya.
"Tu-Tuan Malik?"
"Maaf, jika aku sudah mengganggu waktumu. Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan, jadi ... aku terpaksa menemuimu di sini," tutur Tuan Malik.
Masih seperti biasa. Tatapan lelaki itu terlihat dingin dan ekspresinya selalu datar. Hal itu terjadi bukan hanya di hadapan Arini, melainkan di depan semua wanita yang ada di dekatnya.
Entah kenapa Tuan Malik terlihat enggan berinteraksi dengan para wanita. Namun, jika sudah berada di samping mendiang Nyonya Arniz, lelaki itu akan terlihat sangat manis dan begitu menyenangkan.
Arini mundur beberapa langkah ke belakang sembari membuka pintu kontrakannya dengan lebih lebar. "Silakan masuk, Tuan. Maaf, jika rumahnya berantakan."
Tuan Malik mengangguk pelan. "Terima kasih."
__ADS_1
Arini menuntun Tuan Malik ke sofa yang ada di ruangan tersebut. "Silakan duduk, Tuan. Tuan mau minum apa? Teh, kopi, atau--"
"Terima kasih, Arini. Tidak usah repot-repot. Lagi pula aku baru saja minum bersama Pak Kosim sebelum aku ke sini," sela Tuan Malik sembari duduk di sofa.
Arini pun mengangguk pelan. Ia ikut duduk di sana dan menatap Tuan Malik dengan lekat. "Pak Kosim sudah bekerja lagi, Tuan?"
"Ya, baru beberapa hari yang lalu," jawab Tuan Malik.
"Syukurlah kalau begitu."
"Arini. Sebenarnya aku ke sini hanya ingin memberitahumu bahwa aku tidak bisa mengadakan acara pernikahan secara besar-besaran." Tuan Malik menundukkan kepalanya sejenak.
"Aku masih dalam masa berkabung dan rasanya aku tidak sanggup jika harus merayakan pernikahan kita dengan ...." Lelaki itu menghentikan ucapannya. Ia juga menggigit bibir bawahnya yang terlihat mulai bergetar. Agar Arini tidak melihat kesedihannya, Tuan Malik kembali menunduk menghadap lantai.
"Tidak apa, Tuan Malik. Aku mengerti, kok. Lagi pula aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu," jawab Arini dengan tulus.
Arini terdiam sejenak. Ada sesuatu yang ia lupakan, tapi entah apa itu. Arini mencoba mengingat-ingatnya hingga Tuan Malik kembali bicara.
"Sepertinya ada yang gosong. Apa kamu sedang memasak sesuatu, Arini?" tanya Tuan Malik sambil mengendus-endus aroma gosong yang berasal dari dapur Arini. Ia memperhatikan penampilan Arini saat itu dan Tuan Malik yakin bahwa wanita itu tengah melakukan aktivitasnya di dapur. Terbukti dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.
"Astaga! Ya, Tuhan!" pekik Arini. Tanpa mempedulikan Tuan Malik, Arini segera berlari ke dapur.
Karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Tuan Malik pun bergegas menyusul Arini dari belakang. Ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Tuan Malik benar adanya. Karena terlalu panas, api di kompor milik Arini menyambar minyak goreng di wajan penggorengan.
__ADS_1
Api tersebut menyala ke atas. Kurang lebih satu meter tingginya dan hampir menyambar plafon ruangan tersebut. Arini begitu syok melihat pemandangan itu. Ini pertama kalinya ia mengalami hal memalukan sekaligus menakutkan itu seumur hidupnya.
"Kamu punya karung goni?" tanya Tuan Malik dengan wajah panik menatap Arini yang masih terbengong-bengong melihat api yang keluar dari kompornya.
"Ada, sebentar saya ambilkan." Walaupun ketakutan, Arini tetap mencoba fokus dan tidak panik. Ia mengambil karung goni yang memang sudah tersedia di dalam lemari tersebut.
"Ini, Tuan!"
"Tolong, basahi benda itu," titah Tuan Malik sembari mencoba melepaskan kepala selang regulator dari tabung gas milik Arini. "Ya, Tuhan, semoga caraku ini benar!" gumam Tuan Malik yang juga ikut panik.
Setelah berhasil melepaskan regulator tersebut, Tuan Malik pun akhirnya bisa sedikit lebih lega karena api yang keluar dari kompor tersebut sudah mulai mengecil. Tepat di saat itu Arini datang menghampirinya dengan membawa karung goni yang sudah dibasahi.
"Ini bagaimana, Tuan?"
"Sini!" Tuan Malik menyambutnya kemudian menutupi nyala api tersebut dengan menggunakan benda itu.
"Huft!"
Baik Arini maupun Tuan Malik sama-sama menghembuskan napas lega.
"Terima kasih banyak, Tuan," ucap Arini sambil tersenyum kecut menatap Tuan Malik. Ia benar-benar malu karena kebodohannya tampak jelas di sini dan Arini yakin bahwa Tuan Malik pasti menganggapnya wanita yang paling ceroboh.
"Sama-sama." Tuan Malik tersenyum tipis.
__ADS_1
"Semoga aku tidak dipecat sebagai calon istrinya. Ya ampun, bodohnya aku!" gumam Arini dalam hati sambil mengelus tengkuknya.
...***...