
"Kita sudah selesai makan dan aku sudah kenyang. Sekarang berikan hadiah itu kepadaku," ucap Tuan Malik sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Arini.
"Ah, Mas tidak sabaran sekali." Arini meraih kotak itu kemudian memeluknya. "Sebenarnya aku pun sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Mas ketika mengetahuinya," lanjut Arini.
Perlahan Arini menyerahkan kotak tersebut kepada Tuan Malik dan Tuan Malik pun segera menyambutnya. Lelaki itu sangat penasaran dan saat ini ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
"Memang apa isinya?"
Tuan Malik melepaskan ikatan pita satin yang menghiasi kotak tersebut. Setelah pitanya terlepas, Tuan Malik pun segera membuka tutup kotak tersebut secara perlahan.
Ia melihat ke dalam kotak dengan alis yang saling bertaut. Ia bingung melihat banyaknya test pack yang ada di dalam kotak tersebut. Tuan Malik meraih salah satunya kemudian memperhatikannya dengan seksama.
"A-apa ini?" tanya Tuan Malik dengan terbata-bata.
"Menurut Mas itu apa?" tanya Arini balik, dengan netra yang mulai berkaca-kaca.
"I-ini test pack, 'kan? Ta-tapi punyanya siapa?"
"Ya, Mas. Ini test pack dan test pack ini milikku," jawab Arini sambil menitikkan air mata.
Tuan Malik tertegun untuk beberapa saat. Ia kembali memperhatikan test pack yang ada di tangannya dengan seksama. Ia melihat ada dua garis merah yang melintang di sana dan lelaki itu tahu apa artinya. Tangan Tuan Malik bergetar dan buliran bening itu mulai tampak di kedua netranya.
__ADS_1
"Apa artinya saat ini kamu ...." Tuan Malik menghentikan ucapannya kemudian menatap lekat Arini.
Arini mengangguk pelan. "Ya, Mas. Aku hamil."
Tuan Malik tersenyum sembari merentangkan tangannya. Arini bergegas bangkit dan segera menghambur ke pelukan lelaki itu. Tak terdengar sepatah kata pun yang keluar dari bibir Tuan Malik. Namun, dilihat dari caranya memeluk Arini saat itu, Tuan Malik sangatlah bahagia.
Saking bahagianya, lelaki itu tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa mengucap rasa syukur berkali-kali dalam hati. Walaupun selama ini Tuan Malik tampak pasrah dan tidak pernah menuntut hal itu. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, ia pun sebenarnya sangat mendambakan sosok mungil itu hadir dalam kehidupannya.
"Apa Mas senang?" tanya Arini sembari melepaskan pelukannya kepada Tuan Malik.
Arini memperhatikan ekspresi Tuan Malik dengan seksama. Ia sempat bingung karena lelaki itu sama sekali tak bicara sepatah katapun untuk mengungkapkan perasaannya saat itu.
Tuan Malik menyeka buliran bening yang ternyata sudah meluncur di kedua pipinya kemudian kembali menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada Arini.
"Tapi sebentar! Coba pukul aku, aku takut ini hanya mimpi." Tuan Malik meminta Arini untuk memukulnya.
Namun, alih-alih memukul lelaki itu, Arini malah memberikan sebuah kecupan hangat di pipi kanan Tuan Malik.
"Ciuman ini nyata 'kan, Mas?"
Tuan Malik kembali tersenyum kemudian mengangguk pelan. "Ya!"
__ADS_1
Mereka pun kembali berpelukan di dalam ruangan itu dengan disaksikan oleh ketiga pelayan dengan penuh rasa haru.
"Terima kasih, Arini. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan diberikan kesempatan untuk menjadi seorang Ayah di usiaku yang sudah tidak muda lagi," ucap Tuan Malik sembari melerai pelukannya bersama Arini.
"Siapa bilang Mas Malik itu sudah tua? Bagiku Mas itu masih muda, kok. Dan aku pun sama, aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku tengah hamil, Mas. Selama ini aku tidak pernah merasakan mual atau pusing seperti yang dikeluhkan oleh Ibu-Ibu hamil pada umumnya. Makanya aku sampai beli test pack sebanyak itu untuk menyakinkanku," tutur Arini sembari mengelus lembut kedua pipi Tuan Malik.
"Eh, sebentar! Beberapa minggu terakhir, aku merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhku. Terutama di bagian kaki. Kedua kakiku suka kram tanpa sebab. Aku sudah cek ke dokter, tetapi dokter bilang tidak ada masalah pada kakiku, semuanya normal. Dia bilang mungkin aku hanya kelelahan saja. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kehamilanmu?" ucap Tuan Malik dengan alis berkerut.
"Entahlah, tapi itu bisa saja terjadi, Mas. Mungkin baby-mu iseng pengen ngerjain Ayahnya," sahut Arini kemudian.
Tuan Malik tertawa pelan. Namun, tiba-tiba ia teringat akan mamang penjual nasi goreng yang sampai saat ini belum juga ia temukan.
"Arini sayang, apa kamu masih menginginkan nasi goreng buatan mamang?"
Arini mengangguk pelan kemudian terkekeh setelah sadar bahwa bukan dirinya lah yang menginginkan nasi goreng buatan mamang tersebut, tetapi bayi yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Baiklah, mulai hari ini aku akan minta Pak Kosim untuk mencari keberadaan si mamang sampai dapat!" ucap Tuan Malik dengan sangat serius.
"Takut aku ileran atau bayimu yang ileran?"
"Dua-duanya," sahut Tuan Malik.
__ADS_1
...***...