
"Siapa lelaki yang sedang bersama Arini? Sepertinya mereka begitu dekat," gumam Nyonya Arniz yang tengah memperhatikan kebersamaan Arini dan Hendra dari butiknya.
Suci yang saat itu sedang berdiri di samping Nyonya Arniz pun ikut memperhatikan kebersamaan mereka. "Jangan-jangan itu si Dodi, Nyonya. Suaminya Arini yang jahat itu," sahut Suci asal.
"Hush, kamu ini! Tidak mungkin lah lelaki itu suaminya. Mana mau Arini ketemu sama si Dodi yang jahat itu," sahut Nyonya Arniz dengan wajah menekuk.
Suci pun tertawa renyah. "Ah, benar juga."
Tidak terasa makan siang Arini dan Hendra pun berakhir. Hendra pamit dan kembali ke kediamannya, sementara Arini kembali ke butik.
Kedatangan Arini disambut oleh Suci dan Nyonya Arniz. Kedua wanita itu tampak mengulum senyum saat Arini memasuki butik. Arini menautkan alisnya melihat ekspresi mereka dan ia merasa ada yang aneh pada kedua wanita tersebut.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Arini heran.
"Heh, Arini. Siapa lelaki tampan itu? Jangan-jangan dia ... ehem-ehem," goda Suci kepada Arini.
"Jangan-jangan apa? Dia Mas Hendra, tetanggaku. Jangan pikirkan yang aneh-aneh, ya. Dia itu masih single dan dia itu seorang guru, mana mungkin dia mau sama aku yang tidak berpendidikan ini," jawab Arini sambil tertawa pelan.
"Eh, jodoh siapa tahu. Ya 'kan, Nyonya Arniz," sahut Suci seraya mencolek majikannya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan mereka. Nyonya Arniz tidak menjawab, ia hanya ikutan tersenyum.
"Aku tidak akan menolak siapapun yang akan menjadi jodohku nanti. Yang penting lelaki itu baik dan tidak akan main serong di belakangku" goda Arini sambil tertawa renyah.
__ADS_1
"Kalian ini ngerumpi aja kerjaannya. Sekarang saatnya bekerja. Ayo, sudah sana, kerja!" titah Nyonya Arniz yang mencoba menyudahi perbincangan kedua sahabatnya itu.
"Siap, Nyonya!" sahut Arini dan Suci secara bersamaan.
Waktu terus berlalu dan pelanggan butik Nyonya Arniz datang dan pergi silih berganti. Hingga seseorang wanita muda berusia 25 tahun (seusia Arini), memasuki tempat itu sambil menggandeng anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun.
Menyadari kedatangan wanita itu, Nyonya Arniz bergegas menghampirinya sambil tersenyum lebar.
"Putri! Cucu kesayangan Oma," ucap Nyonya Arniz sembari meraih tubuh bocah cantik itu kemudian menggendongnya.
"Bu," lirih wanita itu dengan wajah sendu menatap Nyonya Arniz.
"Kenapa lagi, Tia? Ada masalah lagi? Ini pasti ada hubungannya sama bisnisnya Toni lagi, iya?" tanya Nyonya Arniz dengan tatapan heran menatap wajah sendu Tia. Keponakan yang selama ini ia rawat dan sudah di anggap seperti anak kandungnya sendiri.
"Sebaiknya kita masuk ke ruangan Ibu, biar kita bisa bicara dengan leluasa," ucap Nyonya Arniz kemudian.
Sebelum Nyonya Arniz mengajak Tia memasuki ruang pribadi miliknya, wanita itu menghampiri Arini dan memintanya untuk menjaga Putri, anak perempuan Tia yang baru genap berusia 4 tahun tersebut.
"Arini, aku titip Putri dulu, ya. Tenang saja, dia pinter kok, gak nakal," ucap Nyonya Arniz sembari menyerahkan Putri kepada Arini.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Setelah menitipkan Putri kepada Arini, Nyonya Arniz pun segera mengajak Tia masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Sementara itu.
"Hai, Putri. Kenalkan nama tante, Arini. Putri bisa panggil Tante, Tante Arini," ucap Arini, mencoba mengajak bicara bocah cantik itu.
Ternyata benar, Putri adalah anak yang manis dan juga pintar. Ia bahkan tidak merasa sungkan kepada Arini walaupun sebenarnya mereka baru pertama kali bertemu.
"Hallo, Tante Arini. Namaku Putri Andini, usiaku 4 tahun dan aku Putri dari Toni Wijaya dan Tia Andini," sahut Putri dengan suara cadel khas anak-anak.
Arini sangat senang. Ia bertepuk tangan melihat Putri yang pandai bicara itu. "Wah, kamu pinter sekali! Tante senang berkenalan denganmu, Putri."
"Putri juga," jawabnya lagi.
Suci menghampiri Arini kemudian bicara dengan setengah berbisik kepada Arini. "Hmm, paling-paling Ibunya Putri ini mau minta uang lagi sama Nyonya Arniz."
Arini menoleh kepada sahabatnya itu dengan wajah heran. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Suci?"
Suci menghela napas berat. "Itu sudah sering terjadi, Arini. Kerjaan si Ayahnya Putri ini morotin uangnya Nyonya Arniz dengan dalih berbisnis. Entah bisnis apa, yang pasti bisnis bodong yang ujung-ujungnya bangkrut dan bangkrut lagi. Kasihan Nyonya Arniz, demi rasa sayangnya terhadap Tia, ia rela diporotin mantunya sendiri," tutur Suci lagi, masih dengan setengah berbisik agar Putri tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
"Kenapa bisa begitu?" Arini tampak bingung dan ia merasa kasihan kepada Nyonya Arniz jika cerita Suci itu benar.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Soalnya aku tidak ingin Nyonya Arniz makin sedih nantinya," jawab Suci.
...***...