Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 76


__ADS_3

"Suci, tunggu!" teriak Angga lagi.


Suci semakin panik karena Angga sudah begitu dekat dengannya. Suci menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya mata wanita itu tertuju pada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang dari arah kanan.


Suci yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, berlari ke arah mobil tersebut. Sang pengemudi mobil begitu terkejut karena tiba-tiba saja ada seorang wanita yang berlari ke arah mobilnya yang masih melaju.


Beruntung lelaki itu berhasil menginjak rem dengan cepat sambil menekan klakson mobilnya.


Tiiinnn!


"Awas!" pekik lelaki itu dengan wajah panik.


Ketika mobil itu sudah berhenti di hadapannya, Suci pun segera meminta pertolongan kepada seseorang di dalam mobil tersebut. Ia mengetuk-ngetuk kaca mobil sambil meminta tolong.


"Tuan, siapapun, tolong aku! Kumohon," lirih Suci.


Lelaki yang sedang duduk di depan kemudi tersebut segera membuka pintu dan keluar dari mobilnya. "Ada apa, Mbak?"


Mata Suci sempat membulat setelah mengenali lelaki yang keluar dari mobil tersebut. Namun, sayang lelaki itu tidak mengenali dirinya.


"Tolong aku, Mas! Lelaki itu ingin memperkosaku," lirih Suci sambil memegang erat handuknya agar tidak melorot.


Tepat di saat itu Angga tiba di sana. Angga tampak menyeringai menatap lelaki yang kini berada di sisi Suci.


"Jangan pernah ikut campur! Ini urusanku dengan wanita itu. Lagi pula dia itu istriku," ucap Angga kepada lelaki yang mencoba menyelamatkan Suci.


"Bohong, Mas. Lelaki itu bukan suamiku. Kami sudah bercerai dan kini dia ingin aku kembali melayaninya, aku tidak mau!" sahut Suci sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


Angga tertawa sinis. "Jangan pernah kamu percaya omongannya. Istriku itu sedikit kurang waras. Dia depresi setelah keguguran beberapa bulan yang lalu," sahut Angga, mencoba mengelabui lelaki itu.


Lelaki itu menoleh ke arah Suci dan memperhatikan ke dalam matanya. Ia bingung harus percaya kepada siapa dan setelah melihat jauh ke dalam mata wanita itu, ia pun akhirnya percaya pada Suci.


"Jangan mendekat!" titah lelaki itu sembari menyembunyikan Suci di belakang punggungnya. Angga yang tadinya berniat menjemput Suci, segera menghentikan langkahnya.


Angga kembali menyeringai menatap lelaki itu. "Oh, jadi kamu lebih memilih percaya pada wanita itu, ha? Baiklah, kalau begitu."


Angga berlari ke arah lelaki itu sambil mengarahkan tinjunya. Namun, lelaki itu ternyata lebih gesit dari Angga. Beberapa kali Angga meluncurkan tinjunya, tetapi tidak satu pun yang mengenai wajah dan tubuh lelaki itu.


"Kurang ajar!" Angga semakin kesal dan semakin beringas saja.


Lelaki itu pun tidak membiarkan Angga menyerangnya begitu saja. Ia pun meluncurkan sebuah kepalan tinjunya kepada Angga ketika Angga lengah. Kepalan tinju lelaki itu telak mengenai rahang Angga dengan keras dan membuatnya terjengkang ke tanah.


Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh lelaki yang menyelamatkan Suci tersebut. Ia memukul dan menendangnya hingga Angga pun akhirnya Angga menyerah dan memohon pengampunan.


"Sekarang pergilah dan jangan pernah ganggu dia lagi!" titah lelaki itu.


"Ba-baik!" Angga yang sudah tidak mampu melawan, mencoba bangkit kemudian dengan tertatih-tatih, pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian Angga, kini perhatian lelaki itu tertuju pada Suci yang berdiri di sampingnya. Wajah Suci masih terlihat memucat karena ketakutan dan tubuhnya pun masih bergetar hebat.


"Kamu tidak apa-apa, Mbak?" tanya lelaki itu.


Suci mengangguk pelan. "Terima kasih banyak, Mas."


"Mari, biar saya antar hingga ke rumahmu," ajak lelaki itu sembari menuntun Suci dan menjaganya. Ia takut Angga kembali kemudian mengganggu wanita itu lagi.

__ADS_1


"Sebaiknya aku ke rumah Arini saja, Mas. Aku akan menginap di sana," jawab Suci.


"Arini? Kamu mengenalnya?" tanya lelaki itu sambil tersenyum hangat menatap Suci.


"Dia sahabatku, Mas. Kami sama-sama bekerja di butik Zhanita Collection," sahut Suci dengan malu-malu sebab saat itu ia bahkan belum berpakaian sedikitpun.


"Oh," lelaki itu kembali tersenyum.


Setibanya di depan pintu kontrakan Arini, lelaki itu pun mengetuk pintu tersebut. Saat itu Arini tengah asik menghitung jumlah uang tabungannya, yang rencananya akan ia gunakan untuk membuka sidang perceraiannya dengan Dodi.


"Siapa, ya?" gumam Arini sembari menyimpan kembali uang tabungannya ke dalam lemari pakaiannya. Arini kemudian menghampiri pintu dan membukanya.


Betapa terkejutnya Arini setelah melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Apa lagi saat itu tubuh Suci hanya terbalut handuk.


"Suci? Mas Hendra?" ucap Arini dengan wajah heran menatap Suci dan Hendra secara bergantian.


"Arini," lirih Suci yang kemudian memeluk tubuh Arini dengan erat. Wanita itu terisak di dalam pelukannya.


Arini menatap lekat Hendra sambil bertanya kenapa, dengan isyarat bibir.


"Dia diganggu oleh seorang pria dan sekarang pria itu sudah pergi," jawab Hendra.


"Sebaiknya kita masuk," ajak Arini sembari mengajak Suci masuk ke dalam rumahnya. Sementara Hendra kembali ke jalan raya dan mengamankan mobilnya.


"Kamu kenapa, Suci? Mas Angga menganggumu lagi?" tanya Arini sambil menuntun Suci ke sofa ruang depan.


"Ya, Arini. Dia meminta uang dan ia juga ingin memperkosaku," lirih Suci di sela isak tangisnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2