Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 91


__ADS_3

Di tengah-tengah suasana haru, Bu Ria datang bersama si kecil Azkia. Melihat kedatangan wanita itu, Arini pun bergegas bangkit kemudian menghampirinya.


"Bu Ria, aku sangat merindukanmu," ucap Arini sembari memeluk tubuh wanita itu.


"Ibu juga, Arini."


Arini segera melerai pelukan mereka karena ia sadar bahwa saat itu si kecil Azkia masih berada di pelukan Bu Ria. Arini mengulurkan tangannya ke hadapan Bu Ria dan meminta si kecil tersebut untuk dia gendong.


"Boleh aku menggendongnya, Bu? Sebenarnya aku sangat merindukan si kecil ini."


Ya, tidak bisa dipungkiri olehnya. Ia sangat merindukan sosok Azkia yang selama ini sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Namun, karena rasa kecewanya terhadap Dodi dan Anissa yang begitu besar, ia terpaksa ikut mengacuhkan bayi tak berdosa tersebut. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Arini menolak melakukan itu.


"Tentu saja, Nak. Kenapa tidak?" Bu Ria menyerahkan Azkia kepada Arini dan membiarkan Arini melepaskan rindunya bersama bayi mungil itu.


Seakan mengerti, si kecil Azkia pun tampak begitu bahagia karena akhirnya ia bisa merasakan hangatnya pelukan Arini yang selama ini ia rindukan. Terdengar suara gelak tawa si kecil Azkia ketika Arini mengajaknya bermain dan bercanda.


Sementara Bu Nining hanya terdiam sambil memperhatikan kebersamaan Arini dan si kecil Azkia. Bu Ria duduk di samping Bu Nining kemudian merangkul pundaknya.


"Ibu tidak ingin bermain bersama Azkia?" tanya Bu Ria.

__ADS_1


Bu Nining menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Bu Ria. Maafkan aku, tapi untuk saat ini aku masih belum bisa menerima kehadiran Azkia di kehidupanku," jawab Bu Nining.


Bu Ria hanya bisa tersenyum getir. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Bu Nining saat ini. Namun, biar bagaimana pun rasanya tetap tidak patut melimpahkan kesalahan orang tuanya kepada bayi yang malang itu. Seandainya Azkia bisa memilih, mungkin ia pun tidak ingin dilahirkan dari rahim seorang Anissa.


"Maafkan aku, jika aku lancang, Bu Ria. Tapi, apa keluarga dari pihak Anissa tidak ada yang menginginkan Azkia?" tanya Arini. Ia duduk kembali di sofa tersebut, masih bersama Azkia di pelukannya.


Bu Ria menggelengkan kepalanya perlahan. "Ibu dan Hendra sudah menemui keluarga Anissa dan ternyata mereka sama sekali tidak menginginkan Azkia. Mereka bahkan dengan senang hati memberikan Azkia untuk Ibu rawat," jawab Bu Ria.


"Syukurlah kalau begitu." Arini terdiam sejenak sambil menatap kedua biji manik nan indah berwarna hitam pekat tersebut. Bibir mungil itu terus saja tersenyum ke arahnya seolah mengatakan 'aku merindukanmu, Bu'.


"Bu Ria, jika nanti aku merindukan Azkia, bolehkah aku menemuinya? Biar bagaimana pun, aku tidak pernah bisa memungkiri bahwa Azkia pernah menjadi bagian yang paling berharga dalam hidupku, Bu," tutur Arini.


Bu Ria tersenyum kemudian mengelus lembut pundak Arini. "Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untukmu, Arini. Jika kamu merindukan Azkia, tinggal datang saja. Sekalian menjengukin Ibu dan Hendra," goda Bu Ria.


***


Waktu pun terus berlalu dan tak terasa matahari pun sudah kembali ke persembunyiannya. Arini pamit kepada Bu Ria dan Bu Nining. Tidak lupa si kecil Azkia yang saat ini tampak murung. Seolah tahu bahwa sebentar lagi Arini akan kembali meninggalkan dirinya.


"Ibu pulang dulu, ya, Sayang. Tapi, Azkia tidak perlu khawatir. Ibu Arini pasti kembali dan mengunjungi Azkia lagi," ucap Arini sebelum masuk ke dalam mobil Hendra.

__ADS_1


"Ya, Bu! Aku akan selalu menunggumu," jawab Bu Ria, menirukan suara anak kecil.


Setelah puas mencium kedua pipi gembul Azkia, Arini pun segera masuk ke dalam mobil Hendra.


"Dah, Bu! Dah, Azkia!" seru Arini sembari melambaikan tangannya kepada Bu Nining, Bu Ria dan Azkia yang semakin menjauh dari pandangannya.


Dari kejauhan Arini melihat Azkia yang menangis, menangisi kepulangan Arini. Sementara Bu Ria tampak sibuk menenangkannya.


"Mas Hendra, aku salut pada kalian. Mas sama Bu Ria," ucap Arini ketika mereka sudah di jalan menuju kontrakannya.


Hendra terkekeh pelan. "Salut kenapa?"


"Kalian begitu baik dan hati kalian begitu tulus. Ngomong-ngomong, bagaimana caranya agar aku bisa sama seperti kalian. Jujur, aku masih belum bisa bersikap seperti itu. Buktinya, dulu aku pernah kesal dan marah terhadap Azkia. Padahal aku sendiri sadar, bahwa bayi mungil itu sama sekali tidak berdosa," tutur Arini.


"Ah, kamu berlebihan, Arini. Ya, wajarlah kamu sempat merasa kesal kepada Azkia karena yang dilanda masalah besar saat itu adalah keluargamu," jawab Hendra sambil tertawa pelan.


"Ya, sih. Kamu benar, Mas." Arini melirik Hendra sambil tersenyum tipis. "Siapa pun yang menjadi pasanganmu kelak, dia adalah wanita yang sangat beruntung," lanjut Arini.


"Oh, ya?" Hendra mendelik sambil tersenyum tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ya," jawab Arini lagi.


...***...


__ADS_2