
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya, Mas. Cincin ini terlalu berharga untuk diberikan kepadaku. Sebaiknya Mas simpan saja lagi dan berikan kepada sosok wanita yang memang pantas untuk mendapatkannya," lirih Arini sembari mendorong lagi kotak perhiasan berbentuk hati tersebut kepada Hendra.
"Tidak, Arini. Ambil saja," jawab Hendra yang kemudian kembali mendorong kotak perhiasan itu.
"Tidak, Mas Hendra. Maafkan aku, tapi aku akan merasa sangat berdosa jika menerima cincin ini," Arini menundukkan kepalanya. Saat itu ia benar-benar merasa sedih dan merasa tidak nyaman karena sudah menolak Hendra.
Hendra pun akhirnya tersenyum kemudian menyimpan kembali cincin itu ke dalam saku celananya. "Baiklah jika itu maumu. Aku tidak akan memaksamu lagi, Arini. Tapi jangan lupa untuk mendoakan aku ya, agar cincin ini secepatnya menemukan owner-nya."
Arini mengangkat kepalanya kemudian membalas senyuman Hendra. "Ya, aku akan selalu berdoa yang terbaik untuk kamu, Mas Hendra. Dan semoga cincin itu secepatnya menemukan pemiliknya," jawab Arini.
"Terima kasih. Ehm, ya sudah kalau begitu. Sebaiknya kita pulang. Apa kamu jadi ikut denganku?" Hendra merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Ya, tentu saja, Mas. Aku sangat merindukan Azkia dan Bu Ria. Bu Nining juga," jawab Arini.
"Kalau begitu, Mari!" ajak Hendra.
Setelah membayar restoran tersebut, mereka pun segera kembali ke kediaman Hendra. Tidak ada yang berubah dari Hendra, walaupun lelaki itu baru saja mendapatkan kekecewaan yang begitu besar. Namun, ia tetap bisa bersikap hangat kepada Arini, sama seperti biasanya. Ia masih bisa bercanda dan tertawa lepas bersama Arini, walaupun sebenarnya ia sedang patah hati karena penolakan itu.
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
Di sebuah gudang yang tidak terpakai, di mana terdapat beberapa orang laki-laki sedang duduk mengelilingi sebuah meja. Wajah mereka tampak tegang sambil menatap beberapa lembar kartu yang sedang menempel di tangan mereka.
Di atas meja, tampak sejumlah uang menghambur di tengah-tengahnya. Tidak lupa, minuman memabukkan itu sebagai pelengkap permainan mereka pada hari itu.
Plak!
Seorang laki-laki melemparkan sebuah kartu ke atas meja sambil menyeringai menatap satu-persatu wajah lelaki yang sedang bermain kartu bersamanya. Seringaian lelaki itu seakan menggambarkan bahwa permainan itu akan segera dimenangkan olehnya. Jika ia terlihat semringah, berbeda dengan lainnya. Para lelaki itu tampak cemberut dan seakan sudah putus asa dengan permainan mereka saat itu.
"Sudahlah, kalian menyerah saja!" celetuknya sembari meraih sebuah gelas kecil yang berisi minuman memabukkan itu kemudian menenggaknya hingga tak bersisa setetes pun.
"Ya, ya! Mungkin hari ini memang harimu, Angga! Jadi berbangga lah," kesal salah satu dari mereka sambil melemparkan seluruh kartunya ke atas meja.
Baru saja Angga selesai memasukkan semua uang tersebut ke dalam saku jaketnya, tiba-tiba beberapa orang polisi masuk dan menggerebek mereka di tempat itu.
"Angkat tangan dan jangan bergerak!" titah salah seorang anggota polisi yang ditugaskan mengepalai penggerebekan tersebut. Ia mengacungkan sebuah senjata kepada para lelaki itu dan hal itu berhasil membuat mereka ketakutan.
Para lelaki itu mengangkat tangan mereka ke atas dan tampak pasrah. Termasuk Angga, ia pun ikut mengangkat tangannya dan membiarkan anggota polisi tersebut mengamankan dirinya.
"Ikut kami ke kantor. Kami punya surat perintah penangkapan untukmu. Sekarang, jalan!" titah anggota polisi tersebut sambil mendorong tubuh Angga hingga ke luar dari tempat tersebut. Bukan hanya Angga, teman-temannya pun ikut diamankan oleh para anggota polisi tersebut karena permainan judi mereka.
__ADS_1
Ketika sudah berada di luar gudang, Angga mulai gelisah. Di dalam pikirannya saat itu hanya satu. Bagaimana caranya agar ia bisa kabur dari para anggota polisi tersebut.
"Aku harus kabur dari sini, bagaimana pun caranya!" gumam Angga dalam hati.
Angga melirik kiri dan kanan melalui sudut matanya. Mencoba mencari titik aman di mana ia bisa kabur dan lari dari cengkeraman mereka. Hingga akhirnya Angga merasa bahwa ia sudah memiliki celah untuk kabur. Di saat para polisi sedang sibuk memasukkan teman-temannya ke dalam mobil, Angga berlari dengan cepat dan meninggalkan tempat itu.
"Hei, jangan lari! Atau kau kami tembak!" teriak Pak Polisi.
Namun, karena Angga tidak menggubris peringatan dari Polisi tersebut, akhirnya sebuah timah panas pun meluncur dengan cepat dan mengenai betis Angga.
Dorrr!
"Akhhh!" pekik Angga, bersamaan dengan jatuhnya ia ke tanah sambil meringis kesakitan.
"Ampun! Ampun!" lirih Angga dengan posisi meringkuk memeluk betisnya yang tertembus sebuah timah panas. Darah segar terus mengucur dari luka tembak di kakinya.
"Makanya jangan bandel!" kesal salah satu anggota polisi sembari membantunya bangkit kemudian mencoba menghentikan pendarahan di kaki Angga.
...***...
__ADS_1