Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 122


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


"Hendra, sepertinya Suci menyukaimu." Tiba-tiba saja Bu Ria memecah keheningan di dalam mobil yang kini melaju memecah jalan raya.


Hendra terperanjat. Ia terkekeh pelan mendengar celetukan Ibunya. "Kata siapa, Bu?"


"Suci siapa?" sela Bu Nining yang ternyata juga kepo mendengar percakapan Ibu dan anak itu.


"Suci yang tadi, Bu Nining. Yang tadi ditempelin Azkia," jawab Bu Ria sambil tersenyum tipis.


"Oh, wanita itu. Ya, menurutku juga begitu. Lihat saja dari cara dia menatap Hendra," sambung Bu Nining.


"Nah, kan. Ternyata bukan cuma Ibu yang berpikiran seperti itu. Bu Nining pun berpikiran yang sama seperti Ibu," ucap Bu Ria.


Hendra hanya tertawa menanggapi ucapan sang Ibu. Ia terus fokus pada kemudinya dan mendengarkan ocehan kedua wanita yang duduk di belakangnya.


"Kalau Ibu 'sih setuju aja, Hen. Karena menurut Ibu Suci wanita yang baik dan juga sangat keibuan. Ibu yakin, ia pasti bisa merawat Azkia dengan baik, sama seperti Arini," tutur Bu Ria.


"Ish, Ibu apaan 'sih." Hendra kembali terkekeh.


"Ibu serius loh, Hen! Lagi pula kamu itu sudah tua, kapan lagi kamu akan menikah? Masa nunggu Ibu koit, yang benar saja," celetuk Bu Ria yang membuat Bu Nining pun ikut tertawa mendengarnya.


"Kan, Bu Nining. Saya gak salah ngomong, kan?" Bu Ria minta dukungan dari Bu Nining untuk meyakinkan Hendra.


Bu Nining mengangguk. "Iya, Nak Hendra. Sebaiknya dengarkan apa kata Ibumu," sambung Bu Nining.


"Ya, tapi jangan bilang aku tua juga, Bu. Usiaku baru 28 tahun. Aku 'kan jadi malu kalau dibilang tua," sahut Hendra sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah merona malu.


"Ya, tua lah. Seusia kamu orang-orang sudah pada punya anak, lah kamu masih betah nge-jomblo," goda Bu Ria.

__ADS_1


Hendra makin tergelak. "Ya ampun ternyata Ibu juga tahu istilah jomblo rupanya. Memangnya jomblo itu seperti apa sih, Bu?"


"Ya, seperti kamu itu lah!"


"Ampun, Ibu." Hendra menghentikan tawanya. "Baiklah, nanti akan kupikirkan lagi."


"Memikirkan apa?"


"Ya, soal pendamping hidup lah, Bu. Apa lagi?"


"Ya, baguslah."


Sementara itu.


Karena tidak ada acara honeymoon sama seperti pengantin baru pada umumnya. Tuan Malik memilih mengajak Arini pulang ke rumahnya setelah acara resepsi berakhir.


Di saat ia masih mempersiapkan air hangat untuk Tuan Malik, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Arini bergegas menerima panggilan itu yang ternyata panggilan dari Suci, sahabatnya.


"Ya, Ci. Ada apa?" tanya Arini sambil duduk di tepian bath up.


"Arini! Tolong aku ...." Terdengar dari nada bicaranya, saat itu Suci sedang panik.


"Kamu kenapa, Ci? Kok, panik begitu?"


"Rin, aku keceplosan! Mulutku benar-benar di luar kendali ketika berada di hadapannya!" jerit Suci lagi.


"Apaan 'sih, Ci? Aku tidak mengerti dan jangan buat aku takut," sahut Arini yang juga ikut cemas.


"Rin, tadi di acara pernikahanmu, aku nekat menyatakan cinta kepada Mas Hendra!" pekiknya.

__ADS_1


"Apa?!" Arini bangkit dari posisinya. Ia tertawa lepas menertawakan Suci.


"Ish, sahabat apaan kamu ini! Aku lagi setengah mati menahan malu, kamu malah menertawakan aku!" kesalnya.


"Ehm, ok, baiklah. Terus apa jawaban Mas Hendra?" Arini menghentikan tawanya dan mencoba bicara dengan serius.


"Dia tidak menjawab. Mas Hendra hanya tersenyum saat menatapku. Aku rasa Mas Hendra menganggapku sudah gila, deh."


Arini kembali tergelak. "Ya, ampun. Tidak mungkin lah, Ci. Jangan menyerah begitu, dong. Terus berjuang dan dapatkan cinta Mas Hendra hingga tetes darah penghabisan!"


"Gila!" umpat Suci sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lah, trus sekarang maunya seperti apa?"


"Eh, ada pesan chat dari Mas Hendra. Udah dulu ya, Rin. Aku penasaran dia mau bilang apa padaku. Apa dia ingin bilang bahwa aku adalah wanita paling gila di dunia ini," ucap Suci.


"Ya, ampun! Kamu ada-ada aja, Ci." jawab Arini.


"Ya, sudah. Bye dulu, Arini!"


Suci memutuskan panggilannya bersama Arini kemudian mengecek pesan chat yang dikirimkan oleh Hendra kepadanya.


"Ya, Tuhan! Aku gugup," gumam Suci sembari membuka aplikasi pesan chat berwarna hijau tersebut.


[Ci, bisa kita bertemu nanti malam? Ada yang ingin aku bicarakan padamu.]


"Eh, apa yang ingin dia bicarakan, ya? Astaga, aku penasaran sekali."


...***...

__ADS_1


__ADS_2